ISSN 2477-1686

Vol.4. No.5, Maret 2018

Pendampingan Psikologis Bagi Korban Kekerasan Pada Perempuan di Lokasi Pengungsian

Oleh

Made Diah Lestari

Program Studi Psikologi Fakutas Kedokteran Universitas Udayana

Kasus Kekerasan Pada Perempuan

Jumlah kekerasan pada perempuan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sebagian besar dari kasus kekerasan tersebut terjadi dalam rumah tangga. Pada dasarnya konflik dalam rumah tangga adalah hal yang wajar terjadi, namun menjadi tidak wajar ketika kekerasan adalah cara yang ditempuh untuk menyelesaikan konflik. Bentuk lain dari kekerasan bisa terjadi dalam konteks pengungsian. Lokasi pengungsian sendiri menimbulkan tekanan bagi penyintas. 

Sebagian dari penyintas, mengungsi bersama dengan keluarga mereka. Tentu saja hadirnya tekanan akan berdampak bagi dinamika di dalam keluarga. Di dalam komunitas pengungsian, anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia (lansia) dikategorikan sebagai kelompok rentan atau vulnerable, baik secara fisik, emosional, maupun psikologis. Di sisi lain, kelompok laki-laki yang sebagian besar adalah kepala keluarga juga rentan terhadap stress terkait pemikiran akan kelanjutan hidup dan kondisi finansial keluarga.  

Kondisi ini memicu terjadinya konflik dan kekerasan di dalam keluarga atau rumah tangga (Olson & DeFrain, 2006). Dalam tulisan ini, kekerasan terhadap perempuan difokuskan pada kekerasan di lokasi pengungsian. Kekerasan terhadap perempuan di lokasi pengungsian bisa dilakukan oleh kerabat dalam hal ini suami, maupun pelaku yang bukan kerabat atau keluarga. Komnas Perempuan melaporkan bahwa pengungsi perempuan di lokasi pengungsi Rohingnya di Aceh sangat rentan mengalami trafficking  dan smuggling baik di dalam perjalanan mencari tempat berlindung maupun ketika sudah berada di lokasi pengungsian. (Luviana, 2017).  

Kekerasan bisa berupa kekerasan fisik, seksual, maupun emosional. Bentuknya bisa berupa intimidasi, isolasi, menyalahkan, atau menggunakan alasan anak dan finansial guna mempertahankan power serta kontrol. Teori catharsis conflict mengatakan bahwa agresi verbal bisa menggantikan agresi fisik, namun pada kenyataannya dua jenis agresi ini berjalan berbarengan (Boes & McDermott dalam Roberts, 2002). Kasus yang terjadi menunjukkan bahwa korban mengalami tekanan baik secara fisik, seksual, maupun emosional. Sejumlah penelitian menemukan faktor yang berkontribusi bagi terjadinya kekerasan terhadap perempuan, yakni:

  1. Sejarah kekerasan pada masa sebelumnya, ditemukan bahwa perempuan yang menjadi korban dilahirkan dan dibesarkan pada keluarga yang mengalami tindakan kekerasan.
  2. Harga diri yang rendah, perempuan sebagai korban seringkali merasa tidak adekuat, pasif, dan merasa tidak layak akan sesuatu yang lebih baik.
  3. Usia, ditemukan bahwa kekerasan lebih banyak terjadi pada pasangan yang lebih muda, rata – rata di bawah usia 30 tahun, namun pada beberapa negara, contohnya India, kekerasan juga bisa terjadi pada lansia yang dilakukan oleh pelaku yang usianya lebih muda.
  4. Tekanan ekonomi. Penyebab ini biasanya menjadi dasar bagi kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dan lebih sering terjadi pada keluarga dengan penghasilan rendah dan kepala keluarga yang tidak bekerja.
  5. Isolasi sosial, memiliki sedikit teman, jarang mengikuti kegiatan sosial, dan jejaring sosial yang kurang.
  6. Terdapat riwayat penyalahgunaan zat oleh pelaku tindakan kekerasan. Zat bisa berupa alkohol, narkoba, atau kedua – duanya.
  7. Dominasi laki – laki. Di berbagai budaya, laki – laki dianggap lebih memiliki power dan kontrol terhadap perempuan. Pada laki – laki, perilaku agresi adalah sesuatu yang dapat diterima di masyarakat sebagai respon terhadap stress dan tekanan. Budaya patrilineal yang berkembang di beberapa kelompok masyarakat melihat kedudukan laki – laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Laki – laki juga lebih kompetitif dan berusaha untuk selalu menang di berbagai situasi.
  8. Faktor budaya. Depersonalisasi memandang perempuan sebagai obyek kecantikan, pornografi, dan seksual. Pada akhirnya korban seringkali dilihat sebagai pihak yang salah. Masyarakat saat ini hidup dalam masyarakat yang memberikan toleransi yang tinggi pada tindakan fisik untuk mengontrol orang lain.  

