ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 68 Oktober 2026

Bukan Sekedar Kasihan: Pergeseran Paradigma Relawan Untuk Anak Jalanan
Oleh:

1Arie Rihardini Sundari & 2Husna Mitsali

1Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I

2Dynamics of Applied Social Psychology Research

Pengantar

Anak-anak pra sejahtera (baca: jalanan) di pinggiran kota, berhak mendapatkan pendidikan yang layak itu tepat. Namun dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, misalnya tidak tersedianya gawai-perangkat akses informasi yang lebih luas dan tempat belajar yang apa adanya, terlebih tekanan ekonomi, pendidikan selayaknya berfungsi sebagai pembangun harapan agar mereka dapat hidup lebih baik, melebihi standar yang selama ini mereka alami. Celah yang belum terjangkau pemerintah ini melahirkan berbagai komunitas relawan pengajar. Apa yang sebenarnya ada di pikiran para relawan ini? Apakah kasihan mengemuka tatkala menghadapi mereka, atau misi perubahan jangka panjang menjadi penggerak utama?

 

Apakah Kasihan atau Pemberdayaan yang Dominan?

Sudut pandang kasihan (charity-based) berfokus pada suatu tren khas yang serba instan, contohnya bagi-bagi buku, makanan, atau donasi pakaian. Sisi positifnya yaitu dapat memenuhi kebutuhan darurat secara langsung yang merupakan solusi instan. Selain itu dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa sistem yang rumit, artinya aksesbilitasnya tinggi. Lantas memicu empati dari anak-anak jalanan itu sendiri, selain publik secara umum. Sementara, paradigma tersebut memiliki keterbatasan dalam hal berpotensi menciptakan ketergantungan (learned helplessness), karena mematikan inisiatif belajar dan menciptakan mentalitas pasif. Alasan lainnya adalah sudut pandang ini mengabaikan akar masalah yang sesungguhnya berupa ketidak-adilan sistem dan akses pendidikan yang merata.

 

Sudut pandang yang lainnya mengutamakan pemberdayaan atau empowerment-based (Alvarez dkk, 2018; Ekthias & Nusantara, 2020; Messman dkk, 2022), dimana relawan pendidikan berfokus pada mengubah pola pikir (mindset) anak dan (juga) orang tua. Utamanya mengajarkan keterampilan hidup, berpikir kritis, dan kemandirian agar anak-anak jalanan tersebut dapat memutus mata rantai kemiskinan sendiri. Manfaat lainnya berupa melindungi dari dampak negatif terhadap kesehatan mental dan kenakalan (deliquency). Pada dasarnya, kepuasan yang diraih (oleh relawan pendidikan) dari tindakan yang dilandasi oleh motif nilai altruistik (Morse dkk, 2020) selain memproteksi mereka dari burnout saat mengajar, akan menjadi prinsip utama dalam menyusun sistem dan intervensi pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan. Kepuasan pula yang menjadi hasil dari perilaku prososial berupa pemberdayaan psikologis, sebagaimana disampaikan oleh Seibert, Silver, & Randolph (dalam Alvarez dkk, 2018).

           

Bagaimana Relawan Pendidikan Beraksi?

Ketika sistem pendidikan formal belum sepenuhnya mampu merangkul anak-anak di garis marginal ini, muncullah riak-riak gerakan sosial dari masyarakat. Kelas-kelas informal di kolong jembatan, taman kota, hingga teras rumah warga mulai tumbuh subur, diinisiasi oleh anak-anak muda yang menamakan diri mereka relawan pendidikan. Namun, sebuah pertanyaan mendasar muncul ke permukaan: kehadiran pada relawan ini sebenarnya membawa dampak perubahan yang berkelanjutan, atau sekedar menjadi penawar rindu belajar yang sifatnya sementara? Semua itu sangat bergantung pada paradigma atau cara pandang yang dibawa oleh para relawan saat pertama kali melangkahkan kaki ke ruang-ruang belajar alternatif.

 

Metode mengajar yang ditawarkan unik dan khusus, karena bertujuan untuk merebut hati anak-anak (Natalia & Syamsi, 2019). Seperti misalnya belajar sambil bermain, memanfaatkan ruang publik seperti RPTRA. Selain itu, terdapat pendekatan emosional, relawan seringkali bertindak bukan sebagai guru, tapi juga sebagai kakak, sahabat, dan motivator. Tujuan utama pemberdayaan, utamanya agar peserta didik (anak-anak jalanan) memiliki growth mindset kelak (Fauzi dkk, 2025), selain keterampilan hidup, berpikir kritis, dan kemandirian. Program-program yang sebaiknya ada berfokus pada pemberian dukungan yang bersifat emosional, informasional, dan struktural. Membangun hubungan yang stabil serta menyediakan akses terhadap pendidikan dan identitas hukum merupakan hal yang krusial bagi perkembangan identitas yang positif (Aina & Imelda, 2025).

 

Kerikil di Jalan Sunyi: Tantangan yang Dihadapi dan Solusi

Masalah yang dihadapi tidak ringan. Secara internal, “penyakit hangat-hangat tahi ayam” tidak dapat dipungkiri menjangkiti para relawan ini. Mereka datang dan pergi silih berganti karena kesibukan kuliah atau kerja dan minimnya dana operasional. Sementara menghadapi karakteristik anak jalanan yang mengalami konsep diri rendah, gangguan emosi, cenderung agresif, kurang disiplin, tingkat fokus yang rendah, dan tingkat kehadiran yang rendah (WHO, 2012; Suci, 2017; Natalia & Syamsi, 2019; Supriatna dkk, 2024; Aina & Imelda, 2025) menyebabkan relawan mengalami stres. Selain itu rasa bersalah yang kompleks yang muncul saat relawan pulang ke rumah yang nyaman, sementara mengetahui anak didiknya harus tidur di emperan toko atau menghadapi lingkungan yang tidak aman (Voothayakumar, 2022).

