ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 67 Oktober 2026

Meaning in Life dan Peran Gender: Implikasi bagi Kesehatan Mental Perempuan Indonesia

Oleh:

1Mia Anita Lestari & 2Susan Rahmayani

1Fakultas Psikologi Universitas Tama Jagakarsa

2Fakultas Psikologi Universitas Jayabaya

Pengantar

"Saya sudah melakukan semuanya, tetapi mengapa tetap merasa kosong?"

Pukul lima pagi, alarm berbunyi. Mawar—bukan nama sebenarnya—segera bangun menyiapkan sarapan, membangunkan anak-anak, lalu bersiap menuju kampus tempat ia mengajar. Sepanjang hari ia bergantian menjadi dosen, pembimbing mahasiswa, peneliti, sekaligus anggota beberapa organisasi profesi. Sepulang bekerja, aktivitasnya belum selesai. Masih ada pekerjaan rumah yang menunggu, tugas mendampingi anak belajar, hingga menyelesaikan revisi artikel ilmiah yang tenggatnya tinggal beberapa hari lagi.

Malam itu, ketika semua anggota keluarga telah tertidur, Mawar menutup laptopnya. Bukan karena pekerjaannya selesai, tetapi karena tubuh dan pikirannya sudah tidak lagi mampu diajak bekerja sama. Di tengah keheningan, muncul sebuah pertanyaan yang terus mengganggunya.

"Apakah hidup yang saya jalani benar-benar hidup yang saya pilih, atau sekadar hidup yang diharapkan orang lain?"

Mawar bukan satu-satunya perempuan yang mengalami pergulatan seperti ini. Di balik meningkatnya jumlah perempuan Indonesia yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, membangun karier profesional, memimpin organisasi, atau menduduki posisi strategis, tersimpan cerita lain yang jarang terlihat. Banyak perempuan merasa harus menjadi "sempurna" dalam setiap peran: profesional yang kompeten, ibu yang selalu hadir, istri yang suportif, anak yang berbakti, sekaligus individu yang tetap mampu merawat dirinya sendiri. Ketika salah satu peran tidak terpenuhi sesuai harapan, rasa bersalah sering kali muncul lebih dahulu daripada rasa bangga atas pencapaian yang telah diraih.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan perempuan masa kini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kesempatan memperoleh pendidikan atau pekerjaan. Tantangan yang lebih mendalam adalah bagaimana perempuan memaknai seluruh peran yang dijalani. Mengapa sebagian perempuan tetap merasa bahagia meskipun menjalankan banyak tanggung jawab, sementara yang lain justru mengalami kelelahan emosional, kehilangan motivasi, bahkan mempertanyakan tujuan hidupnya?

 

Meaning in Life dan Peran Gender

Psikologi positif menawarkan salah satu kerangka penting untuk memahami kesejahteraan psikologis melalui konsep meaning in life. Menurut Michael F. Steger (2012), meaning in life merupakan pengalaman subjektif ketika individu memandang kehidupannya memiliki tujuan (purpose), koherensi (coherence), dan signifikansi (significance). Individu yang memiliki tingkat meaning in life yang tinggi cenderung menunjukkan kesejahteraan psikologis yang lebih baik, memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih adaptif, serta lebih mampu menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Sebaliknya, rendahnya makna hidup berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, stres psikologis, dan berbagai indikator psikopatologi lainnya (Steger, Frazier, Oishi, & Kaler, 2006; Steger, 2012; Steger, 2022).

Bagi perempuan Indonesia, pencarian makna hidup sering kali berlangsung di tengah perubahan sosial yang sangat cepat. Kesempatan untuk belajar, bekerja, dan berkarier semakin terbuka, tetapi ekspektasi mengenai peran perempuan dalam keluarga belum sepenuhnya berubah. Banyak perempuan akhirnya menjalani dua bahkan tiga peran sekaligus. Perempuan diharapkan produktif di ruang publik, tetapi pada saat yang sama tetap menjadi penanggung jawab utama urusan domestik . Situasi ini menciptakan konflik peran (role conflict) yang dalam jangka panjang dapat menguras energi psikologis.