Roberts (dalam Roberts, 2002) mengemukakan empat tahapan intervensi guna melakukan asesmen pada perempuan korban kekerasan: 

 

Identifikasi

  • Identifikasi mencakup indikator klinis seperti pola kecelakaan (termasuk obyek yang menyebabkan luka), kejadian yang tidak konsisten dengan penjelasan yang diberikan oleh penyintas, sejarah traumatik yang menyertai, adanya jeda antara kejadian dan tindakan mencari pertolongan, depresi, menggunaan zat sedatif penghilang rasa nyeri, gangguan makan, penyalahgunaan zat, serta pikiran bunuh diri.
  • Penyintas juga sebelumnya pernah beberapa kali mengunjungi rumah sakit dengan keluhan depresi dan kecemasan.
  • Ditemani oleh pasangan yang overprotective, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan selalu mengambil alih pembicaraan.Penyintas memperlihatkan inappropriate affect, rasa takut, afek datar, dan mengindari kontak mata. 

Catatan bagi tenaga pendamping: menempatkan poster, kartu layanan, brosur, leaflet pada tempat – tempat tertentu seperti toilet umum dan kamar periksa. Sebaiknya penyintas diwawancara sendiri, di tempat yang privat. Komunikasi nonverbal juga bermanfaat. Terkadang pertanyaan langsung juga diperlukan. Ciptakan kenyamanan saat bertanya mengenai kekerasan. Bagi pendamping, berlatihlah dengan rekan kerja dengan roleplay sehingga meningkatkan kompetensi di dalam memberikan pendampingan.

Validasi Pengalaman

  • Percaya pada apa yang disampaikan oleh penyintas.
  • Antisipasi pada informasi yang disampaikan oleh penyintas. Informasi tersebut bisa berupa informasi yang menyakitkan untuk didengar.
  • Berempati pada pengalaman penyintas. Validasi ketakutannya, kebingungan, perhatian, harapan. Yakinkan bahwa yang dirasakannya adalah hal yang wajar.
  • Berikan kata – kata penguat seperti, “Hal ini terjadi pada banyak perempuan”, “Anda tidak disalahkan atas apa yang telah dilakukan oleh pelaku”, “Anda normal”, “Anda tidak layak untuk dianiaya”, “ Anda tidak layak untuk diperlakukan seperti ini”, “Apa yang menimpa anda adalah kejahatan”

Mengutamakan Keselamatan dan Melahirkan Alternatif Tindakan

  • Keselamatan penyintas adalah hal yang utama. Pastikan tindakan intervensi yang diambil tidak berdampak buruk bagi keamanan penyintas.
  • Penyintas yang paling layak menilai keselamatan dan tindakan yang diambilnya.
  • Berikan informasi mengenai layanan bantuan, local service, ataupun lembaga informal yang bisa didatangi jika penyintas mengalami tindakan kekerasan.  

Unconditional Support

  • Selain penyintas, pendamping juga membutuhkan support.
  • Temukan support di sekeliling, dari keluarga maupun dari teman.
  • Ketika penyintas sudah mulai terbuka dan mulai mengeksplor solusi dari permasalahan yang dihadapi, itupun sudah sebuah kesuksesan.  

Asesmen pada penyintas dilakukan pada area keselamatan fisik, kebutuhan akan perlindungan hukum, kebutuhan akan dukungan, status ekonomi, rasa bersalah, isolasi, ketakutan, tanggung jawab, serta sumber–sumber yang dapat membantunya. Melalui asesmen ini, penyintas dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni no risk, low risk, dan moderate to high risk 

Referensi

Luviana. (2017). Perempuan Rohingnya dan kekerasan di lokasi pengungsian. Diunduh dari http://www.konde.co/2017/09/perempuan-rohingnya-dan-kekerasan-di.html pada 1 Maret 2018.

Olson, D. H., & DeFrain, J. (2006). Marriages and family: intimacy, diversity, and strengths. Boston: McGraw Hill.

Roberts, A.R. (2002). Handbook of domestic violence intervention strategies. US: Oxford University Press

 

 

 

 

Comments   

0 #1 Read Much more 2018-06-06 03:20
exactly where would you begin? The first thing you can certainly
do is start incorporating local into your keywords and phrases.

A great instance is if you are selling essential oils, your key words can possibly be"essential oils," or"high quality essential oils." Now you wish to introduce
community, so you just turn your key word to some long-term keyword
with spot, these as for example"essential oils London" or"essential oils in New York"
as illustrations
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh