ISSN 2477-1686

Vol. 7 No. 22 Nov 2021

Cemas di Tengah Pandemi 

Psikosomatis atau Gejala Paparan COVID-19?

 

Oleh:

Henny Setiawaty 

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

“Sebetulnya musuh terbesar kita saat ini adalah bukan virus itu sendiri, tapi rasa
cemas, rasa panik, rasa ketakutan, dan berita-berita hoaks serta rumor”
-Joko Widodo, Presiden Indonesia

 

Saat ini, dunia sedang digemparkan dengan sebuah temuan virus baru, yaitu Coronavirus Disease atau kerap disebut sebagai COVID-19. COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut  Corona Virus 2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 atau SARS-CoV-2) (Yusfarani, 2021) . Corona virus diketahui berasal dari kota Wuhan, Tiongkok yang mulai menyebar ke berbagai wilayah di dunia pada bulan Desember 2019. Selama rentang waktu hampir 2 tahun, fenomena pandemi ini membuat berbagai sektor seperti pekerjaan, pendidikan, dan industri mulai meredup serta memaksa manusia untuk untuk tetap #DiRumahAja demi memutus rantai penyebaran virus.

 

Fenomena yang datang tiba-tiba ini membuat masyarakat tidak siap menghadapinya baik secara fisik ataupun psikis (Sabir, 2016). Satu diantara kondisi psikologis yang dialami oleh masyarakat selama pandemik adalah rasa cemas atau anxiety apabila tertular atau terpapar oleh virus tersebut (Fitria et al., 2020). Dengan munculnya kondisi tersebut , banyak media yang menyebarluaskan berbagai informasi terkait gejala dan pencegahan dari virus Corona. Namun, paparan informasi tentang virus Corona yang berlebihan dapat memicu rasa cemas, khawatir, serta stres. Bahkan, tak jarang tubuh seperti merasakan gejala mirip COVID-19 usai menerima informasi terkait gejala infeksi virus Corona (Ika, 2020). Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan psikosomatis yang berlebih selama pandemik. 

 

Gangguan psikosomatis didefinisikan sebagai suatu gangguan atau penyakit fisik  yang disebabkan oleh tekanan-tekanan emosional dan psikologis atau gangguan fisik yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan psikologis yang berlebihan dalam mereaksi gejala emosi yang dirasakan dan diperparah dengan kondisi mental (Febriana, 2016). Gangguan psikosomatis dapat diartikan sebagai penyakit fisik yang dipengaruhi oleh faktor psikologis. Gangguan psikosomatis sebenarnya tidak termasuk faktor psikologis yang terlalu berat untuk digolongkan ke dalam gangguan mental tetapi gangguan ini sangat berperan mempengaruhi gangguan medis(Hernawan et al., 2020). Pada umumnya, penderita psikosomatis sangat meyakini bahwa sumber sakitnya benar-benar berasal dari organ-organ dalam tubuh. Padahal, sumber sakit yang dihasilkan hanyalah berasal dari pikiran yang terus menerus muncul dan memengaruhi kondisi mental hingga mencapai kondisi stress dan depresi. Penderita yang mengalami hal tersebut kerap disebabkan karena terlalu banyak menerima informasi terkait gejala COVID-19 sehingga secara perlahan-lahan mempengaruhi pikiran dan mental yang membuat dirinya yakin  mengalami gejala tersebut hingga beralih ke kecemasan. 

