ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 67 Oktober 2026

 

Peran Orang Tua sebagai Navigator dalam Pengambilan Keputusan Karier Remaja: Dari Pemilihan Jurusan menuju Kesiapan Karier

Oleh:

Sherly & Shanty Sudarji

Program Studi Psikologi, Universitas Bunda Mulia

Menjadi orang tua di masa kini menghadirkan tantangan berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, perubahan sistem pendidikan, dan dinamika dunia kerja menuntut orang tua memahami perubahan di sekitar anak. Mendampingi anak kini bukan lagi sekadar soal prestasi akademik, tetapi juga membantunya mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang terus berubah (Sarifatunnazwa, 2024).

Salah satu keputusan yang mulai dihadapi anak saat memasuki SMA adalah pilihan studi dan karier. Bagi sebagian remaja, keputusan ini melibatkan refleksi diri, eksplorasi, dan komitmen, sembari mempertimbangkan minat, kemampuan, nilai pribadi, hingga gambaran pekerjaan yang ingin dijalani (Darmawan dkk., 2026). Namun tidak semua remaja cukup memahami dirinya maupun pilihan yang tersedia (Purnama, 2024). Akar kesulitan remaja lebih banyak terletak pada rendahnya pemahaman diri dan tekanan ekspektasi lingkungan, bukan sekadar kelangkaan informasi (Darmawan dkk., 2026).

 

Fenomena ketidaksesuaian pilihan jurusan cukup menonjol. Irene Guntur dari Integrity Development Flexibility (IDF) pada 2021 menyebut 87% mahasiswa merasa salah jurusan (Zulfikar, 2021), mengisyaratkan bahwa proses menentukan program studi tidak selalu berlangsung matang dan sesuai kebutuhan mahasiswa (Saragih & Simbolan, 2022). Purnama (2024), mengidentifikasi tiga faktor mendasar penyebab kesulitan remaja mengambil keputusan karier: ekspektasi sosial yang berlebihan dari orang tua, guru, dan lingkungan pertemanan; ketidakpastian pasar kerja akibat perubahan zaman yang cepat; serta kurangnya informasi tentang dunia karier maupun pemahaman diri sendiri. Ketiga faktor tersebut dapat saling berkelindan, anak belum sepenuhnya memahami diri dan dunia kerja, sementara mereka dituntut segera menentukan pilihan.

 

Urgensi mengubah cara pandang terhadap persiapan karier semakin nyata melihat perubahan dunia kerja. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan hingga 2030 sekitar 39% kompetensi kerja akan berubah atau usang, dengan proyeksi 170 juta pekerjaan baru dan 92 juta pekerjaan mengalami disrupsi. Perubahan ini meningkatkan kebutuhan bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga kognitif dan sosioemosional di mana analytical thinking menjadi keterampilan inti, sementara creative thinking, resilience, flexibility, curiosity, dan lifelong learning diproyeksikan semakin penting (World Economic Forum, 2025). Bagi orang tua, ini berarti anak yang memilih jurusan di usia SMA akan memasuki dunia kerja dalam kondisi yang mungkin berbeda dari saat keputusan dibuat. Menyiapkan anak berarti membekalinya dengan kapasitas beradaptasi, bukan sekadar mengarahkannya pada satu label jurusan yang dianggap "aman" atau bergengsi.

 

Fakta ini bukan bukti bahwa orang tua harus melepas tangan, melainkan sinyal bahwa cara keterlibatan perlu diperbaiki. Grolnick (2003) membedakan secara tegas antara keterlibatan dan kontrol: dukungan otonomi membuat anak lebih mampu mengatur diri dan termotivasi secara internal, sementara kontrol yang berlebihan, sekalipun bermaksud baik, justru melemahkan kapasitas anak untuk mengambil keputusan sendiri. Istilah navigator dipilih untuk membedakannya dari peran "sopir" yang mengambil alih kemudi sepenuhnya, maupun "penumpang" yang sama sekali lepas tangan. Navigator membaca peta bersama, memberi masukan arah, tetapi membiarkan anak sebagai pengemudi yang bertanggung jawab atas jalannya sendiri.

 

Muninggar (2021) menekankan lingkungan keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter dan kesiapan karier anak. Muslimah dan Efrizon (2024) menemukan lingkungan keluarga berhubungan erat dengan kematangan perencanaan karier siswa. Artinya, peran orang tua memang sentral, persoalannya terletak pada bentuk keterlibatan itu, apakah mengarahkan secara sepihak atau mendampingi secara reflektif. Muninggar (2021) menunjukkan bimbingan orang tua, seperti memberi saran mengenai tujuan studi lanjut maupun pilihan pekerjaan, dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pengambilan keputusan karier anak, bukan memaksa anak memilih karier tertentu, melainkan membantu anak menganalisis minat, bakat, kemampuan, atau keterbatasannya.