 

Implikasi bagi Kesehatan Mental Perempuan Indonesia

Perspektif Feminist Mental Health mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak boleh dipahami semata-mata sebagai kelemahan individu dalam mengelola stres (Stoppard, 1992; Ussher, 2011). Sebaliknya, kesehatan mental perempuan dibentuk oleh interaksi antara faktor personal dan lingkungan sosial yang melingkupinya (Ussher, 2011). Norma gender, pembagian peran yang tidak setara, pengalaman diskriminasi, hingga kesempatan untuk menentukan pilihan hidup merupakan bagian dari konteks yang memengaruhi kesejahteraan psikologis perempuan (Ussher & Ussher, 2011). Pandangan ini sejalan dengan World Mental Health Report yang menegaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh lingkungan sosial, kesempatan hidup, dan kondisi yang memungkinkan setiap individu hidup dengan martabat dan memperoleh kesempatan yang setara (World Health Organization [WHO], 2022).

Oleh karena itu, pembahasan mengenai kesehatan mental perempuan tidak cukup berhenti pada pertanyaan "Bagaimana perempuan mengatasi stres?" Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Apakah perempuan memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang bermakna menurut dirinya sendiri?" Sebab pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya tentang bertahan dari tekanan hidup, tetapi juga tentang memiliki ruang untuk bertumbuh, memilih, dan menjalani kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai yang diyakini.

 

Ketika Peran Menjadi Beban, Bukan Lagi Sumber Makna

Selama bertahun-tahun, keberhasilan perempuan sering diukur dari kemampuannya menjalankan berbagai peran secara bersamaan. Perempuan yang mampu menjadi ibu yang hangat, istri yang mendukung, pekerja yang produktif, sekaligus aktif dalam kegiatan sosial sering dipandang sebagai sosok yang ideal. Tidak sedikit perempuan kemudian berusaha memenuhi seluruh ekspektasi tersebut dengan keyakinan bahwa semakin banyak peran yang dijalankan, semakin tinggi pula nilai dirinya.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa banyaknya peran tidak selalu identik dengan tingginya kesejahteraan psikologis. Peran dapat menjadi sumber kepuasan apabila dijalankan secara sukarela, sesuai dengan nilai pribadi, dan memperoleh dukungan dari lingkungan. Sebaliknya, ketika peran dijalankan karena tekanan sosial, rasa takut terhadap penilaian orang lain, atau tuntutan budaya yang tidak memberikan ruang untuk memilih, peran justru berubah menjadi sumber stres yang berkepanjangan.

Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai konflik peran (role conflict), yaitu situasi ketika ekspektasi dari suatu peran bersifat ambigu atau saling bertentangan dengan peran lainnya (Kahn et al., 1964, dalam Zhang et al., 2022). Seorang perempuan  memiliki tuntutan  memiliki dari dua atau lebih peran sulit dipenuhi secara bersamaan. Misalnya, mungkin diminta menjadi dosen yang produktif, peneliti yang aktif, ibu yang selalu hadir bagi anak, sekaligus anak yang bertanggung jawab merawat orang tua. Masing-masing peran memiliki tuntutan yang sama pentingnya, tetapi waktu, energi, dan kapasitas psikologis manusia tetap terbatas. Ketika perempuan merasa tidak mampu memenuhi seluruh tuntutan tersebut, rasa bersalah sering muncul, bahkan ketika ia telah melakukan yang terbaik.

Konflik peran tidak hanya menimbulkan kelelahan fisik, tetapi juga menguras sumber daya psikologis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konflik antara pekerjaan dan keluarga berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, burnout, gangguan tidur, serta menurunnya kepuasan hidup. Dalam jangka panjang, tekanan yang terus berlangsung dapat memengaruhi kesehatan mental apabila individu tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan diri atau memperoleh dukungan sosial yang memadai (Liu et al., 2026).

Menariknya, penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa tidak semua perempuan yang menghadapi konflik peran mengalami gangguan psikologis. Sebagian tetap mampu bertahan, bahkan berkembang di tengah berbagai tuntutan. Salah satu faktor yang membedakannya adalah kemampuan menemukan makna dalam kehidupan yang dijalani.

Michael F. Steger (2006) menjelaskan bahwa meaning in life terdiri atas dua dimensi penting, yaitu presence of meaning, yaitu sejauh mana seseorang merasakan bahwa hidupnya telah bermakna, dan search for meaning, yaitu usaha aktif seseorang untuk menemukan makna tersebut. Kedua dimensi ini saling melengkapi. Ada individu yang telah menemukan makna dalam hidupnya sehingga mampu menghadapi tekanan dengan lebih tenang, sementara yang lain masih berada dalam proses pencarian, terutama ketika menghadapi perubahan besar dalam kehidupan seperti menikah, menjadi orang tua, membangun karier, atau kehilangan pekerjaan.

