ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 68 Oktober 2026
Pertumbuhan Pasca Trauma: Menelusuri Jejak Keberanian Menghadapi Luka
Oleh:
Arie Rihardini Sundari dan Tanti Susilarini
Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI
Pengantar
Sebuah kasus: Maya (36 tahun) memutuskan keluar dari rumah mertuanya setelah 12 tahun menderita akibat manipulasi psikologis suaminya, Rendra (38 tahun), yang mengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD). Sebuah diagnosa yang disampaikan kepadanya oleh psikolog keluarga mereka, saat konseling terpisah dengan suaminya beberapa waktu silam. Rendra selalu menuntut citra keluarga sempurna di depan publik, namun di rumah ia mengisolasi Maya dan menolak menerima kondisi anak tunggal mereka, Arka (11 tahun), yang mengidap autisme non-verbal. Situasi diperparah saat Rendra membentak Arka yang sedang mengalami meltdown dan mengancam akan membuangnya ke panti asuhan karena dianggap memalukan. Demi melindungi masa depan dan kondisi mental anaknya dan juga dirinya, Maya nekat membawa Arka kabur dari rumah tersebut pada malam hari menuju rumah orang tuanya. Ia langsung melayangkan gugatan cerai dan fokus pada pemulihan trauma mereka, meskipun Rendra membalasnya dengan amukan (narcissistic rage) serta mencoba merusak reputasi Maya di media sosial. Tindakan Maya tersebut merupakan salah satu strategi untuk meredefinisi ulang batasan pribadi dan membangun kembali harga diri, di tengah strategi “penaklukan kembali’ dari suami (kayaalp, 2025).
Keberanian korban (sebagaimana ilustrasi di atas) untuk mengambil keputusan menggugat cerai adalah bagian dari proses menyelamatkan diri dari hubungan beracun yang dialaminya, sekaligus memulihkan luka trauma kekerasan psikis akibat perilaku manipulatif dan nirempati pasangan. Proses pemulihan trauma yang perlahan, sejatinya berawal dari perjalanan menemukan makna atas sebuah kejadian dalam hidup. Artikel ini bertujuan untuk memetakannya.
Paradigm shifting melalui intervensi tepat
Gagalnya sebuah hubungan romantis, cenderung berdampak pada perenungan yang bersifat meratapi nasib berulang-ulang (brooding rumination), seperti terus menerus mempertahankan narasi menyalahkan diri sendiri karena "tidak bisa bertahan lebih lama," "kurang sabar," atau "gagal mengubah suaminya”. Dampaknya adalah stres berkepanjangan dan pola pikir negatif terkait peristiwa tersebut, serta meyakini diri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan yang konstruktif (Nolen-Hoeksema, Wisco & Lyubomirsky, 2008). Pada dasarnya, narasi negatif berulang tersebut adalah hasil dari blame-shifting, rasa bersalah yang berasal dari abuse psikologis (seperti gaslighting dan blaming) oleh pasangan narsistik yang seringkali menyalahkan istri atas kondisi autisme anak dan tidak kompeten mengurus rumah tangga. Rasa bersalah-dalam hal ini yang terus menerus diulang, yang berasal dari pemaafan yang belum maksimal, dapat menjadi penyebab dari depresi berkepanjangan (Sundari dkk, 2024). Selain itu, ruminasi yang melibatkan pemusatan perhatian pada perasaan negatif dan karakteristik pribadi, dapat memperparah depresi, bahkan menjadi gangguan depresi (Nolen-Hoeksema & Morrow, 1993; Nolen-Hoeksema, 2000).
Brooding rumination dapat mengarah pada strategi dysfunctional coping dan depresi (Adikusumah, Kustimah & Meindy, 2023). Sementara proses perceraian dapat memicu konsekuensi psikologis yang traumatis bagi masing-masing pihak yang mengalaminya (Fitria & Nirly, 2022). Demi menata ulang persepsi diri dan terbebas dari jerat hubungan yang beracun, hal pertama yang sebaiknya dilakukan korban adalah menggeser pola pikir (paradigm shifting). Dalam hidup, selain kematian atau kehilangan dan rasa bersalah, salah satu aspek yang tidak terhindarkan lainnya adalah penderitaan. Demikian salah satu prinsip dalam logoterapi (Frankl, 1984). Tindakan mengubah pola pikir sebagai korban dengan memaknai kembali penderitaan saat berumahtangga dengan pasangan narsistik dan proses perceraian yang melelahkan, dapat dilakukan dengan tekhnik socratic dialogue. Melalui bantuan terapis, klien diajak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menantang distorsi kognitif yang depresif (yaitu narasi menyalahkan diri sendiri bukan kebenaran) sekaligus membimbing klien mengeksplorasi nilai hidup yang masih tersisa. Tekhnik ini mengajarkan bahwa saat penderitaan tidak bisa dihindari (memiliki ABK dan mengalami perceraian), seseorang tetap memiliki kebebasan untuk memilih sikapnya (freedom of will). Dialog ini mengarahkan klien menemukan makna baru di balik badai tersebut.
Selain tekhnik socratic dialogue, Rumination-Focused Cognitive Behavioral Therapy (RFCBT) menjadi alternatif lain untuk mengatasi trauma korban pasca perceraian dengan suami NPD. Tekhnik ini memodifikasi cara individu memproses informasi, dari gaya berpikir yang abstrak dan evaluatif seperti "mengapa pernikahan saya gagal?", "mengapa perceraian ini terjadi pada saya?" menjadi konkret dan fungsional (Kusuma & Kurniawan, 2025), yaitu “Bagaimana langkah konkret yang bisa saya ambil hari ini untuk mengamankan hak asuh anak saya?” atau “Bagaimana urutan rutinitas pagi yang bisa kita buat agar anak tidak cemas pasca-perceraian ini?”. RFCBT dapat meningkatkan regulasi emosi klien dalam menghadapi pusaran narasi negatif yang berulang-ulang.
Refleksi ruminatif (reflection rumination), sebagaimana dijelaskan di atas, yang dikaitkan dengan pemecahan masalah secara aktif, (Lyubomirsky & Nolen-Hoeksema, 1993) pada akhirnya dapat mengarah pada post-traumatic growth atau pertumbuhan pascatrauma (Michl dkk, 2013). Terapis membantu klien mengalihkan pandangan dari penderitaan egosentris (ruminasi depresi) menuju Attitudinal Values, transformasi eksistensial yang melampaui kondisi awalnya. Mengubah rasa bersalah emosional yang cenderung depresif (ketika bercerai dari pasangan yang manipulatif) menjadi sikap tanggung jawab yang nyata sebagai seorang ibu ABK yang berkewajiban mengasuh dan mendidik anaknya. Suatu sikap yang menunjukkan ketangguhan karena berani menghadapi luka penderitaan, sekaligus kebijaksanaan karena mampu menemukan makna baru dalam hidupnya, yang dikenal dengan pertumbuhan pasca trauma.
Kesimpulan
Perceraian dengan pasangan narsistik (NPD) memicu trauma dan brooding rumination (meratapi nasib atau menyalahkan diri sendiri akibat manipulasi psikologis), yang dapat memperpanjang depresi dan memicu dysfunctional coping. Untuk memulihkan diri, korban perlu melakukan paradigm shifting (pergeseran pola pikir) dari penderitaan egosentris menjadi pemaknaan hidup yang konstruktif melalui intervensi terapeutik.
Referensi:
Adikusumah, R. M. R., Kustimah, & Meindy, N. (2023). Rumination and coping: How emerging adults deal with romantic breakups. Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 25(2), 174–184. https://doi.org/10.26486/psikologi.v25i2.3338
Fitria, Y. F., & Nirly, D. Y. (2023). Gagal “Move On”: Peran Ruminasi pada Kesepian dengan Kesejahteraan Psikologis di masa Perceraian. Journal Psikogenesis, 10(1), 54–63. https://doi.org/10.24854/jps.v10i1.2857
Frankl, Viktor. E. (1984). Man’s searching for meaning. Beacon Press.
Kayaalp, A. (2025). The psychological effects of relationships with individuals having Narsistic Personality Disorder on victims. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan (JPTT), Vol. 16, No. 2, 89-97. p-ISSN: 2087-1708; e-ISSN: 2597-9035 doi: https://doi.org/10.26740/jptt.v16n02.p89-97
Kusuma, M. A. T. A., dan Kurniawan, A. (2025). Rumination-Focused Cognitive Behavioral Therapy pada Perempuan Dewasa Muda dengan Perilaku Ruminasi: Studi Kasus Deskriptif. Jurnal Experientia Volume 13, Nomor (1) Juni 2025, h. 39-50. https://doi.org/10.33508/exp.v13i1.7400
Lyubomirsky, S., & Nolen-Hoeksema, S. (1993). Self-perpetuating properties of dysphoric rumination. Journal of Personality and Social Psychology, 65(2), 339–349. https://doi.org/10.1037//0022-3514.65.2.339
Michl, L. C., McLaughlin, K. A., Shepherd, K., & Nolen-Hoeksema, S. (2013). Rumination as a mechanism linking stressful life events to symptoms of depression and anxiety: Longitudinal evidence in early adolescents and adults. Journal of Abnormal Psychology, 122(2), 339–352. https://doi.org/10.1037/a0031994
Nolen-Hoeksema, S., Wisco, B. E., & Lyubomirsky, S. (2008). Rethinking Rumination. Perspectives on Psychological Science, 3(5), 400–424. https://doi.org/10.1111/j.1745-6924.2008.00088.x
Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders and mixed anxiety/depressive symptoms. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–511. https://doi.org/10.1037/0021-843X.109.3.504
Nolen-Hoeksema, S., & Morrow, J. (1993). Effects of rumination and distraction on naturally occurring depressed mood. Cognition and Emotion, 7(6), 561–570. https://doi.org/10.1080/02699939308409206
Sundari, A. R., Susilarini, T., Herdajani, F., Wibawanti, I., & Bayani, I. (2024). Hardiness as a Mediator of the Relationship Between Revenge Motivation of Forgiveness and Depression Among Emerging Adults. Proceeding of International Conference on Multidisciplinary Research for Sustainable Innovation, Vol. 1 No. 1 (2024).