 

Beberapa area yang dapat didampingi orang tua antara lain: (a) Eksplorasi diri. Mmengenali minat dan kekuatan pribadi melalui pengalaman nyata seperti ekstrakurikuler, yang terbukti efektif membantu peserta didik mengembangkan minat dan bakatnya (Saputri & Sa'adah, 2021); (b) Eksplorasi dunia karier. Mencari tahu langsung tentang pekerjaan lewat obrolan dengan praktisi atau magang singkat, sebab pengalaman praktik kerja lapangan terbukti meningkatkan kesiapan kerja siswa secara signifikan (Hayati dkk., 2024); (c) Literasi keterampilan masa depan. Mengenalkan berpikir kritis, kolaborasi, literasi digital, dan ketahanan menghadapi perubahan; (d) Latihan mengambil keputusan. Memberi ruang berlatih membuat keputusan berskala kecil sejak dini, sejalan dengan dimensi career control dalam kerangka adaptabilitas karier (Purwati & Hapsari, 2025).

 

Orang tua tidak perlu memiliki semua jawaban tentang masa depan anak. Yang lebih penting adalah memastikan anak mampu mencari jawaban, mengevaluasi pilihan, dan menyesuaikan diri ketika keadaan berubah. Keberhasilan pendampingan karier tidak diukur dari apakah anak masuk jurusan yang "tepat", melainkan dari kemampuannya mengenali diri, memahami peluang, dan beradaptasi terhadap perubahan. Menjadi navigator berarti hadir membantu anak membaca peta, bukan menentukan seluruh perjalanan.

 

Daftar Pustaka:

Darmawan, D., Hilmi, A., & Arifin, M. B. (2026). Pengaruh keyakinan diri dan dukungan keluarga terhadap pengambilan keputusan karier SMA sederajat. Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan Sosial Humaniora, 4(2), 246–265. https://doi.org/10.59024/atmosfer.v4i2.1724

Grolnick, W. S. (2003). The psychology of parental control: How well-meant parenting backfires. Lawrence Erlbaum Associates.

Hayati, A. N., Ninghardjanti, P., & Susantiningrum. (2024). Pengaruh pengalaman praktik kerja lapangan (PKL) dan employability skills terhadap kesiapan kerja siswa SMK Negeri 1 Banyudono. Journal of Creative Student Research, 2(3), 67–86. https://doi.org/10.55606/jcsrpolitama.v2i3.3833

Muninggar, M. (2021). Peran Orang Tua Dalam Membimbing Karir Anak. Ristekdik: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 239–244.

Muslimah, N., & Efrizon. (2024). Hubungan motivasi belajar dan lingkungan keluarga dengan perencanaan karir siswa kelas XI jurusan Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Negeri 2 Panyabungan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3).

Saragih, F., & Simbolon, G. (2022). Apakah faktor internal masih relevan dalam menentukan jurusan kuliah? Jurnal Prodi PLS Universitas Nusa Cendana, 1(2).

Purnama, C. Y. (2024). Pentingnya pengambilan keputusan karir pada remaja. Buletin KPIN, 10(4). https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1470-pentingnya-pengambilan-keputusan-karir-pada-remaja

Purwati, E., & Hapsari, M. T. B. (2025). Hubungan antara adversity quotient dengan adaptability career siswa kelas XII di SMK Negeri 5 Surakarta. Jurnal Consulenza: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi, 8(1), 13–26.

Saputri, N., & Sa’adah, N. (2021). Pengembangan minat dan bakat peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler. Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 2(2), 172–187. https://doi.org/10.21093/tj.v2i2.4268

Sarifatunnazwa. (2024). Menghadapi tantangan menjadi orang tua di masa kini. Diambil dari https://kumparan.com/sarifatunnazwa/menghadapi-tantangan-menjadi-orang-tua-di-masa-kini-23ZI0xozfpR

World Economic Forum. (2025). The future of jobs report 2025. https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/

Zulfikar, F. (2021, November 26). 87 persen mahasiswa RI merasa salah jurusan, apa sebabnya? detikEdu. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5828770/87-persen-mahasiswa-ri-merasa-salah-jurusan-apa-sebabnya