ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 65 September 2026
Ketika Kuliah, Skripsi, dan Magang Datang Bersamaan: Memahami Academic Burnout pada Mahasiswa Psikologi
Oleh:
Quincy Melysa Wijaya dan Nanda Rossalia
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Menjadi Mahasiswa Tingkat Akhir Tidak Sekadar Menyelesaikan Skripsi
Bagi banyak orang, semester akhir identik dengan penyusunan skripsi. Namun, bagi mahasiswa psikologi, perjalanan menuju kelulusan sering kali jauh lebih kompleks. Selain menyelesaikan tugas akhir, mereka juga menjalani perkuliahan, memenuhi berbagai tuntutan akademik, serta mengikuti program magang sebagai bagian dari kurikulum.
Masa transisi menuju dunia kerja merupakan periode yang menantang bagi mahasiswa. Menurut Arnett (2006, dalam Santrock, 2019), individu pada rentang usia 18–25 tahun berada pada fase emerging adulthood, yaitu masa ketika seseorang mulai mempersiapkan identitas, karier, dan masa depannya. Pada fase ini, berbagai tuntutan akademik, sosial, maupun pekerjaan sering kali muncul secara bersamaan sehingga meningkatkan tekanan psikologis.
Di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Kurikulum 2021 mewajibkan mahasiswa menyelesaikan sedikitnya 144 SKS sebelum memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Pada semester tujuh, mahasiswa sudah dapat mengikuti Kuliah Kerja Praktik (KKP) atau magang, sementara pada saat yang sama mereka mulai menyusun skripsi. Kombinasi berbagai tuntutan tersebut membuat mahasiswa harus membagi waktu, tenaga, dan perhatian secara bersamaan. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa merasa kewalahan dalam menjalani proses tersebut.
Ketika Lelah Bukan Lagi Sekadar Capek
Merasa lelah setelah mengerjakan tugas sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, bagaimana jika rasa lelah itu terus berlangsung hingga membuat seseorang kehilangan semangat belajar, merasa sinis terhadap perkuliahan, bahkan mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri?
Kondisi tersebut dikenal sebagai academic burnout. Maslach dan Leiter (2016) menjelaskan bahwa academic burnout merupakan respons psikologis terhadap stres berkepanjangan yang ditandai oleh tiga kondisi utama, yaitu kelelahan (exhaustion), sikap sinis terhadap aktivitas akademik (cynicism), dan menurunnya keyakinan terhadap kemampuan diri (professional efficacy). Pada kondisi ini, mahasiswa bukan sekadar merasa "capek", tetapi mulai mengalami penurunan kesejahteraan psikologis yang memengaruhi kehidupan akademiknya.
Apa yang Membuat Mahasiswa Mengalami Academic Burnout?
Penelitian yang saya lakukan terhadap mahasiswa tingkat akhir Program Studi Sarjana Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menunjukkan bahwa academic burnout tidak muncul karena satu penyebab saja. Setiap mahasiswa memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi terdapat beberapa faktor yang muncul secara konsisten.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa academic burnout dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal maupun eksternal. Schwartzhofner (2011) dan Seibert et al., (2016 dalam Hasbillah & Rahmasari, 2022) menjelaskan bahwa burnout dapat dipicu oleh konsep diri (self-concept), beban kerja yang berlebihan (work overload), kurangnya dukungan sosial (lack of social support), kurangnya kontrol terhadap pekerjaan (lack of control), kurangnya penghargaan (lack of reward), faktor demografis, serta persepsi ketidakadilan (lack of fairness).
Apa yang Dapat Dilakukan?
Menghadapi academic burnout bukan berarti mahasiswa harus selalu bekerja lebih keras. Sebaliknya, mahasiswa perlu belajar mengenali batas kemampuan dirinya, mengatur prioritas secara realistis, serta berani mencari dukungan ketika mulai merasa kewalahan. Di sisi lain, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat. Pendampingan akademik, layanan konseling psikologis, komunikasi yang terbuka dengan dosen, serta budaya saling mendukung dapat membantu mahasiswa melewati masa-masa penuh tekanan tersebut.
Menjadi Mahasiswa Psikologi Juga Berarti Belajar Memahami Diri Sendiri
Mahasiswa psikologi belajar memahami emosi, perilaku, dan kesehatan mental orang lain. Namun, perjalanan tersebut juga mengajarkan satu hal yang tidak kalah penting, yaitu memahami diri sendiri. Merasa lelah bukanlah tanda kelemahan. Mengenali kapan harus beristirahat, menerima bahwa setiap orang memiliki ritme yang berbeda, serta berani meminta bantuan ketika dibutuhkan merupakan bagian dari proses menjadi individu yang sehat secara psikologis. Perjalanan menuju kelulusan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang membangun ketahanan diri untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Referensi:
Hasbillah, M. S. R., & Rahmasari, D. (2022). Burnout akademik pada mahasiswa yang sedang menempuh tugas akhir. Character: Jurnal Penelitian Psikolog, 9(6). 122-132. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/view/47320/39554
Maslach, C. and Leiter, M.P. (2016) Burnout. Stress: Concepts, Cognition, Emotion, and Behavior, Elsevier, 351-357. https://doi.org/10.1016/b978-0-12-800951-2.00044-3
Santrock, J. W. (2019). Life-span development (17th ed.). McGraw-Hill Education.