ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 65 September 2026

Meraih Post-Traumatic Growth Saat Bencana

 

Oleh:

Arie Rihardini Sundari, Universitas Persada Indonesia YAI

Eko A Meinarno, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Pengantar

Bertumbuh setelah mengalami krisis akibat bencana, dapat terlihat dalam diri penyintas yang telah memahami makna atas bencana yang dialaminya, hingga kemudian berangsur-angsur terbentuk ketangguhan di dalam dirinya (lihat Sundari & Meinarno, 2026a; Sundari & Meinarno, 2026b). Kondisi tersebut merupakan inti dari Post-Traumatic Growth (PTG), yaitu adaptasi psikologis secara positif setelah kejadian pemicu trauma (Subiyanto & Damayanti, 2022). Menyesuaikan diri dengan kondisi trauma akibat bencana tidak selamanya berakhir buruk pula, ada kalanya penyintas mampu mengambil hikmah bagi diri dan kehidupan selanjutnya. Bagi individu yang terdampak secara psikologis akibat paparan bencana alam, terdapat lima kemungkinan lintasan dari saat dampak terjadi yaitu resistensi, resilien, pemulihan yang berkepanjangan, penderitaan kronis yang parah, dan pertumbuhan pascatrauma (Layne dkk., 2007, dalam Shultz dkk., 2013).

        

Dapat dikatakan bahwa PTG merupakan salah satu perjuangan akhir menghadapi bencana melalui intervensi Psychological First Aid (PFA) dan intervensi krisis mental lanjutan lainnya. Oleh karena PFA membantu penyintas untuk menumbuhkan perasaan aman, nyaman, efikasi sosial diri, rasa memiliki, dan harapan pada penyintas bencana (Shoukr dkk., 2022). Intervensi lain yang dapat melengkapinya, salah satunya, dapat berupa grief therapy, yang secara bertahap dapat memunculkan PTG (Chen & Tang, 2021). Pemilihan jenis intervensi yang tepat perlu disesuaikan dengan kekhasan gejala yang muncul atas dampak yang dirasakan, terutama pada kelompok rentan (anak-anak, ibu hamil atau lansia), agar dapat efektif (Sundari & Meinarno, 2026c; Sundari & Meinarno, 2026d). Tujuannya adalah menumbuhkan komunikasi interpersonal (lebih terbuka dan dapat bersikap hangat), lebih menghargai hidup, meningkatkan pemahaman spiritual, dan mampu mengenali berbagai kemungkinan baru dalam hidup (Nuttman & Dekel, 2009; Williams & Cartwright, 2021; Nash dkk., 2022).

 

Intervensi Akurat Saat Darurat

Kondisi krisis penyebab utama trauma adalah situasi darurat yang terkadang sulit untuk dielakkan terjadi. Bagi individu yang terdampak secara psikologis akibat paparan bencana alam, Layne dkk. (2007) menjelaskan dan membandingkan lima kemungkinan lintasan dari saat dampak terjadi yaitu resistensi, resilien, pemulihan yang berkepanjangan, penderitaan kronis yang parah, dan pertumbuhan pascatrauma. Pertumbuhan pascatrauma menggambarkan penyintas yang bangkit kembali dari bencana dengan sejumlah keterampilan mengatasi masalah yang lebih baik dan apresiasi yang lebih tinggi terhadap kemampuan baru yang ditempa oleh kesulitan (Shultz dkk., 2013).

 

Peristiwa bencana alam (contoh gempa bumi atau banjir bandang) yang datangnya tanpa prediksi, meninggalkan ingatan (kilas balik) yang terus berulang-ulang (Sundari & Meinarno, 2026d). Kelelahan akibat secara kontinyu merasakan emosi negatif dan stres pasca trauma dapat diurai melalui konseling individu, agar dapat diamati dan dipahami secara intensif (melalui prinsip PFA, Look dan Listen). Proses selanjutnya diperlukan upaya menghubungkan (Link) penyintas dengan pemenuhan kebutuhan psikologis yang dirasakan. Dengan menggunakan teknik regulasi emosi melalui terapi relaksasi atau mindfulness (Walsh, 2018), psikoedukasi tentang bencana dan dampaknya, dan pengendalian stres, yang bertujuan untuk dapat mengurai kesedihan mendalam yang dirasakan. Proses tersebut diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman dan penyintas dapat mengintegrasikan kejadian ke dalam diri, sebagai proses menuju pertumbuhan pribadi pasca trauma (Post-Traumatic Growth), sehingga menjadikan penyintas dapat berfungsi kembali secara lebih baik (Calhoun & Tedeschi, 2013, dalam Shin dkk., 2022; Vazquez dkk., 2021).

 

Penyesuaian secara positif tersebut di atas mengarah pada pemaknaan akan hidup yang lebih baik, saat kondisi tempat tinggal di pengungsian, terasa tidak nyaman dan tanpa kepastian. Penyintas mengalami perubahan makna (muncul harapan) setelah merasa kondisinya didengar, dihargai, kemudian dapat menghadapi risiko dan mengatasi persoalan hidup serta tidak menyerah dengan keadaan, secara bertahap (Williams & Cartwright, 2021; Shin dkk., 2022; Nash dkk., 2022). Welas asih (self compassion) yang perlahan mulai dirasakan penyintas merupakan salah satu indikasi hadirnya PTG (Walsh dkk. 2018; Yuhan dkk., 2021; Adonis dkk., 2025). Demikian pula ketika kehilangan, yaitu orang-orang yang disayangi, tempat tinggal, bahkan hewan peliharaan, syaratnya dengan strategi coping yang tepat (Qasim & Carson, 2022). Selain itu melalui penghayatan penuh (mindfulness), yaitu memproses secara kognitif, penyintas berusaha menerima dan menyadari kondisi yang dialaminya nyata ada dan dapat dikendalikan (Walsh dkk. 2018).

 

Penutup

Pertumbuhan pribadi setelah pengalaman traumatis muncul sebagai bagian dari resiliensi individu. Bukan hal yang mustahil. Berhasil memaknai peristiwa menyakitkan sekaligus pulih dari luka batin merupakan proses yang dapat dilalui. Mengurai dan memproses ingatan akan trauma perlu penanganan yang khas, agar penyintas dapat memaknai kejadian buruk secara proporsional sehingga dapat diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati.

 

 

Daftar Pustaka:

Adonis M, Loucaides M, Sullman MJM, Lajunen T. (2025). The protective role of self compassion in trauma recovery and its moderating impact on post traumatic symptoms and post traumatic growth. Sci Rep. 2025 Mar 9;15(1):8145. doi: 10.1038/s41598-025-91819-x. PMID: 40059121; PMCID: PMC11891304.

Chen, C., & Tang, S. (2021). Profiles of grief, post-traumatic stress, and post-traumatic growth among people bereaved due to COVID-19. European Journal of Psychotraumatology, 12(1). https://doi.org/10.1080/20008198.2021.1947563

Nash, R. P., Loiselle, M. M., Stahl, J. L., Conklin, J. L., Rose, T. L., Hutto, A., … Burker, E. J. (2022). Post-Traumatic Stress Disorder and Post-Traumatic Growth following Kidney Transplantation. Kidney360, 3(9), 1590–1598. https://doi.org/10.34067/KID.0008152021

Nuttman-Shwartz, O., & Dekel, R. (2009). Ways of coping and sense of belonging to the college in the face of a persistent security threat. Journal of Traumatic Stress, 22, 667-670.

Qasim, K., & Carson, J. (2022). Does Post-Traumatic Growth Follow Parental Death in Adulthood? An Empirical Investigation. Omega (United States), 86(1), 25–44. https://doi.org/10.1177/0030222820961956

Shin, Y., Nam, J. E. K., Lee, A., & Kim, Y. (2023). Latent profile analysis of post-traumatic stress and post-traumatic growth among firefighters. European Journal of Psychotraumatology, 14(1). https://doi.org/10.1080/20008066.2022.2159048

Shoukr, E. M. M., Mohamed, A. A. E. R., El-Ashry, A. M., & Mohsen, H. A. (2022). Effect of psychological first aid program on stress level and psychological well-being among caregivers of older adults with alzheimer’s disease. BMC Nursing, 21(1). https://doi.org/10.1186/s12912-022-01049-z

Shultz, J. M., Neria, Y., Allen, A., Espinel, Z. (2013). Psychological Impacts of Natural Disasters dalam buku Encyclopedia of Natural Hazards pp.779-791 Encyclopedia of Earth Sciences Series, Springer Netherlands 2016-01-21 DOI: https://doi.org/10.1007/978-1-4020-4399-4_279

Subiyanto, A., & Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta. Abhiseka Dipantara.

Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026a). Psychological First Aid, Intervensi Awal Yang Esensial Bagi Penyintas Bencana. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 61 Juli 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/2084-psychological-first-aid-intervensi-awal-yang-esensial-bagi-penyintas-bencana. Diunduh medio Juli 2026.

Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026b). Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Penyintas. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 56 April 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/2013-psikologi-bencana-membangun-ketangguhan-penyintas

Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026c). Dampak Psikologis Krisis dan Bencana pada Kelompok Rentan. Buletin KPIN Vol. 12 No. 59 Juni 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/2052-dampak-psikologis-krisis-dan-bencana-pada-penyintas-kelompok-rentan

Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026d). Intervensi Krisis Mental pada Penyintas Bencana. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 63 Agustus 2026. diakses dari https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/2103-intervensi-krisis-mental-pada-penyintas-bencana

Vazquez, C., Valiente, C., García, F. E., Contreras, A., Peinado, V., Trucharte, A., & Bentall, R. P. (2021). Post-Traumatic Growth and Stress-Related Responses During the COVID-19 Pandemic in a National Representative Sample: The Role of Positive Core Beliefs About the World and Others. Journal of Happiness Studies, 22(7), 2915–2935. https://doi.org/10.1007/s10902-020-00352-3

Williams, S., & Cartwright, T. (2021). Post-traumatic stress, personal risk and post-traumatic growth among UK journalists. European Journal of Psychotraumatology, 12(1). https://doi.org/10.1080/20008198.2021.1881727

Walsh, D. M. J., Morrison, T. G., Conway, R. J., Rogers, E., Sullivan, F. J., & Groarke, A. M. (2018). A model to predict psychological- and health-related adjustment in men with prostate cancer: The role of post traumatic growth, physical post traumatic growth, resilience and mindfulness. Frontiers in Psychology, 9(FEB). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.00136

Yuhan, J.; Wang, D.C.; Canada, A.; Schwartz, J. (2021). Growth after Trauma: The Role of Self-Compassion following Hurricane Harvey. Trauma Care 2021, 1, 119–129. https://doi.org/10.3390/traumacare1020011