ISSN 2477-1686

Vol.4. No.8, April 2018

Pribadi yang Tangguh

Oleh :

Pradipta Christy Pratiwi

Universitas Pelita Harapan

Ingat figur Molly yang diperankan oleh Jessica Chastain di film yang bertajuk Molly’s Game? Segala macam kesulitan, kegagalan dan pengalaman yang tidak menyenangkan sepanjang hidupnya justru pada akhirnya membuat dirinya menjadi pribadi yang tangguh. Pribadi yang tangguh memiliki maksud yaitu sebuah gambaran diri yang mampu melalui permasalahan yang ada dan kembali bangkit dari keterpurukan. Penjelasan ini biasanya memuat definisi resiliensi dalam ranah psikologi. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah itu hanya berlaku di karya dunia perfilman saja? Apakah hidup tanpa masalah itu lebih baik dari pada mengalami sebuah atau banyak masalah? 

Pribadi yang Resilien

Penulis pernah mendengar beberapa orang berkata sesungguhnya yang abadi di dunia ini adalah perubahan. Dari berbagai perubahan yang mungkin terjadi, artinya kita juga memiliki kemungkinan untuk mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan. Situasi yang negatif atau tidak diinginkan ini dapat memunculkan resiko yaitu kesejahteraan psikologis yang menurun. Individu pada umumnya mengalami fase resilien, setelah terpapar dengan pengalaman krisis yang memunculkan stres dan kemudian dengan cukup cepat kembali pada kondisi homeostasis mental dan fisik. Oleh karena itu sebenarnya setiap kita memiliki potensi untuk dapat bangkit dari kondisi krisis (James, 2008). Oleh karena itu, pribadi yang resilien cenderung berfokus pada adanya potensi untuk dapat melalui suatu permasalahan daripada berfokus pada masalah itu sendiri.

Resiliensi terkenal dengan istilah “bouncing back”. Pengertian lain menyebutkan bahwa (Masten & Reed, dalam Snyder & Lopez, 2007) bahwa pribadi yang resilien perlu disimpulkan dari adanya penilaian bahwa individu melakukan sesuatu yang baik atau bahkan melakukan sesuatu yang jauh lebih baik dengan tetap memberikan penghargaan terhadap pencapaian perilaku yang diharapkan. Resiliensi ini juga memuat pengertian bahwa tujuan akhir dari prosesnya menunjukkan adanya adaptasi secara positif setelah menghadapi situasi krisis yang signifikan. Dalam hal ini, kita perlu menghargai apapun kesulitan yang dialami tanpa memandang rendah suatu kesulitan yang lain. Karena pada hakikatnya, cara pandang dan penilaian individu dengan individu yang lain mengenai situasi sulit cenderung relatif. Masing-masing pribadi memiliki penilaian personalnya. Pendapat lain menyebutkan bahwa sebenarnya resiliensi merupakah konsep mekanisme protektif, yaitu sebuah mekanisme yang mempersiapkan individu untuk dapat menghadapi situasi krisis yang sama di masa yang akan datang (Davydov, Stewart, Ritchie & Chaudieu, dalam Compton & Hoffman, 2013)

Individu yang resilien biasanya memiliki karakteristik yang merefleksikan pemahaman terhadap kualitas diri, peran-peran terdiferensiasi dengan baik (misalnya sebagai mahasiswa, anak, istri dan seorang ibu), serta adanya relasi yang resiprokal dengan orang di sekitarnya. Beberapa karakteristik tersebut berkontribusi terhadap pembentukan level adaptasi yang tinggi (Garmezy; Greef & Ritman; Rutter; Shiner; Bender & Skodol, dalam Reich, Zautra & Hall, 2010). Beberapa penelitian metode longitudinal pada usia remaja (Vaillant & Mukamal (2001); Masten et al.(2004); dan Bromley, Johnson & Cohen (2006)) menunjukkan dukungan terhadap hipotesa bahwa pribadi yang resilien merupakan faktor protektif bagi individu terhadap psikopatologi dalam menghadapi krisis. Hasilnya mereka memiliki mental yang sehat. Kesehatan mental tersebut digambarkan melalui berbagai aspek kehidupan seperti kualitas pernikahan yang baik, kesuksesan dalam pekerjaan, kepuasan kerja yang tinggi, kompetensi sosial dan kemandirian.

