ISSN 2477-1686 

Vol.2. No.11, Juni 2016

 

Homoseksual: Suatu Bentuk Ketidakmatangan pada Remaja

 

Angga Hermawan

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

 

Masa remaja merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang diawali sekitar umur 13 hingga 18 tahun yang biasa disebut sebagai tahap transisi. Sama seperti tahap perkembangan lainnya, fase remaja memiliki ciri-ciri yang khas yaitu pencarian identitas diri.

Identitas Diri Remaja

Pencarian identitias diri merupakan konflik terpenting dalam perkembangan remaja. Harlock (2013) menjelaskan bahwa tahap perkembangan remaja memiliki efek langsung terhadap sikap, perilaku dan tahapan perkembangan selanjutnya. Setiap keputusan yang diambil oleh remaja dalam pencarian identitas diri dapat langsung berakibat pada sikap dan perilaku maupun pada perkembangan selanjutnya. Hal tersebut didukung oleh teori perkembangan dari Erikson (Feist and Feist, 2014) bahwa identitas diri ini merupakan hal yang sangat penting pada remaja karena akan menjawab pertanyaan “siapa saya”. Pencarian identitas diri juga menentukan nilai dan ideologi yang cenderung menetap pada perkembangan selanjutnya. Nilai dan idiologi ini akan menjadi dasar bagi remaja untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan.

Pencarian identitas diri pada remaja bersumber pada dua hal yaitu hasil perkembangan sebelumnya dan nilai dari teman sebaya (Erickson dalam Feist and Feist, 2014). Masa anak-anak, sebagai tahapan perkembangan sebelum remaja, adalah masa yang menghasilkan pola dasar dalam perkembangan kepribadian  dan minat pada remaja. Pengaruh teman sebaya sangat penting dalam membentuk konsep, nilai dan ideologi pada remaja. Pembentukan konsep tersebut diambil dari konsep yang ada pada kelompoknya. Harlock (2003) menjelaskan bahwa pola kepribadian pada remaja mencerminkan konsep kelompok terhadap dirinya. Remaja cenderung mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diterima dan diakui oleh kelompoknya. Hal ini disebabkan karena remaja secara emosional lebih dekat dengan teman sebaya.

Kedekatan remaja dengan teman sebayanya berasal dari perasaan yang sama dalam merasakan kebingungan akan identitas diri. Remaja melihat diri sendiri dan lingkungan berdasarkan keinginan mereka. Hal ini menyebabkan remaja menjadi tidak realistis dan memiliki tingkat emosi yang tinggi. Penolakan dari teman sebaya pun merupakan sumber stress terbesar pada remaja (Platt, 2013). Sangat dimungkinkan, remaja cenderung mengambil keputusan yang salah karena pengaruh teman sebaya. Hal tersebut pada akhirnya akan sangat berdampak besar terhadap keputusannya dalam pembentukan konsep diri. Namun bagaimana jika individu remaja merasa gagal dalam menemukan identitas diri?

Kegagalan Menemukan Identitas Diri pada Remaja

Erickson (Feist and Feist, 2014) mengatakan bahwa apabila seorang remaja merasa gagal mencapai identitas diri, mereka akan melakukan penyangkalan peran yang tercermin dalam perilaku sosial seperti menolak peran seksual yang diakui, perilaku anti sosial dan agresif, penyalahgunaan zat seperti alkohol dan narkotika, dan putusnya hubungan keluarga.

Memahami konsep tersebut dan melihat fenomena yang sedang hangat diperbincangkan, salah satu bentuk penyangkalan peran pada remaja yang menjadi bahasan menarik adalah penolakan peran seks yang diakui oleh masyarakat. Penolakan peran seks ini akan mengarah kepada minat dan perilaku seksual yang ditunjukkan oleh remaja. Apabila individu dalam fase remaja memiliki pola dasar kepribadian tentang konsep seksual yang tidak tepat dan melakukan penyangkalan peran seksual, maka akan berdampak pada perubahan orientasi seksual seperti homoseksual, biseksual dan transgender.