 

Anxiety atau cemas maupun kegelisahan adalah perasaan campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Cemas ini muncul dari reaksi stres yang terjadi akibat suatu kejadian luar biasa (stressor), datang secara tiba-tiba dan tanpa dapat diprediksi sehingga membuat korban merespon dengan melawan atau menghindar (fight or flight(Fitria et al., 2020)

 

Gejala psikosomatis ditunjukkan dengan adanya keluhan fisik yang beragam, seperti nyeri di dada, batuk, mual, sesak, sakit kepala, dan pegal-pegal. Berbeda dengan gejala penderita COVID-19 yang ditunjukkan dengan demam, batuk kering, rasa tidak nyaman dan hilangnya indra perasa atau penciuman. Persamaan gejala yang tidak terlalu banyak membuat banyak individu sulit untuk membedakan apakah dirinya terpapar virus Corona atau hanyalah sekedar perasaan memiliki gejala yang sama. Dari segi psikologis, karena jumlah orang yang terinfeksi virus Corona makin bertambah, banyak orang yang merasa curiga jika mereka ikut terkena virus Corona. Semisal jika seseorang merasa batuk dan hidungnya berair, maka dia akan langsung merasa ketakutan dan berpikir dia terkena Corona. Padahal dia hanya menderita flu biasa begitu pula ketika seseorang sedang berada di luar, dan ada orang lain yang bersin atau batuk maka orang tersebut akan langsung dianggap menyebarkan virus Corona meskipun realitasnya belum tentu demikian. (Hernawan et al., 2020)

 

Kecemasan berlebih yang disebabkan oleh gangguan psikosomatis berdampak pada perubahan perilaku seperti, menarik diri dari lingkungan, sulit fokus dalam beraktivitas, susah makan, mudah tersinggung, rendahnya pengendalian emosi amarah, sensitive, tidak logis, susah tidur. Terkadang juga akan lahir dalam bentuk gangguan psikosomatis berupa, alergi kulit, sesak nafas, jantung berdegup kencang, berkeringat dingin dan mual-mual. (Jarnawi, 2020). Untuk itu setiap orang harus tetap memperoleh informasi yang akurat menyangkut Corona. Tetap berkomunikasi secara online dengan sahabat dan keluarga, dan hendaknya memperoleh pendidikan menyangkut Corona serta penularan, pencegahan dan pemutusan infeksi virus lewat social distancing, cuci tangan, dan tetap beraktifitas di rumah serta tetap mejaga imunitas tubuh lewat makan yang bergizi, berolahraga intensitas sedang, dan istirahat yang cukup. 

 

 

Referensi:

 

Febriana, D. Z. (2016). Hubungan antara kepribadian hardiness dengan kecenderungan psikosomatis pada mahasiswa tingkat akhir fakultas psikologi dan kesehatan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Skripsi, 14–47.

 

Fitria, L., Neviyarni, Netrawati, & Karneli, Y. (2020). Cognitive Behavior Therapy Counseling Untuk Mengatasi Anxiety Dalam Masa Pandemi COVID-19. Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan Dan Konseling10(1), 23–29. http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/al-irsyad/article/viewFile/7651/3538

 

Hernawan, C. D., Lestari, S., Psikologi, F., & Surakarta, U. M. (2020). Mengatasi Psikosomatis Akibat COVID-196(April).

 

Ika. (2020). Pakar UGM Bagi Tips Olahraga di Tengah Pandemi COVID-19. UgmApril. https://ugm.ac.id/id/berita/19220-pakar-ugm-bagi-tips-olahraga-di-tengah-pandemi-COVID-19

 

Jarnawi, J. (2020). Mengelola Cemas di Tengah Pandemik Corona. At-Taujih : Bimbingan Dan Konseling Islam3(1), 60. https://doi.org/10.22373/taujih.v3i1.7216

 

Sabir, A. &. (2016). Gambaran Umum Persepsi Masyarakat Terhadap Bencana. Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Sosial5(3), 304–326. https://media.neliti.com/media/publications/237547-gambaran-umum-persepsi-masyarakat-terhad-501404e6.pdf

 

Yusfarani, D. (2021). Hubungan Kecemasan dengan Kecendrungan Psikosomatis Remaja Pada Pandemi Covid 19 Di Kota Palembang. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi21(1), 295. https://doi.org/10.33087/jiubj.v21i1.1328