ISSN 2477-1686

Vol. 7 No. 22 Nov 2021

Kecemasan Di Masa Pandemi

 

Oleh:

Ade Nurul Husna, Nur Aulia, Nur Zahra Aulia dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Pandemi merupakan sebuah situasi dimana terdapat wabah penyakit yang terjadi secara luas dan menyebar ke seluruh dunia. Pandemi yang paling familiar dengan kita saat ini adalah pandemi Covid-19. Sudah setahun lamanya kita hidup berdampingan dengan virus yang hingga kini menimbulkan banyak korban jiwa di banyak negara, salah satunya adalah Indonesia. Corona Virus Disease (COVID-19) merupakan  salah satu infeksi yang disebabkan oleh sebuah virus jenis baru dan virus ini  dapat menular dari manusia ke manusia lainnyadengan cara yang cepat (WHO, 2020). Pada akhir tahun 2019, virus ini diketahui pertama kali di China yaitu di Kota Wuhan. Hingga kini, tercatat ada satu juta kasus lebih di Indonesia dan seratus juta kasus lebih di seluruh dunia. 

 

Adanya penetapan status pandemi ini menandakan bahwa virus corona memiliki tingkat penyebaran yang cepat (Fitria & Ifdil, 2020). Dalam mengurangi penularan virus dari satu individu ke individu lainnya, pemerintah mengambil beberapa langkah untuk mencegah penularan virus, seperti penerapan Work From Home (WFH), penghimbauan untuk melakukan social ditancing, menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), hingga penerapan gerakan 5M yaitu menggunakan masker, selalu mencuci tangan, menjaga jarak antar individu, menjauhi keramaian dan mengurangi mobilitas pribadi. Pandemi Covid-19 ini memberikan dampak ke berbagai hal seperti menurunnya perekonomian, kesehatan, pendidikan, sulitnya bersosialisasi secara langsung dengan orang lain, dan lain-lain.

 

Saat menghadapi pandemi seperti sekarang ini, mendapatkan sebuah informasi dari berbagai sumber adalah hal yang penting. Informasi yang didapatkan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai resiko terpapar virus Covid-19. Pencarian sumber informasi harus diperhatikan agar individu mendapatkan informasi yang akurat. Jika seseorang mendapatkan sebuah informasi yang tidak benar atau hoax, maka akan menimbulkan kekhawatiran bagi orang tersebut. 

 

Pandemi Covid-19 yang terjadi menimbulkan berbagai kondisi yang memberikan sebuah efek psikologis kepada masyarakat karena pandemi ini merupakan sebuah stressor yang berat (WHO, 2020). Salah satu efek psikologis yang terjadi selama masa krisis adalah kecemasan atau kekhawatiran yang merupakan respon umum dalam menghadapi situasi pandemi ini. Kecemasan tentu saja dapat mengganggu kesehatan mental apabila kecemasan yang dimiliki sudah mengganggu kehidupan sehari-hari. 

 

Menurut Nevid, Rathus & Greene (2018, dalam Rinaldi & Yuniasanti, 2020), kecemasan merupakan kondisi umum dari rasa takut atau perasaan tidak nyaman. Ada beberapa gejala kecemasan yang ditandai dengan gejala fisik, gejala perilaku dan kognitif. Gejala fisik dapat berupa gemetar, sesak, berkeringat dan terasa pusing. Gejala perilaku berupa perilaku menghindar, perilaku gelisah dan lain-lain. Gejala kognitif dapat berupa kekhawatiran serta perasaan takut atau cemas. Setiap orang memilliki tingkat kecemasan yang berbeda tergantung pada faktor apa yang mempengaruhinya. Selain itu, banyak hal yang dapat membuat individu merasa cemas di masa pandemi seperti kecemasan karena takut terpapar virus, kecemasan karena kehilangan pekerjaan, kecemasan karena memikirkan masa depan dan kecemasan lainnya.

 

Berkaitan dengan pembahasan sebelumnya, ada sebuah teori dari salah satu tokoh psikologi yang bernama Rollo May yang membahas tentang kecemasan. Dalam buku berjudul The Meaning Of Anxiety dikatakan, saat seseorang sadar akan eksistensinya atau nilai-nilai yang dianutnya merasa terancam hancur bahkan rusak disitulah manusia mengalami kecemasan May (1958, dalam Wardani, 2021).

