ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 60 Juni 2026
Dari Paparan ke Pengendalian:
Peran School Climate sebagai Fondasi Regulasi Diri
dalam Menghadapi Distraksi Digital pada Siswa dan Siswi
Oleh
Amru Sazulhaq
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara siswa belajar. Akses informasi kini terasa jauh lebih mudah dan cepat. Di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan tantangan baru berupa distraksi digital yang semakin kompleks. Penggunaan smartphone, media sosial, serta berbagai platform digital kerap mengalihkan fokus siswa dari kegiatan belajar. Akibatnya, konsentrasi menurun dan performa akademik ikut terdampak. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan faktor individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan belajar, terutama school climate yang turut membentuk perilaku dan kemampuan regulasi diri siswa.
Distraksi digital berlangsung melalui proses yang cukup sistematis, dimulai dari munculnya stimulus digital, kemudian terjadi pergeseran perhatian, meningkatnya beban kognitif, hingga akhirnya kemampuan regulasi diri menurun dan berdampak pada performa akademik (Dariyono & Rizky, 2026). Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan self-regulated learning (SRL) menjadi sangat penting untuk menghadapi gangguan tersebut. Namun, self-regulated learning tidak terbentuk secara otomatis, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, salah satunya adalah school climate.
School climate dapat dipahami sebagai kualitas dan karakter kehidupan di lingkungan sekolah yang mencakup hubungan sosial, nilai, norma, serta praktik pembelajaran. Cohen dkk. (2009) mendefinisikan school climate sebagai pola pengalaman yang mencerminkan nilai, hubungan interpersonal, dan struktur organisasi dalam lingkungan sekolah. School climate yang positif biasanya ditandai dengan rasa aman, hubungan yang suportif, serta lingkungan yang mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Sebaliknya, school climate yang kurang baik dapat menghambat perkembangan akademik maupun sosial siswa.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa school climate memiliki hubungan yang signifikan dengan self-regulated learning. Ma’ruf dkk. (2017) menemukan adanya korelasi positif antara school climate dan self-regulated learning dengan nilai r = 0,725 serta kontribusi sebesar 52,5% terhadap regulasi diri siswa. Angka ini mengindikasikan bahwa lebih dari setengah kemampuan regulasi diri siswa dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekolah. Artinya, semakin baik school climate, semakin tinggi pula kemampuan siswa dalam mengelola proses belajarnya.
School climate juga berperan dalam membentuk keyakinan diri akademik yang berdampak pada pencapaian belajar. Zysberg dan Schwabsky (2020) menunjukkan bahwa dimensi school climate, seperti hubungan interpersonal dan rasa memiliki, memberikan pengaruh positif terhadap self-efficacy siswa. Hal ini kemudian berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik. Lingkungan yang suportif tidak hanya membuat siswa merasa nyaman saat belajar, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri mereka dalam menghadapi tantangan akademik, termasuk distraksi digital.
Dalam cakupan yang lebih luas, school climate juga berkaitan dengan pembentukan karakter siswa. Isnaini dan Fanreza (2024) menegaskan bahwa lingkungan pendidikan yang baik dan menyenangkan sangat penting untuk membentuk karakter dan perilaku siswa secara berkelanjutan. Lingkungan yang positif membantu siswa mengembangkan disiplin, tanggung jawab, serta kontrol diri yang kuat, yang semuanya merupakan bagian penting dari self-regulated learning.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa school climate yang positif mampu mendorong kreativitas dan keterlibatan siswa. Hoffmann dkk. (2025) menemukan bahwa lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan inklusif memiliki pengaruh signifikan terhadap sikap siswa terhadap kreativitas dan perilaku belajar. Hal ini memperlihatkan bahwa school climate tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan potensi siswa secara menyeluruh.
Dalam pembelajaran digital, kemampuan regulasi diri menjadi semakin krusial. Andriyani dkk. (2026) menemukan bahwa meskipun siswa sudah memiliki tingkat self-regulated learning yang cukup baik, masih terdapat kelemahan dalam manajemen waktu dan pengendalian distraksi. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan lingkungan, termasuk peran guru dan sistem pembelajaran, sangat dibutuhkan untuk memperkuat kemampuan regulasi diri siswa.
Guru juga memegang peran penting dalam membangun regulasi diri melalui pemanfaatan teknologi yang tepat. Fahrni dkk. (2025) menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital yang disertai strategi seperti scaffolding, feedback, dan coaching dapat meningkatkan self-regulated learning siswa secara signifikan. Artinya, integrasi teknologi dalam pembelajaran perlu diimbangi dengan pendekatan pedagogis yang mendukung regulasi diri.
Berdasarkan berbagai temuan tersebut, dapat dipahami bahwa school climate memiliki peran strategis dalam membantu siswa menghadapi distraksi digital melalui penguatan self-regulated learning. Lingkungan sekolah yang positif, suportif, dan terstruktur mampu menciptakan kondisi yang mendorong siswa menjadi lebih disiplin, mandiri, serta mampu mengelola proses belajarnya dengan baik. Karena itu, upaya mengatasi distraksi digital tidak bisa hanya berfokus pada individu siswa, tetapi juga perlu melibatkan perbaikan sistem dan lingkungan pendidikan secara menyeluruh. Ketika school climate berhasil diciptakan secara kondusif, siswa tidak hanya mampu menghadapi distraksi digital, tetapi juga berkembang menjadi pembelajar yang mandiri, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Referensi
Andriyani, S., Anam, S., & Nugroho, H. A. (2026). Self-regulated learning in the digital era: Analyzing students' experiences with Moodle in English language learning. Advances in Information Systems, 7(1), 833–841. https://doi.org/10.62754/ais.v7i1.937
Cohen, J., McCabe, E. M., Michelli, N. M., & Pickeral, T. (2009). School climate: Research, policy, teacher education and practice. Teachers College Record, 111(1), 180–213. https://doi.org/10.1177/016146810911100108
Dariyono, & Rizky, M. F. (2026). Digital distraction pada mahasiswa: Implikasi untuk desain pembelajaran dan kurikulum pendidikan tinggi. Jurnal Sains Student Research, 4(1), 15–22. https://doi.org/10.61722/jssr.v4i1.7335
Fahrni, D. D. D., Iten, G., Prasse, D., & Hascher, T. (2025). Teachers’ practices in the use of digital technology to promote students’ self-regulated learning and metacognition: A systematic review. Teaching and Teacher Education, 165, 105150. https://doi.org/10.1016/j.tate.2025.105150
Hoffmann, J. D., Ivcevic, Z., & Castillo Gualda, R. (2025). School climate and students’ attitudes toward creativity. Thinking Skills and Creativity, 58, 101880. https://doi.org/10.1016/j.tsc.2025.101880
Isnaini, H., & Fanreza, R. (2024). Pentingnya pendidikan karakter di sekolah. Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 2(4), 279–297. https://doi.org/10.61132/semantik.v2i4.1130
Ma’ruf, S. F., Muwaffiqillah, M., & Burhani, M. I. (2017). Pengaruh Dukungan Sosial Keluarga Dan Iklim Sekolah Terhadap Self Regulated Learning Siswa. Happiness: Journal of Psychology and Islamic Science, 1(2), 97–109. https://doi.org/10.30762/happiness.v1i2.333
Zysberg, L., & Schwabsky, N. (2020). School climate, academic self-efficacy and student achievement. Educational Psychology. https://doi.org/10.1080/01443410.2020.1813690