Tidak seperti di negara-negara barat, di Indonesia perubahan orientasi seksual individu masih belum dapat diterima dengan baik. Hal ini dikarenakan Indonesia masih sangat memegang teguh prinsip heteroseksual yang mengakui dan mengesahkan orientasi seksual dengan lawan jenis. Namun, tidak dipungkiri, perubahan orientasi seksual ini sudah mulai menjangkiti kaum muda Indonesia.

Penyebab Perubahan Orientasi Seksual Remaja

Apa yang menjadi penyebab perubahan tersebut? Sebagaimana konsep yang sudah dikemukakan di atas, perubahan orientasi seksual pada remaja dapat disebabkan karena ketidakmatangan dalam mengambil keputusan. Hurlock (2003) mengungkapkan bawah remaja cenderung berpikir secara irasional sehingga mereka dapat salah dalam mengambil keputusan. Ketika remaja memutuskan untuk merubah orientasi seksualnya dan menjadikan keputusan tersebut sebagai suatu konsep diri, maka dapat dikatakan perubahan tersebut adalah bentuk ketidakmatangan pada fase perkembangan remaja.

Remaja mengalami perubahan orientasi seksual lebih tinggi 190% daripada remaja yang tidak melakukan perubahan orientasi seksual dalam hal penyalahgunaan obat (Marshal, 2008). Selain itu, perubahan orientasi seksual remaja juga disebabkan oleh penyalahgunaan zat (Seil, 2014).

Dalam hal ini peran orang tua dan lingkungannya sangatlah penting untuk membantu pembentukan konsep seksual pada remaja. Pembentukan konsep seksual sudah dapat dimulai pada saat individu berusia anak-anak. Selain memberikan asosiasi yang tepat mengenai konsep seksual, tindakan kekerasan juga merupakan faktor penentu orientasi seksual. Roberts (2013) menemukan bahwa tindakan kekerasan pada anak seperti penelantaraan anak, pelecehan seksual dan pemberian hukuman yang berlebihan dapat membentuk konsep seksual yang salah.

Pentingnya Peran Orang Tua dan Lingkungan dalam Perkembangan Remaja

Lingkungan memiliki peran penting dalam perkembangan remaja. Remaja akan memilih teman yang memiliki nilai sama, dapat mengerti, membuatnya merasa aman dan memepercayakan masalah-masalah pribadi. Oleh karena itu lingkungan harus dapat membuat situasi yang aman dan dapat dipercaya oleh remaja untuk menceritakan masalah pribadi. Selain itu, aturan-aturan terhadap perilaku remaja dalam mengekspresikan dirinya harus diberlakukan secara jelas dan tegas. Dengan cara tersebut remaja akan lebih terbuka pada orang tua dan lingkungan sehingga orang tua dan lingkungan dapat mengarahkan remaja untuk membentuk konsep diri yang baik.

 

Referensi:

Feist, J. Feist, G. J. 2014. Teori Kepribadian Edisi Tujuh Buku Satu. Jakarta : Salemba Humanika.

Sarwono, S.W. 2014. Psikologi Lintas Budaya. Jakarta : Raja Grafindo.

Hurlock, E.B. 2003. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

Platt, B. Kadosh, K.C. Lau, J.Y.F. 2013. The Role Peer Rejection in Adolescent Depression. Journal of Depression and Anxiety. Oxford University : Wiley Periodicals. doi : 10.1002/da.22120.

Marshal, M.P. Friedman, M.S. Stall, R. 2008. Sexual Orientation and Adolescent substance use : a meta-analysis and methodological review. Journal of Addiction. Vol 103 : 546 - 556. Western Psychiatric Institute and Clinic. doi : 10.1111/j.1360-0443.2008.02149.x.

Seil, K.S. Desai, M.M. Smith, M.V. Sexual Orientation, Adult Connectedness, Substance Use, and Mental Health Outcomes Among Adolescents : Finding From the 2009 New York City Youth Risk Behaviour Survey. American Journal of Public Health. Vol 104 : 1950 - 1956. American Research and Practice. doi : 10.2105/AJPH.2014.302050.

Roberts, A.L. Glymour, M.M. Koenen, K.C. 2013. Does Maltreatment in Childhood affect Sexual Orientation in Addulthood?. Journal of Sexual Behaviour. Vol 42 : 161 - 171. Springer Science and Business Media. doi : 10.1007/s10508-012-0021-9.