 

Untuk tetap bertahan hidup, individu akan selalu memerlukan bantuan dari individu lainnya, karena manusia adalah makhluk sosial.. Melalui hubungan sosial dengan orang lain, manusia mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Misalkan saja dalam mengerjakan tugas kelompok, individu-individu dalam suatu kelompok tersebut akan saling membutuhkan untuk mengerjakan tugasnya Bersama sehingga tugas tersebut dapat terselesaikan.

 

Dalam masa pandemi ini, manusia menjadi terbatas dalam pergerakannya dan menjadi lebih sering menghabiskan waktu seharian di dalam rumah. Media sosial, media elektronik, dan media cetak menjadi salah satu hiburan utama manusia di masa pandemi ini. Namun dikarenakan pandemi ini, media-media tersebut menjadi lebih sering memberitakan tentang Covid-19  dibandingkan masalah yang lain. Terlebih lagi banyaknya berita-berita yang memaparkan jumlah pasien Covid yang kian meningkat dari hari ke hari dan juga pemberitaan tentang Covid yang belum tentu benar keasliannya, dan hal itu menjadi salah satu penyebab manusia menjadi cemas. Menurut Firmansyah (2020)  Kecemasan bisa disebabkan oleh terlalu banyaknya membaca berita dari sumber yang kurang bisa dipertanggungjawabkan. (Mujahid & Pangestuti, 2020). Untuk mengatasi hal ini, melalui konsiderasi Kesehatan mental WHO menghimbau untuk mengurangi membaca berita mengenai Covid-19 yang tidak jelas sumbernya WHO: Emergency, Concern, & Health (2020, dalam Mujahid & Pangestuti, 2020 ).

 

Kecemasan pun tidak hanya dirasakan dampaknya oleh pekerja yang melakukan WFH tetapi dirasakan juga oleh pekerja yang tetap melaksanakan pekerjaannya di luar rumah. Seperti halnya pedagang kaki lima, tukang sapu jalanan, supir kendaraan umum dan perkerjaan lainnya yang hanya bisa dikerjakan diluar rumah. Misalnya saja pegawai di supermarket yang mengalami penambahan beban kerja terkait perubahan perilaku pembeli yang berubah saat pandemi ini. Pembeli yang sebelumnya membeli hanya memikirkan stok untuk masa waktu yang singkat berubah pikiran menjadi membeli untuk stok dalam masa waktu yang panjang. Oleh karena itu para pegawai menjadi kewalahan dalam melayani pembeli, bahkan karyawan pun merasa kesulitan untuk melayani pembeli yang bertindak tidak seperti biasanya, mereka merasa kewalahan karena harus bekerja dua kali lebih banyak dari hari-hari biasanya. (Salsabil, 2020). Stress kerja yang dialami karyawan dipengaruhi oleh peningkatan beban kerja  pada karyawan tersebut menurut Kusuma dan Soesatyo (2014, dalam Salsabil, 2020).

 

Psikologi Ekstensialisme yang digagas oleh Rollo May mengatakan bahwa eksistensi manusia akan selalu melekat dengan takdir yang diberikan Tuhan. Hal tersebut tentunya berkaitan dengan pandemi pada saat ini, pandemi yang terjadi merupakan takdir yang diberikan oleh Tuhan sebagai ujian terhadap makhluk Ciptaan-Nya. Alam semesta telah mendesain takdir yang di sampaikan melalui desain yang terdapat pada diri individu itu sendiri May (1981, dalam Sari, 2020). Desain apakah yang dimaksud oleh takdir? Desain yang dimaksudnya adalah hal-hal yang suda ada pada diri kita sejak kita dilahirkan, seperti jenis kelamin, kecerdasan, kekurangan-kekurangan fisik, dan kondisi lingkungan kita pada saat ini May (1981, dalam Sari, 2020). 

 

Dalam menanggapi takdir yang diberikan Tuhan, terkadang manusia merasa cemas jika takdirnya tidak sesuai harapan yang diinginkan. Takdir memang tidak bisa dihapuskan, namun kita bisa menghadapi takdir dengan memanfaatkan potensi dan mengembangkan bakat yang kita miliki  sebagai manusia yang diberikan akal dan pikiran . Sehingga kita tidak merasa cemas dan dapat memaknai hidup menjadi lebih positif.

 

Bagaimana cara mengatasi kecemasan di masa pandemi COVID-19?

