ISSN 2477-1686

Vol.4. No.2, Januari 2018

Memulai Perjalanan Syukur di Tahun Baru

Oleh:

Jessica Ariela

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Tak terasa tahun yang baru telah tiba! Namun, tunggu dulu, mari kita telaah kembali hari-hari menjelang tahun baru. Pada umumnya, akhir tahun seringkali dipenuhi dengan refleksi akan hal-hal yang telah dialami selama setahun tersebut. Berbagai pikiran, perasaan, dan bahkan komitmen baru muncul dari proses refleksi tersebut. Salah satu perasaan dan pikiran yang mungkin saja muncul dan dialami adalah bersyukur. Terdapat banyak hal yang dapat disyukuri – keluarga yang baik, kesuksesan dalam karier, prestasi dan pencapaian, kesehatan, atau bahkan merayakan milestone yang dengan berhasil dilewati seperti wisuda, pernikahan, dan kenaikan jabatan.

Bersyukur (gratitude) memiliki akar kata dari bahasa Latin“gratia” yang berarti anugerah, atau juga seringkali dipakai berhubungan dengan kebaikan, kemurahan, pemberian (Pruyser, dalam Emmons & McCullough, 2003). Adapun Sansone dan Sansone (2010) mendefiniskan bersyukur sebagai apresiasi akan hal-hal yang bernilai dan bermakna dan merupakan suatu kondisi umum akan rasa terima kasih dan penghargaan. McCullough, Tsang dan Emmons (2004) juga menemukan bahwa saat seseorang memiliki sifat bersyukur yang tinggi, ia akan lebih mudah untuk mengungkapkan rasa syukur dan mengalami emosi-emosi positif. Selain itu, suasana hati yang penuh syukur ini tidak akan mudah terpengaruh oleh kondisi di luar dirinya. Singkatnya, orang-orang yang bersyukur memiliki rasa sejahtera yang lebih tinggi.

Menuliskan Daftar Syukur

Beberapa tahun yang lalu, media-media sosial sempat dipenuhi dengan sebuah tantangan yang viral, yaitu membuat daftar syukur (gratitude list). Daftar ini dipercaya dapat membuat seseorang lebih bahagia dalam hidup. Ternyata, anggapan ini bukanlah sekedar asumsi belaka. Bertahun-tahun sebelum daftar syukur ini tenar, sekelompok peneliti (Emmons & McCullough, 2003) telah melakukan eksperimen dengan meminta beberapa kelompok partisipan menuliskan jurnal berisi hal-hal yang mereka syukuri. Hasilnya, orang-orang yang menuliskan hal-hal yang mereka syukuri secara rutin terbukti meningkat dalam emosi positif yang dialami dan emosi negatif berkurang. Tidak hanya itu, mereka juga menemukan bahwa orang-orang yang menuliskan hal-hal yang mereka syukuri ini juga memiliki kuantitas dan kualitas tidur yang lebih baik dibandingkan sebelum mereka membuat jurnal tersebut.

Lantas, apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Seajaib itukah rasa syukur? Rasa syukur dianggap sebagai motivator moral bagi seseorang (McCullough, Kilpatrick, Emmons, & Larson dalam Emmons & McCullough, 2003), yang dapat membantu seseorang dalam menghadapi situasi hidupnya sehari-hari. Dengan demikian, individu mampu mengubah fokusnya lebih kepada hal-hal yang baik dan mampu berespon secara lebih optimis. Saat menghadapi situasi yang sulit sekalipun, rasa syukur dapat membantu seseorang melihatnya secara lebih positif dan mengurangi perasaan negatif yang muncul.

Resolusi Tahun Baru: Membuat Daftar Syukur

Mengetahui berbagai manfaat dari rasa syukur, mungkin ada baiknya jika kita pun dapat lebih niat dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan rasa syukur sebagai bagian dari komitmen atau resolusi tahun baru. Berikut ini tiga hal praktis yang dapat Anda “cari” untuk memulai perjalanan syukur Anda: 

  1. Carilah sebuah buku tulis atau notes kecil untuk memulai jurnal / daftar rasa syukur Anda. Jika memungkinkan, sediakanlah buku tulis atau notes yang menarik sehingga membantu membentuk asosiasi positif dengan aktivitas ini.
  2. Carilah waktu yang tepat untuk menulisnya. Hal ini bisa berbeda antara individu yang satu dan yang lainnya. Bagi seseorang, menulis daftar syukur ini bisa dilakukan di malam hari sebelum tidur. Namun, bagi individu lainnya, sangat mungkin ia akan lupa jika harus menunggu sampai malam hari, sehingga ia harus langsung menuliskannya saat ia teringat untuk bersyukur akan suatu hal (notes kecil yang praktis dibawa cukup sesuai untuk tipe individu seperti ini).
  3. Carilah teman untuk memulai perjalanan bersyukur bersama. Teman seperjalanan berfungsi sebagai accountability partner yang memotivasi kita untuk konsisten dalam mengerjakan daftar syukur, dan juga sebagai tempat kita membagikan rasa syukur kita. Teman seperjalanan bisa jadi adalah pasangan atau anggota keluarga Anda, kolega, sahabat, atau bahkan teman satu arisan Anda!

Sekalipun sudah memiliki niat, tetapi tidak dapat dipungkiri, ada saja waktu saat kita kesulitan mengidentifikasi hal-hal baik atau menyenangkan yang terjadi dalam satu hari. Berikut ini beberapa inspirasi yang dapat menjadi acuan saat mengalami kesulitan dan dapat dituliskan di daftar syukur Anda (Steinhilber, dalam Ackerman, 2017):

  • Siapa orang yang istimewa yang Anda syukuri bahwa dia ada di dalam hidup Anda? Atau, siapa orang istimewa yang Anda temui hari ini dan membuat Anda bersyukur?
  • Kemampuan dan minat yang Anda miliki.
  • Perubahan yang telah Anda alami.
  • Hal baru yang Anda pelajari.
  • Hobi atau aktivitas menyenangkan yang sudah Anda alami.
  • Hal yang sulit atau tantangan yang Anda hadapi hari ini. Apa pelajaran yang didapat atau bagaimana Anda bertumbuh lewat tantangan ini?
  • Hal-hal kecil yang seringkali kita lupakan (misalnya udara yang dihirup setiap pagi, hujan, kopi di pagi hari, canda-tawa dengan teman-teman, dan sebagainya).
  • Bagian dari rutinitas harian Anda – makanan, alam, pekerjaan, rekreasi.

Referensi

Ackerman, C. (April 19, 2017). Gratitude journal: 67 templates, ideas, and apps for your diary. Positive Psychology Program. Retrieved from https://positivepsychologyprogram.com/gratitude-journal/.

Emmons, R. A. & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377-389. DOI: 10.1037/0022-3514.84.2.377.

McCullough, M. E., Tsang, J., Emmons, R. A. (2004). Gratitude in intermediate affective terrain: Links of grateful moods to individual differences and daily emotional experience. Journal of Personality and Social Psychology, 86(2), 295-309. DOI: 10.1037/0022-3514.86.2.295.

Sansone, R. A. & Sansone, L. A. (2010). Gratitude and well-being: The benefits of appreciation. Psychiatry (Edgmont), 7(11), 18-22. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3010965/pdf/PE_7_11_18.pdf.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh