ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 67 Oktober 2026
Tinjauan Psikologi Perkembangan: Peran Quality of School Life dalam Mencegah Moral Disengagement
Oleh:
Jansen Jonathan, Nindya Putri Aprodita & Tju Meriana
Prodi Psikologi Universitas Bunda Mulia
Pendahuluan
Sekolah bukan sekadar ruang kelas tempat menuntut ilmu akademik, melainkan juga lingkungan sosial dan emosional yang sangat memengaruhi perkembangan seorang individu. Pendidikan juga memiliki peran yang penting dalam memfasilitasi optimalisasi potensi individu secara mendalam yang mencakup ranah kognitif, afektif, hingga psikomotorik. Selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek, 2022) menegaskan bahwa esensi pendidikan tidak sekadar mengejar kesetaraan nilai akademik, melainkan berfokus penuh pada pembentukan karakter.
Dalam dunia pendidikan, terdapat konsep Quality of School Life yang merupakan gambaran tentang bagaimana siswa mempersepsikan dan menilai pengalaman mereka selama berada di lingkungan sekolah. Konsep ini mencakup tingkat kepuasan siswa terhadap berbagai aspek, mulai dari pengalaman belajar, kualitas interaksi sosial dengan teman dan guru, hingga perasaan subjektif mereka secara umum terhadap sekolah (Huebner, 1994).
Fenomena perilaku siswa seperti rendahnya kedisiplinan dan perilaku perundungan (bullying) masih terjadi, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal, yang berdampak pada kenyamanan dan rasa aman siswa di lingkungan sekolah. Kondisi ini dapat dipahami sebagai suatu mekanisme kognitif yang membuat individu dapat mengabaikan atau menjauhkan diri dari standar moral yang dimilikinya, sehingga dapat melakukan atau membenarkan tindakan yang merugikan orang lain tanpa merasa bersalah. Mekanisme ini dikenal sebagai moral disengagement (Bandura,1999).
Quality of School Life
Quality of School Life terbentuk oleh berbagai faktor yang berasal dari lingkungan sekolah maupun karakteristik individu siswa. Williams dan Batten (1981) menekankan bahwa pengalaman siswa di sekolah dipengaruhi oleh interaksi antara aspek struktural sekolah dan dinamika sosial di dalamnya. Secara umum faktor yang mempengaruhi Quality of School Life, yaitu: (1) Iklim Sekolah (2) Hubungan siswa dengan guru (3) Hubungan dengan teman sebaya (4) Keterlibatan Akademik (5) Karakteristik Individu Siswa.
Quality of School Life yang positif memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan akademik maupun psikososial siswa. Sebaliknya, persepsi negatif terhadap kehidupan sekolah berpotensi memunculkan berbagai konsekuensi menyimpang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengalaman siswa di sekolah berkaitan erat dengan keterlibatan akademik, kesejahteraan psikologis, serta perilaku sosial siswa (Wang & Degol, 2022; OECD, 2021). Quality of School Life juga memberikan dampak, seperti: (1) Meningkatkan Keterlibatan dan Prestasi Akademik, (2) Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis, (3) Mendorong Penyesuaian Sosial yang Positif, (4) Menurunkan Resiko Perilaku Bermasalah.
Moral Disengagement
Moral disengagement tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut terdiri dari: (1) Faktor Lingkungan Sekolah (2) Pengalaman Psikologis Individu (3) Pengaruh Teman Sebaya. (4) Karakteristik Individu. (5) Iklim Moral dan Budaya Sekolah.
Pada remaja, moral disengagement terbukti berkaitan dengan berbagai konsekuensi negatif dalam konteks sekolah, terutama perilaku agresif dan kualitas relasi sosial (Wang et al., 2020; Thornberg & Jungert, 2021). (1) Meningkatkan Perilaku Agresif dan Bullying, (2) Menurunkan Empati dan Kepekaan Sosial, (3) Mengganggu Penyesuaian Sosial, (4) Meningkatkan Risiko Perilaku Bermasalah.
Peran Quality of School Life Dalam Mencegah Moral Disengagement
Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara Quality of School Life dan moral disengagement tidak selalu bersifat langsung. Pada siswa sekolah menengah atas, persepsi terhadap kualitas kehidupan di sekolah secara umum belum tentu menjadi prediktor yang signifikan terhadap kecenderungan siswa melakukan rasionalisasi atas perilaku yang melanggar norma moral. Temuan ini mengindikasikan bahwa keputusan moral remaja merupakan hasil interaksi berbagai faktor perkembangan, sehingga pengalaman sekolah tidak bekerja secara terpisah, melainkan berinteraksi dengan faktor individual, keluarga, maupun lingkungan sosial.
Meskipun demikian, analisis yang lebih mendalam memperlihatkan bahwa tidak semua aspek Quality of School Life memiliki pengaruh yang sama. Dua dimensi yang konsisten menunjukkan peran protektif adalah Identity in Class, yaitu sejauh mana siswa merasa diterima, dihargai, dan memiliki rasa memiliki (sense of belonging) terhadap kelasnya, serta Achievement and Opportunity, yaitu keyakinan bahwa sekolah menyediakan kesempatan untuk berkembang, mencapai prestasi, dan membangun masa depan yang lebih baik. Kedua aspek tersebut berkaitan dengan tingkat moral disengagement yang lebih rendah.
Temuan ini dapat dijelaskan melalui perspektif psikologi perkembangan yang menekankan bahwa masa remaja merupakan periode pembentukan identitas dan internalisasi nilai moral. Ketika siswa merasa dirinya merupakan bagian yang bermakna dari komunitas sekolah, mereka cenderung mengembangkan keterikatan emosional terhadap norma dan nilai yang berlaku. Demikian pula, ketika sekolah dipersepsikan sebagai tempat yang memberikan harapan dan peluang untuk berkembang, siswa akan lebih terdorong mempertahankan perilaku yang selaras dengan standar moral demi mencapai tujuan jangka panjangnya. Dengan demikian, Quality of School Life tidak hanya berfungsi sebagai faktor yang meningkatkan kenyamanan belajar, tetapi juga sebagai konteks perkembangan yang memperkuat pembentukan identitas moral dan mengurangi kecenderungan siswa menggunakan mekanisme pembenaran atas perilaku yang tidak etis.
Penutup
Quality of School Life merupakan aspek penting dalam mendukung perkembangan akademik, psikososial, dan moral siswa. Meskipun kualitas kehidupan sekolah secara umum tidak selalu berhubungan secara langsung dengan moral disengagement, dimensi identity in class dan achievement and opportunity terbukti berperan sebagai faktor protektif yang membantu siswa mempertahankan standar moralnya. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan perilaku moral remaja dipengaruhi oleh interaksi antara pengalaman positif di sekolah dengan faktor-faktor lain, seperti keluarga, teman sebaya, dan karakteristik individu. Oleh karena itu, sekolah perlu membangun lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki, hubungan interpersonal yang positif, serta kesempatan berkembang, sehingga mampu mendukung terbentuknya individu yang berintegritas dan bertanggung jawab secara moral.
Referensi
Bandura, A. (1999). Moral disengagement in the perpetration of inhumanities. Personality and Social Psychology Review, 3(3), 193–209. https://doi.org/10.1207/s15327957pspr0303_3
Huebner, E. S. (1994). Preliminary development and validation of a multidimensional life satisfaction scale for children. Psychological Assessment, 6(2), 149–158. https://doi.org/10.1037/1040-3590.6.2.149
Thornberg, R., & Jungert, T. (2021). School bullying and moral disengagement: A meta-analysis. Aggression and Violent Behavior, 60, 101566. https://doi.org/10.1016/j.avb.2021.101566
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Williams, T., & Batten, M. (1981). The quality of school life. Australian Council for Educational Research.
Wang, M. T., & Degol, J. L. (2022). School climate: A review of the construct, measurement, and impact on student outcomes. Educational Psychology Review. https://doi.org/10.1007/s10648-021-09628-5