ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 67 Oktober 2026
Lebih dari Sekadar Strawberry Generation:
Memahami FOMO dan Kesejahteraan Psikologis Generasi Muda
Oleh:
Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo¹, Indri Theresia,² Tirwan Soleman,² Hendra,² Irvan Andirianto Prabowo², Danto Sukmajati 3 dan Johannes Siregar 4
Program Studi Psikologi,¹ Manajemen,² Arsitektur 3 dan Sistem Informasi
Universitas Pembangunan Jaya
Belakangan ini istilah strawberry generation semakin sering digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap rapuh, mudah tersinggung, kurang tahan terhadap tekanan, atau cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan. Istilah tersebut mudah diterima karena tampak memberikan penjelasan sederhana terhadap berbagai fenomena yang muncul di kalangan generasi muda. Ketika mahasiswa terlihat mudah cemas, kesulitan menghadapi kritik, atau mengalami kebingungan dalam menentukan arah hidup, sebagian orang dengan cepat mengaitkannya dengan label tersebut. Akan tetapi, dari sudut pandang psikologi, persoalannya tidak sesederhana itu.
Pelabelan generasi sering kali menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Pengalaman psikologis seseorang tidak hanya dibentuk oleh karakter pribadi, tetapi juga oleh konteks sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi tempat ia tumbuh. Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam dunia yang selalu terhubung melalui internet, media sosial, dan berbagai platform digital yang memungkinkan informasi bergerak hampir tanpa batas. Kondisi ini menghadirkan peluang yang besar sekaligus tantangan psikologis yang tidak selalu mudah dikelola.
Salah satu fenomena yang banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir adalah fear of missing out atau FOMO. FOMO merujuk pada kecemasan ketika seseorang merasa orang lain sedang menikmati pengalaman yang menyenangkan, penting, atau bermakna tanpa kehadirannya. Perasaan tersebut mendorong individu untuk terus mengikuti aktivitas orang lain, memantau media sosial, dan memastikan dirinya tidak tertinggal informasi. Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO dapat muncul saat seseorang merasa perlu terus memeriksa notifikasi, mengikuti tren terbaru, atau membandingkan pencapaiannya dengan pencapaian orang lain yang tampil di media sosial (Jing et al., 2025).
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik media sosial itu sendiri. Setiap hari individu disuguhi berbagai potongan kehidupan orang lain: foto liburan, pencapaian akademik, keberhasilan karier, hubungan romantis, maupun gaya hidup yang tampak menarik. Masalahnya, media sosial sering kali hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Ketika individu membandingkan kehidupannya yang penuh dengan tantangan nyata terhadap representasi ideal kehidupan orang lain, perbandingan tersebut menjadi tidak seimbang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memunculkan perasaan kurang berhasil, tidak cukup baik, atau tertinggal dibandingkan orang lain.
Namun demikian, menyalahkan media sosial sepenuhnya juga bukan pendekatan yang tepat. Media sosial dapat menjadi ruang belajar, ruang dukungan sosial, sarana membangun jaringan profesional, serta media untuk mengekspresikan diri. Pengaruhnya terhadap kesehatan psikologis bergantung pada bagaimana individu menggunakannya, kebutuhan psikologis yang melatarbelakanginya, serta kemampuan untuk mengelola interaksi digital secara sehat. Dengan kata lain, permasalahannya bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan media sosial, melainkan bagaimana hubungan antara individu, kebutuhan psikologisnya, dan lingkungan digital yang dihadapinya.
Untuk memahami fenomena ini secara lebih konstruktif, psikologi menawarkan perspektif kesejahteraan psikologis (psychological well-being). Berbeda dengan pandangan yang hanya menekankan kebahagiaan sesaat atau ketiadaan masalah, konsep kesejahteraan psikologis yang dikembangkan Carol Ryff menekankan kemampuan individu untuk berfungsi secara positif. Kesejahteraan psikologis mencakup penerimaan diri (self-acceptance), relasi positif dengan orang lain (positive relations), otonomi (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), dan pertumbuhan pribadi (personal growth) (Ryff, 1989)
Dalam konteks kehidupan digital, penerimaan diri menjadi semakin penting. Individu yang mampu menerima dirinya secara lebih utuh tidak terlalu bergantung pada validasi eksternal yang diperoleh melalui jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar di media sosial. Mereka memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Relasi positif juga berfungsi sebagai pelindung psikologis karena memberikan rasa aman, dukungan, dan keterhubungan yang lebih bermakna dibandingkan sekadar mengikuti aktivitas orang lain secara daring. Sementara itu, otonomi membantu individu menentukan secara sadar informasi apa yang ingin diikuti dan nilai apa yang ingin dijadikan pedoman dalam hidupnya.
Perspektif ini membawa kita pada konsep flourishing. Dalam psikologi positif, flourishing tidak berarti hidup tanpa masalah, tekanan, atau kegagalan. Sebaliknya, flourishing menggambarkan kondisi ketika individu tetap mampu berkembang, memiliki makna hidup, membangun relasi yang sehat, serta bergerak menuju tujuan yang dianggap penting meskipun menghadapi berbagai tantangan (Huppert & So, 2013). Dengan demikian, tujuan utama bukanlah menghilangkan seluruh bentuk kerentanan, melainkan membangun kapasitas psikologis agar individu mampu menghadapi kerentanan tersebut secara lebih adaptif.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya apakah generasi muda saat ini merupakan strawberry generation. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana membantu mereka mengembangkan penerimaan diri, regulasi diri, relasi yang sehat, serta tujuan hidup yang bermakna di tengah dunia yang semakin kompleks dan serba terhubung. Pada akhirnya, tugas psikologi bukan memberi label kepada generasi tertentu, melainkan membantu individu memahami dirinya dan bertumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Catatan: Artikel ini disarikan dari materi Seminar Psikologi “Strawberry Generation and the Fear of Missing Out (FOMO)” di Program Studi S1 Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Bisnis Universitas Mandala Waluya Kendari, 3 Juli 2026.
Daftar Pustaka:
Huppert, F. A., & So, T. T. C. (2013). Flourishing across Europe: Application of a new conceptual framework for defining well-being. Social Indicators Research, 110(3), 837–861. https://doi.org/10.1007/s11205-011-9966-7
Jing, Z., Yang, W., Lei, Z., Junmei, W., Hui, L., & Tianmin, Z. (2025). Correlations between social media addiction and anxiety, depression, FoMO, loneliness and self-esteem among students: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE, 20(9 September). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0329466
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or Is It? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081.