ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 03 Februari 2020

Melatih Kepekaan Diri dengan Komunikasi Non Verbal

Oleh

Kartika Walupi dan Endah Carina Saragih

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

Manusia sebagai individu ternyata tidak mampu hidup sendiri yang dalam menjalani kehidupannya akan senantiasa bersama dan bergantung pada manusia lainnya. Manusia saling membutuhkan dan harus bersosialisasi dengan manusia lain. Hal ini disebabkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memenuhinya sendiri. Ia akan bergabung dengan manusia lain untuk membentuk kelompok-kelompok dalam rangka pemenuhan kebutuhan dan tujuan hidup. Dalam hal ini manusia sebagai individu memasuki kehidupan bersama dengan inidividu lainnya atau interaksi. Interaksi ini disebut dengan komunikasi. Dalam praktiknya komunikasi terbagi atas 2 jenis yaitu komunikasi verbal dan non verbal. Dalam proses komunikasi emosi termasuk dalam prosesnya kondisi emosional manusia dapat dilihat dari perkataan, gerak tubuh, ekspresi wajah. Kepekaan dalam mengenali ekspresi wajah merupakan salah satu kunci sukses dalam berkomunikasi non verbal karena tidak semua orang mampu peka mengenali ekspresi wajah orang lain, untuk itu dibutuhkan kemampuan interpersonal yang baik dalam kunci sukses komunikasi non verbal.

Melalui komunikasi nonverbal kita bisa mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia sedang bahagia, marah, bingung, atau sedih. Kesan awal kita mengenal seseorang sering didasarkan pada perilaku nonverbalnya, yang mendorong kita untuk mengenal lebih jauh. Komunikasi nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Pesan-pesan nonverbal sangat berpengaruh terhadap komunikasi. Pesan atau simbol-simbol nonverbal sangat sulit untuk ditafsirkan dari pada simbol verbal. Bahasa verbal sealur dengan bahasa nonverbal, contoh ketika kita mengatakan “ya” pasti kepala kita mengangguk. Komunikasi nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena reaksinya spontan. Komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Komunikasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi nonverbal meliputi semua aspek komunikasi selain kata-kata sendiri seperti bagaimana kita mengucapkan kata-kata (volume), fitur, lingkungan yang mempengaruhi interaksi (suhu, pencahayaan), dan bendabenda yang mempengaruhi citra pribadi dan pola interaksi (pakaian, perhiasan, mebel). (Widyo 2016)

Sebuah studi yang dilakukan Albert Mahrabian (1971) menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7% berasal dari bahasa verbal, 38% dari vocal suara, dan 55% dari ekspresi muka. Ia juga menambahkan bahwa jika terjadi pertentangan antara apa yang diucapkan seseorang dengan perbuatannya, orang lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat nonverbal (Widyo, 2016). Di lndonesia sendiri dilakukan oleh Prawitasari (Prawitasari, 1995). Dalam penelitian pertama (1990) ia membuat foto ekspresi wajah dari beberapa model baik pria maupun wanita yang mengungkapkan emosi dasar manusia. Foto ekspresi wajah tersebut mengungkapkan emosi jijik, malu, marah, sedih, senang, takut, dan terkejut. Dari 37 foto yang diambil ternyata 24 foto valid mengungkapkan emosi dasar tersebut. Yang menarikNYA, emosi marah, sedih, senang dan takut dapat diungkapkan dengan kata-kata sifat yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan emosi jijik, malu, dan terkejut. Hal ini menunjukkan bahwa keempat emosi tersebut lebih dominan dalam kehidupan manusia dibandingkan tiga emosi lainnya. Paling tidak kata-kala tertentu yang mengungkapkan emosi tersebut tersedia dalam bahasa sehari-hari. Untuk ekspresi wajah, laki-Iaki dan perempuan sama saja dalam mengartikan emosi. Khusus untuk gerak, laki-laki mempunyai kesan yang berbeda dengan perempuan. Laki-Iaki lebih mampu mengartikan gerakan laki-Iaki dengan lebih tepat. Perempuan lebih mampu mengartikan gerakan perempuan. Lebih lanjut, penelitian Prawitasari (1992) tidak menemukan perbedaan pengartian ekspresi wajah untuk emosi dasar manusia di antara laki-Iaki dan perempuan profesional. Hanya pada ekspresi malu, perempuan profesional lebih mampu melihatnya daripada laki-Iaki.

Selain daripada ekspresi wajah, Bahasa tubuh merupakan alat komunikasi non verbal yang tidak kalah pentingnya. Perilaku non verbal relatif tidak bisa dikekang, sulit untuk di kontrol. Sehingga orang lain mencoba menyembunyikan perasaannya namun emosi-emosi tersebut tetaplah muncul. Contohnya bayi, dalam prosesnya mulai mengenali kata-kata diusia 6 bulan, namun sebelum mencapai usia 6 bulan bayi sudah menggunakan komunikasi non verbal untuk berkomunikasi dengan orang dewasa, contohnya menangis ketika popoknya basah ataupun ketika merasa lapar, haus dan kepanasan, tersenyum atau tertawa ketika bermain dengan orang-orang dewasa. Perilaku komunikasi non verbal memiliki sifat omni-present yang mana perilaku ini muncul dimana-mana walaupun keberadaannya tidak kita sadari. Komunikasi dan mengerti isyarat perilaku non verbal tidak hanya penting untuk kelangsungan hidup tetapi juga untuk membantu membahami perasaan dan pikiran manusia. 

Referensi:

Prawitasari, J. E. (1995). Mengenal komunikasi non verbal. Buletin Psikologi, 3(1) http://etheses.uin-malang.ac.id/1617/5/10410007_Bab_1.pdf

Widyo, N. (2016). Modul Teori Komunikasi Verbal dan Nonverbal.