 

Benturan realita yang lain berasal dari eksternal, yaitu orang tua yang menolak anaknya belajar. Mereka lebih memilih anaknya bekerja atau mengemis di pinggir jalan untuk biaya makan sehari-hari (Natalia & Syamsi, 2019). Hal itu menunjukkan kondisi lingkungan yang tidak mendukung anak untuk berkembang secara akademis. Oleh karenanya, pembelajaran yang bermakna dan memikat atensi anak sangat penting, agar peserta didik dari keluarga pra sejahtera ini tetap bersedia hadir di kelas, walaupun mendapatkan tuntutan bekerja dari orang tuanya. Selanjutnya, ketrampilan konseling dapat mempersenjatai para relawan pendidikan ini dengan lebih terstruktur dan terukur (Supriatna dkk, 2024). Diantaranya, mendengarkan aktif, menunjukkan empati, dan membangun kepercayaan, sehingga dapat membantu anak-anak jalanan untuk lebih terbuka dalam berbagi perasaan mereka dan menerima dukungan yang ditawarkan serta mengenali tanda-tanda gangguan psikologis.

 

Kesimpulan

Apabila point of view menetap pada rasa kasihan, maka modal dasar untuk pemberdayaan pendidikan anak keluarga pra sejahtera tersebut tidak akan berkelanjutan. Butuh strategi, konsistensi, dan paradigma pemberdayaan yang mendorong mereka untuk memiliki growth mindset. Oleh karenanya, tulisan ini mengajak untuk seluruh komunitas dapat berkolaborasi dengan masyarakat umum beserta pemerintah agar gerakan ini dapat berkesinambungan secara tepat.

 

Referensi:

Aina, A. Q., & Imelda, J. D. (2025). Social support in the formation of street children's identity. Journal of Youth and Outdoor Activities, 2(1), 1-14. https://doi.org/10.61511/jyoa.v2i1.2025.3632

Alvarez, K., van Leeuwen, E., Montenegro-Montenegro, E., & van Vugt, M. (2018). Empowering the poor: A field study of the social psychological consequences of receiving autonomy or dependency aid in Panama. The British journal of social psychology, 57(2), 327–345. https://doi.org/10.1111/bjso.12234

Ekthias, N. R., & Nusantara, W. (2020). Model Pendampingan Anak Jalanan Berbasis Penguatan Minat Bakat di UPTD Kampung Anak Negeri Surabaya. J+UNESA: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah, Vol 9 No 20 Hal 61-68 E- ISSN 2580-8060

Fauzi, A. K . P., Azahra, S. A., & Rismelani, A. (2025). Psikoedukasi Growth Mindset Pada Anak Sekolah Dasar di Komunitas Cahaya Anak Negeri: Upaya Menumbuhkan Semangat Belajar dan Pantang Menyerah. Krepa: Kreativitas Pada Abdimas, Vol 6 No 4 Tahun 2025. ISSN 2988-3059 Cahaya Ilmu Bangsa. DOI : 10.9765/Krepa.V218.3784

Messman, E., Scott, B., Smith-Darden, J., Cortina, K., Thulin, E., Zimmerman, M., & Kernsmith, P. (2022). Psychological empowerment as a route for positive adjustment during adolescence. Journal of applied developmental psychology, 83, 10.1016/j.appdev.2022.101458. https://doi.org/10.1016/j.appdev.2022.101458

Morse, J. L., Dik, B. J., Shimizu, A. B., Reed, K. A. (2020). Volunteerism and Burnout: Does Satisfaction of Motives for Volunteering Protects Against Symptoms?. International Society for Third-Section Research, Voluntas  https://doi.org/10.1007/s11266-020-00257-y

Natalia, I. M., & Syamsi, I. (2019). The Management of Education Center Programs for Street Children Empowerment in a Non-Governmental Organization (NGO). Jurnal Ilmiah VISI PGTK PAUD dan Dikmas, Volume 2 issue 2 Desember 2019. DOI: doi.org/10.21009/JIV.1402.1

Suci, D. T. (2017). Konsep diri anak jalanan. SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling, 2(2), 14-19, ISSN (Print): 2548-3234| ISSN (Electronic): 2548-3226 Open Access Journal: https://jurnal.iicet.org/index.php/schoulid

Supriatna, E., Hidayat, R. S., Agiati, E.,dan  Andayani, R. H. R. (2024). Pelatihan Konseling Berbasis Psikososial Bagi Relawan Anak Jalanan di Kota Bandung. Jurnal Pengabdian Tri Bakti, Vol. 6, No. 2, Desember 2024. p-ISSN 2715-1123, e-ISSN 2715-1131. Diakses dari url: http://journal.unla.ac.id/index.php/tribhakti pada 16 Juli 2026.

Voothayakumar, D. (2022). Building Bridges. Diakses dari https://www.unodc.org/unodc/en/prevention/youth-initiative/youth-magazine/2022/june/building-bridges.html

WHO. 2012. Working with Street Children: A Training Package on Substance Use, Sexual and Reproductive Health Including HIV/AIDS. Diakses dari  https://www.who.int/publications/i/item/working-with-street-children-a-training-package-on-substance-use-sexual-and-reproductive-health-including-hiv-aids