Bagi perempuan Indonesia, pencarian makna hidup sering kali berlangsung di tengah tarik-menarik antara nilai pribadi dan harapan sosial. Sebagian perempuan menemukan makna melalui pengasuhan anak dan kehidupan keluarga. Sebagian lainnya menemukan makna melalui profesi, pendidikan, pelayanan kepada masyarakat, kegiatan sosial, atau karya yang dihasilkannya. Tidak sedikit pula yang memperoleh makna dari kombinasi berbagai peran tersebut. Dengan demikian, tidak ada satu bentuk kehidupan yang paling benar untuk semua perempuan. Yang terpenting adalah apakah perempuan memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalani peran yang selaras dengan nilai serta tujuan hidupnya.

Kesimpulan

Memahami konsep meaning in life menjadi sangat penting bagi kesehatan mental. Ketika seseorang merasa bahwa aktivitas sehari-harinya mencerminkan nilai-nilai yang diyakininya, tantangan hidup cenderung dipersepsikan sebagai bagian dari proses bertumbuh, bukan sekadar beban. Sebaliknya, apabila kehidupan dijalani terutama untuk memenuhi ekspektasi orang lain, individu lebih rentan mengalami kehampaan, kehilangan arah, serta kelelahan emosional meskipun tampak berhasil di mata masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan teori logoterapi yang dikembangkan oleh Viktor Frankl (1959/2006). Frankl berpendapat bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk menemukan makna dalam hidupnya. Dalam konteks perempuan Indonesia, gagasan Frankl memberikan refleksi penting bahwa kesejahteraan psikologis tidak hanya ditentukan oleh banyaknya peran yang dijalankan, tetapi juga oleh sejauh mana perempuan dapat menjalani peran tersebut sebagai pilihan yang bermakna, bukan semata-mata sebagai kewajiban yang dipaksakan. Oleh karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah "Apakah perempuan mampu menjalankan semua perannya?" melainkan "Apakah perempuan memiliki ruang untuk menentukan sendiri makna dari peran-peran yang dijalaninya?" Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi kunci untuk memahami mengapa sebagian perempuan tetap sehat secara mental dan mampu bertumbuh di tengah berbagai tuntutan,

 

Daftar Pustaka

Allen, T. D., French, K. A., Dumani, S., & Shockley, K. M. (2020). A cross-national meta-analytic examination of predictors and outcomes associated with work–family conflict. Journal of Applied Psychology, 105(6), 539–576. https://doi.org/10.1037/apl0000442

Brown, L. S. (2018). Feminist therapy (2nd ed.). American Psychological Association.

Frankl, V. E. (2006). Man's search for meaning. Beacon Press. (Original work published 1959)

Greenhaus, J. H., & Beutell, N. J. (1985). Sources of conflict between work and family roles. Academy of Management Review, 10(1), 76–88. https://doi.org/10.5465/amr.1985.4277352

Liu, D., Ni, Y., Ma, T. S. W., Fan, X., Zhan, Y., Lam, I. H. L., Lui, M. C. L., Chandola, T., Kawachi, I., & Cuijpers, P. (2026). Work-family conflict and mental health: A systematic review and meta-analysis. PLOS Medicine, 23(7), e1005162. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1005162

Steger, M. F. (2012). Making meaning in life. Psychological Inquiry, 23(4), 381–385. https://doi.org/10.1080/1047840X.2012.720832

Steger, M. F., Frazier, P., Oishi, S., & Kaler, M. (2006). The Meaning in Life Questionnaire: Assessing the presence of and search for meaning in life. Journal of Counseling Psychology, 53(1), 80–93. https://doi.org/10.1037/0022-0167.53.1.80

Stoppard, J. M. (1992). Women and mental health: Two traditions of feminist research. Canadian Journal of Community Mental Health, 11(1), 39–54.

Ussher, J. M. (2011). The madness of women: Myth and experience. Routledge.

World Health Organization. (2022). World mental health report: Transforming mental health for all. World Health Organization.

Worell, J., & Remer, P. (2003). Feminist perspectives in therapy: Empowering diverse women (2nd ed.). John Wiley & Sons.

Zhang, Y., Zhang, S., & Hua, W. (2022). The impact of role conflict on turnover intention among faculty members: A moderated mediation model of emotional exhaustion and workplace relational conflict. Frontiers in Psychology, 13, Article 1087947. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1087947