Setelah kita lihat dan simak secara seksama teori kecemasan Rollo May, faktor serta gejala-gejala yang telah dijelaskan diatas, sudah pasti akan terlintas dipikiran kita sebuah pertanyaan “Bagaimana cara untuk mengatasi kecemasan di masa pandemi COVID-19? “. Berikut ini ada beberapa cara untuk mengatasi kecemasan di masa pandemi COVID-19, diantaranya:

 

1.  Membatasi Informasi Seputar COVID-19 

Dari membatasi informasi seputar pandemi COVID-19 ini, seseorang dapat merasa cemas karena informasi seputar COVID-19 terkadang berlebihan yang dapat mengakibatkan seseorang memikirkan hal-hal yang berlebihan. Oleh karena itu, kita harus bisa mengendalikan diri kita serta memilih dan mencari informasi seputar COVID-19 dengan cara mencari informasi tersebut yang lebih terpercaya dan akurat.

 

2.  Jangan Merenungi Diri lebih baik Mengkontrol Kesehatan Mental

Individu harus menemukan titik mengapa kecemasan tersebut muncul serta memahami makna apa yang di dapat dalam pandemi COVID-19. Hal tersebut dapat dilakukan melalui refleksi diri atau bisa juga dengan bermeditasi. Selain itu juga, individu dapat melakukan pengendalian terhdapa dirinya dengan cara hidup berdamai dengan COVID-19.

 

3.  Melakukan Hal-Hal Positif atau Kegiatan Favorite

Dengan melakukan hal-hal positif atau kegiatan favorite, seorang individu cenderung bisa lebih berpikir lebih positif serta dapat perlahan menerima keadaan karena melakukan kegiatan-kegiatan yang disuka.

 

4.  Menyadari bahwa Kecemasan merupakan Hal yang Wajar

Jika memang adanya hal yang diluar keinginan, maka hal itu sudah sewajarnya terjadi, tinggal bagaimana cara kita menghadapi hal tersebut, apakah dengan terus merasa cemas atau secara tenang mengikuti perkembangan yang ada dan bijak mengambil keputusan.

 

Demikian beberapa cara mengatasi kecemasan di masa pandemic COVID-19. Semoga dengan adaya artikel ini kita bisa menetapkan cara-cara tersebut dan semoga artikel ini bermanfaat untuk semuanya. Ada sebuah quotes yang mengatakan bahwa:

 

“Jika Anda khawatir, berhentilah. Jika Anda belum mulai, jangan."

- John MacArthur-

 

 

REFERENSI:

 

Fitria, L., & Ifdil, I. (2020). Kecemasan remaja pada masa pandemi Covid-19. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia6(1), 1-4. https://doi.org/10.29210/120202592

 

Mujahid, A., Pangestuti, R. (2020). Pandemi yang Mendewasakan Mahasiswa. Diambil 4 April 2021, dari Buletin K-pin, website:https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/641-pandemi-yang-mendewasakan-mahasiswa

 

Rinaldi, M. R., & Yuniasanti, R. (2020). Kecemasan pada Masyarakat Saat Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia. COVID-19 dalam Ragam Tinjauan Perspektif, 137-150. Diambil 4 April 2021 Website: https://scholar.google.co.id/scholar?oi=bibs&cluster=1019459805502420822&btnI=1&hl=id

 

Salsabil, U. (2020). Tetap Pergi Bekerja di Tengah Pandemi Covid-19 Tanpa Cemas dan Stres. Vol 6(7), p.3. Diambil 4 April 2021, dari Buletin K-pin, website: Tetap Pergi Bekerja di Tengah Pandemi Covid-19 Tanpa Cemas dan Stres (k-pin.org)

 

Sari, R. (2020). Corona Virus: Cemas, Eksistensi Manusia dan Keimanan. Vol 6(8), p.5. Diambil 4 April 2021, website: Corona Virus: Cemas, Eksistensi Manusia dan Keimanan (k-pin.org)

 

Humphries, R.6 tips remaja bisa menjaga kesehatan mental selama coronavirus (COVID-19). Diakses pada 7 April 2021, dari unicef.org, website: https://www.unicef.org/indonesia/id/coronavirus/tips-remaja-menjaga-kesehatan-mental-selama-covid-19

 

Wardani, L.M.I. (2021). Existential Psychology : Rollo MayJakarta Barat: Universitas Mercubuana.

 

World Health Organization. (2020). Corona Virus Disease (COVID-19) Pandemic. Diakses pada 6 April 2021,  dari, website: https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1