Strategi untuk Mengembangkan Resiliensi

Pengembangan kemampuan resiliensi dapat dilakukan sejak dini, bahkan sejak usia masih anak-anak dan remaja. Masten & Reed (dalam Snyder & Lopez, 2007) menyampaikan beberapa strategi yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan bangkit dari masalah dan menjadi pribadi yang tangguh, di antaranya adalah:

Strategi Pencegahan/Mengurangi Stresor 

Beberapa yang bisa dilakukan adalah mencegah adanya resiko kelahiran prematur/perawatan sebelum kelahiran. Memberikan edukasi kepada para orang tua dalam mendidik anak, khususnya terkait dengan upaya mengurangi situasi abusif atau penolakan pada anak. Meningkatkan program-program komunitas untuk mengurangi perilaku beresiko terkait kesehatan, seperti merokok, ketergantungan alkohol dan penggunaan obat-obat terlarang. Perlunya ada aturan-aturan pemerintah untuk mengurangi angka kriminalitas dan kenakalan pada anak dan remaja. 

Strategi yang Berfokus pada Sejumlah Kualitas yang dimiliki

Strategi ini dapat dilakukan dengan cara menyediakan tutor pada anak dan remaja, sehingga mereka memperoleh role model yang positif. Selain itu, dapat pula mengembangkan komunitas-komunitas khusus bagi anak dan remaja. Mengadakan kelas-kelas seminar bagi para orang tua.

Strategi yang Berfokus pada Proses Adaptasi Individu

Membantu individu untuk mengembangkan self-efficacy melalui berbagai metode pembelajaran agar individu yakin dengan kemampuan yang dimiliki dan pada akhirnya merasa kompeten dalam menyelesaikan masalah. Mengajarkan strategi koping yang efektif untuk situasi krisis yang spesifik. Mengembangkan secure attachment antara anak dan orang tua. Mendorong anak dan remaja untuk bersosialisasi dengan teman sebaya melalui aktivitas yang positif. Perlu juga memperkenalkan anak terhadap pendidikan agama dan nilai-nilai luhur budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Pengembangan resiliensi pada orang dewasa dapat pula dilakukan dengan memperhatikan beberapa faktor penting (APA, dalam Compton & Hoffman, 2013) yaitu mengembangkan relasi dengan keluarga, teman serta komunitas; meningkatkan cara pandang bahwa ‘masalah dapat diatasi’; menerima perubahan yang terjadi sebagai bagian dari kehidupan; terus mengejar tujuan-tujuan yang ingin dicapai; menentukan aksi yang tegas dalam mengatasi masalah dengan berbagai strategi koping; melihat pada berbagai kesempatan untuk semakin memahami diri sendiri; menanamkan pandangan positif terhadap diri sendiri; terus memelihara pengharapan; serta mengenali kebutuhan atau perasaan pribadi. 

Referensi

Compton, W. C. & Hoffman, E. (2013). Positive psychology: The science of happiness and flourishing (2th Ed.). Wadsworth: Cengage Learning.

James, R. K. (2008). Crisis intervention strategies (6th Edition). Belmont, California: Thomson Higher Education.

Reich, J. W., Zautra, A. J., Hall, J. S. (ed). (2010). Handbook of adult resilience. New York: The Gilford Press.

Snyder, C. R. & Lopez, S. J. (2007). Positive psychology: the scientific and practical explorations of human strengths. London: Sage Publications Ltd.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh