ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 65 September 2026
Mengapa Terkadang Sulit Memaafkan?
Oleh:
Jessica Ariela
Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan
Pernahkah Anda berpikir mengapa dalam beberapa kasus, memaafkan merupakan hal yang sangat sulit dilakukan? Secara pengetahuan, individu mungkin sudah tahu bahwa ia perlu memaafkan, mungkin karena adanya tuntutan sosial ataupun moral, atau karena kesadaran sendiri akan pentingya memaafkan. Individu juga mungkin telah paham bahwa memaafkan adalah untuk diri sendiri, bukan demi orang yang menyakitinya. Namun, pemahaman ini tidak lantas membuat proses memaafkan sebagai hal yang mudah untuk dilakukan.
Injustice gap merupakan suatu konsep yang dikemukakan oleh Everett Worthington, seorang peneliti mengenai forgiveness, dan dapat didefinisikan sebagai sejauh mana korban mempersepsikan kesenjangan antara pelanggaran yang terjadi dan keadilan yang seharusnya setelah peristiwa pelanggaran terjadi (Exline et al., 2003). Semakin luas kesenjangan atau gap yang terasa, maka semakin sulit seseorang untuk mengambil keputusan untuk memaafkan. Menurut Davis et al. (2016), ada dua cara untuk mempersempit gap tersebut, yakni dengan meningkatkan rasa keadilan saat ini atau menyesuaikan ekspektasi individu mengenai keadilan.
Di sini, beberapa hal yang dilakukan oleh pelaku ataupun korban dapat memperluas ataupun mempersempit kesenjangan yang dirasakan tersebut. Hal-hal yang dapat memperluas injustice gap, misalnya, adalah jika pelaku tidak menunjukkan pertobatan atau rasa bersalah, atau hidup baik-baik saja dan tidak terpengaruh oleh kesalahannya, atau pelaku justru semakin banyak mengalami hal yang baik. Namun, ada juga hal-hal yang dapat membuat injustice gap semakin kecil dan memudahkan individu untuk memaafkan. Misalnya saja, jika pelaku mendapatkan konsekuensi atas perbuatannya, korban mencari keadilan melalui jalur hukum, atau adanya ganti rugi yang setimpal didapat oleh individu yang tersakiti (Strelan et al., 2017). Hal ini menggambarkan proses mereduksi injustice gap melalui peningkatan rasa keadilan. Persepsi kondisi yang lebih adil ini dapat membantu individu yang tersakiti untuk dapat memaafkan (Davis et al., 2016). Cara kedua adalah dengan menyesuaikan kembali ekspektasi yang dimiliki terhadap keadilan. Mungkin korban akan belajar untuk menerima hal tersebut dan melanjutkan hidupnya, menggunakan mindfulness, atau berserah pada Tuhan agar dapat menerima kondisi yang tidak dapat diubah, mencoba berempati pada pelaku, atau mencoba bertahan agar tidak merusak keharmonisan sosial.
Lantas, bagaimana aplikasi injustice gap dalam konflik relasional sehari-hari? Jika Anda berada di posisi orang yang melakukan kesalahan, permintaan maaf merupakan hal pertama yang dapat Anda lakukan dengan rendah hati. Setelah itu, Anda dapat menawarkan solusi ataupun pengganti untuk kerugian yang telah terjadi (baik dalam hal material maupun moral). Jika Anda berada di posisi korban, Anda tentu dapat memutuskan untuk memaafkan dengan cara mencoba untuk berempati pada pelaku dan membayangkan diri Anda di posisinya, menerima kondisi, atau berserah pada Tuhan. Namun, proses pemaafan juga dapat terfasilitasi jika Anda dapat secara asertif menyatakan hal buruk yang telah Anda alami dan konsekuensi logis yang menyertainya.
Di dalam hidup berelasi, konflik adalah suatu keniscayaan. Injustice gap mengajarkan kepada kita bahwa dalam proses pemaafan, kasih dan empati diperlukan, tetapi keadilan tetap patut untuk diperjuangkan dan dirasakan.
Referensi
Davis, D. E., Yang, X., DeBlaere, C., McElroy, S. E., Van Tongeren, D. R., Hook, J. N., & Worthington, E. L., Jr. (2016). The injustice gap. Psychology of Religion and Spirituality, 8(3), 175–184. https://doi.org/10.1037/rel0000042
Exline, J. J., Worthington, E. L., Jr., Hill, P., & McCullough, M. E. (2003). Forgiveness and justice: A research agenda for social and personality psychology. Personality and Social Psychology Review, 7, 337–348. http://dx.doi.org/10.1207/S15327957PSPR0704_06
Strelan, P., Di Fiore, C., & van Prooijen, J. W. (2017). The empowering effect of punishment on forgiveness. European Journal of Social Psychology, 47(4), 472-487. https://doi.org/10.1002/ejsp.2254