ISSN 2477-1686   

 Vol. 11 No. 45 November 2025

Tantangan Burnout dan Strategi Pemulihan di Dunia Kerja

Oleh:

Chotimah

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Burnout,  Acapkali ini menjadi fenomena yang menghantui para pegawai di dunia kerja, Kondisi tersebut  seringkali disebabkan ketika pegawai berusaha melampaui batasan, dan akibatnya hal tersebut menjadi sebab penurunan dan memperlambat hasil kinerja para pekerja.  Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang menghadapi tuntutan pekerjaan yang tinggi tanpa diimbangi dengan kontrol kerja yang memadai serta dukungan sosial yang cukup, maka akan berisiko mengalami stres yang tinggi dan Burnout (Egan et al., 2025). WHO mengklasifikasikan Burnout sebagai kondisi penyakit internasional sebagai fenomena di pekerjaan, Menurut WHO Burnout di tandai dalam tiga gejala: kelelahan emosional dan fisik, munculnya perasaan negatif atau menjauhi pekerjaa, penurunan kemampuan kerja atau pencapaian diri (WHO, 2019).

 

Burnout muncul ketika tuntutan pekerjaan jauh melampaui sumber daya yang dimiliki (Bakker & Demerouti, 2007) Sehingga kelelahan muncul bukan hanya karena pekerjaan berat, namun juga karena kurangnya dukungan, pengawasan, dan pengakuan. Selain itu juga gejala tersebut mulai terasa di tandai dengan seseorang mulai meragukan kemampuannya sendiri atau kemampuan tim nya dalam mencapai target pekerjaan. Krisis tersebut dipicu oleh beberapa kondisi di antaranya : Pengalaman kegagalan di masa lalu; Tidak adanya role model yang sukses menghadapi situasi serupa; Kurangnya penghargaan terhadap pekerjaan; Tidak adanya umpan balik yang diberikan ataupun seringnya mendapatkan komentar negatif; Kesulitan dan hambatan di tempat kerja. Sehingga kondisi tersebut menurunkan rasa pencapaian pribadi, yang pada akhirnya menimbulkan kelelahan emosional dan bentuk pertahan diri sebagai cara menghadapi stres.

 

Dalam hal pandangan psikologis, Jika individu sudah memiliki self efficacy atau kepercayaan terhadap kemampuannya (Bandura, 1997) akan cenderung lebih bisa bertahan terhadap kondisi stres kerja, karena mereka merasa tekanan merupakan tantangan, bukan sesuatu yang mengancam. Sehingga modal yang dibutuhkan dalam pencegahan masalah Burnout ini salah satunya dengan modal memperkuat ketahanan diri dengan personal resources seperti optimisme, daya lenting (resilience), dan kemampuan mengelola emosi (Edu et al., 2022). Selain itu, teori pertukaran sosial (social exchange theory) menyoroti pentingnya hubungan antara individu dan organisasi. Ketika pekerja merasa dihargai dan mendapat umpan balik positif, mereka akan lebih terlibat secara emosional dan memiliki motivasi tinggi. Sebaliknya, rasa ketidakadilan atau pengabaian dari organisasi dapat memicu depersonalisasi dan sikap apatis terhadap pekerjaan.

 

Burnout bukan sekadar kelelahan biasa, namun merupakan kondisi psikologis dan tuntutan yang tidak seimbang. Pendekatan psikologis menekankan pentingnya dalam membangun ketahanan mental, memperkuat hubungan sosial, dan memperbaiki sitem kerja agar lebih manusiawi. Dengan adanya kolaborasi antara individu dan organisasi, dunia kerja modern dapat menjadi ruang tumbuh yang sehat bukan sarang kelelahan.

 

Pendekatan psikologi positif merekomendasikan intervensi berbasis mindfulness dan keseimbangan hidup (work-life balance). Latihan kesadaran diri dapat membantu individu mengelola stres dan mengidentifikasi batas kemampuan diri (Hülsheger et al., 2013). Selain itu, organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan psikologis, semisal dengan memberikan waktu untuk beristirahat bagi pegawai apabila di luar jam kerja, memberikan umpan balik yang positif terhadap kinerja pegawai, dan program dalam mendukung kesehatan mental, seperti wellbeing.

 

Budaya gotong royong dan membangun system yang saling memberikan dukungan social di tempat kerja juga dapat menekan Burnout, Karena dengan begitu akan menumbahkan rasa empati dan solidaritas antar karyawan, serta membangun kebersamaan.

 

Burnout bukan hanya persoalan individu, melainkan sebagai refleksi dari sistem kerja yang belum sehat secara psikologis. Sehingga diperlukan kolaborasi antara pekerja dan organisasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang manusiawi, produktif, dan berkelanjutan.

 

Daftar Pustaka:

 

Bandura, A. (2005). Theories of Personality (6th ed.). Social Cognitive Theory. New York: McGraw-Hill Companies.

Edú-Valsania, S. L. (2022). Burnout: A review of theory and measurement. International Journal of Environmental Research and Public Health. https://doi.org/10.3390/ijerph19031780, 19(3), 1780.

Egan, H. H. (2025). Analisis psikometri instrumen psychological wellbeing pada dokter: Adaptasi skala pengukuran. Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi. 14(1), pp. 11–22.

NN. (2019, May 28). Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases. Retrieved October 26, 2025, from World Health Organization: https://www.who.int/japan/news/detail-global/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

 

Ute R. Hülsheger, H. J. (December 2012). Benefits of Mindfulness at Work: The Role of Mindfulness in Emotion. Journal of Applied Psychology, 98(2):310-325.