ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 63 Agustus 2026

Intervensi Krisis Mental Pada Penyintas Bencana

Oleh:

Arie Rihardini Sundari, Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Eko A Meinarno, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Pengantar

Krisis kesehatan mental yang terjadi pada penyintas pasca bencana merupakan dampak psikologis yang sangat mengkhawatirkan (lihat Sundari & Meinarno, 2026a; Sundari & Meinarno, 2026b). Setidaknya sebagian dari mereka akan mengalami postdisaster disorder (North dkk., 2012) atau bahkan jika dibiarkan terus menerus akan mengarah pada Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yaitu gangguan stres pascatrauma yang menyebabkan seseorang mudah teringat pada peristiwa yang telah berlangsung lebih dari enam bulan. Kondisi ini dapat berupa pengalaman langsung atau menyaksikan peristiwa traumatis yang dapat menimbulkan gangguan fisik, psikologis dan perkembangan sosial, yang dapat berdampak terhadap gangguan mental, emosional, sosial, kepribadian dan harga diri (Neria dkk., 2008; Lee dkk., 2020). Gejala yang nampak yakni re-experience, avoidance dan hyperarousal (Aryuni, 2023) adalah mengingat kejadian berulang-ulang (kilas balik), mimpi buruk, ada upaya menghindari pikiran, perasaan atau percakapan yang berkaitan dengan kejadian yang dialami, berkurangnya minat untuk beraktivitas, adanya gangguan tidur, sulit konsentrasi, takut berlebih dan mudah marah bahkan hingga perilaku adiktif (Lee dkk., 2020; Subiyanto & Damayanti, 2022; Cipto dkk., 2023; Akili dkk., 2025).

 

Dampak dari PTSD ini adalah salah satu yang paling kuat terkait dengan perilaku bunuh diri (Imaduddin, 2019), terlebih jika terindikasi telah memiliki stressful life events sebelumnya (Epstein dkk, 1998). Faktor protektif yang signifikan terhadap PTSD adalah tercapainya resiliensi pada tiap penyintas bencana, dengan intervensi tepat dan akurat oleh relawan dan pendamping (Golitalieb dkk., 2022; Cahyani dkk., 2023).

           

Konsep Dasar dan Teknis Intervensi PTSD

Untuk mencapai disaster resilience (First, 2024), prinsip dasar etik dalam intervensi PTSD, diantaranya pendamping harus menghindari, mencegah, dan meminimalkan bahaya pada penyintas (the principle of beneficence), serta menghormati martabat manusia dengan memberikan bantuan psikologis (Polit & Beck, 2012). Intervensi psikoterapi terhadap PTSD menggunakan pendekatan psikis terhadap pasien yang mengalami gangguan. Tindakan ini termasuk psikoedukasi dan terapi relaksasi, pengetahuan tentang bencana dan efeknya, pengendalian stres, dan perencanaan keuangan. Selain itu, ada terapi relaksasi, yang mencakup latihan pernafasan, latihan otot progresif, yoga, dan meditasi (Stuart dalam Subiyanto & Damayanti, 2022), serta mempraktekkan mindfulness spiritual, traumatic counseling (CBT dan SEFT), terapi lima jari, seni dan bermain (Dwidiyanti dkk., 2018; Ernawati, 2020; Wangsanata dkk., 2024; Wardani & Sari, 2025).

 

Ada dua aspek penting dalam intervensi PTSD, yaitu secara psikologis dan sosial. Aspek psikologis bertujuan menurunkan gejala PTSD. Aspek sosial bertujuan mengembangkan ketrampilan sosial, kebersamaan, sehingga dapat saling mendukung sesama penyintas. Intervensi psikologis PTSD diantaranya teknik reframing, yakni memaknai tentang kejadian dalam hidupnya; Ketrampilan koping, salah satunya teknik relaksasi (olah nafas); Konseling individual, bagi yang memiliki gejala halusinasi, menghindar dan berbagai situasi sosial dan mudah tersinggung; dan Intervensi sosial yaitu membangun ketrampilan membangun relasi (Subiyanto & Damayanti, 2022).

 

Dukungan Layanan Psikososial

WHO (2013) memperkirakan permasalahan kesehatan mental pascabencana sebagai berikut: a) Prevalensi penderita tekanan psikologis ringan adalah 30-40%, dan mereka tidak membutuhkan pertolongan spesifik, b) Prevalensi penderita tekanan psikologis sedang sampai berat adalah 30-50%, membutuhkan intervensi sosial dan dukungan psikologis dasar, c) Gangguan mental ringan sampai sedang (depresi, gangguan cemas dan PTSD) adalah 15-20%, memerlukan penanganan kesehatan mental yang dapat diakses melalui pelayanan kesehatan umum dan pelayanan kesehatan mental komunitas, d) Gangguan mental berat (depresi berat, gangguan psikotik) adalah 3-4%, memerlukan penanganan kesehatan mental yang dapat diakses melalui pelayanan kesehatan umum dan pelayanan kesehatan mental komunitas.   

 

Terkait kebutuhan psikologis dilakukan dengan membantu mengatasi trauma (trauma healing) dengan cara menghibur agar penyintas tidak merasa sedih, memberikan upaya pembinaan kesehatan jiwa dengan maksud agar tidak mengalami kejenuhan, pemahaman keagamaan, pendidikan dan informasi (Subiyanto & Damayanti, 2022; Cipto dkk., 2023). Penyintas berisiko tinggi mengalami PTSD dan depresi pasca bencana jika perasaan kehilangan dan stressor (luka-luka parah, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan properti) tidak tertangani dengan tepat (Neria dkk., 2008; First, 2024; Aulia dkk., 2024).

 

Layanan psikososial ini dilakukan secara individual dan terbatas sifatnya, contohnya Trauma Focused-Cognitive Behavior Therapy (TF-CBT) atau Resource Development Installation (RDI) yang merupakan bagian dari Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) yang dibarengi dengan terapi seni (Art Therapy) dan terapi bermain (Play Terapy) untuk anak-anak, guna mengintervensi trauma secara spesifik (Tjioe, 2016; Ernawati, 2020; Akbar dkk, 2022). Tujuan dari terapi seni dan bermain diantaranya sarana komunikasi, selain chatarsis, abreaction dan berpikir kreatif (Akbar dkk, 2022).

 

Untuk membangun sistem kesehatan mental komunitas, dengan cara memperbanyak latihan tenaga kesehatan dan melakukan kampanye tentang kesehatan mental. Relawan yang sudah mendapatkan pelatihan psikososial bekerjasama dengan psikolog dapat memberikan layanan psikososial, bahkan boleh merujuk ke psikiater bila penyintas membutuhkan terapi obat (farmakologi) untuk mengatasi simptom psikis yang muncul akibat trauma yang dialami. Untuk taraf ringan, layanan psikososial dapat dilatihkan dan diberikan oleh relawan non-psikologi, sedangkan untuk gangguan mental taraf sedang dan berat harus dilakukan oleh psikolog klinis atau merujuk pengobatan tambahan dari psikiater. Untuk dapat mengakses layanan psikososial, para penyintas dapat menghubungi puskesmas terdekat atau sarana balai kesehatan yang memang disediakan pemerintah (Subiyanto & Damayanti, 2022).

 

Kesimpulan

Penanganan secara spesifik dan personal sangat dibutuhkan oleh penyintas krisis mental, khususnya PTSD. Kesiapan tenaga ahli, psikiater, psikolog klinis sangat tepat dan akurat dalam menangani dampak trauma agar tidak berkepanjangan atau bahkan penyintas mengalami re-traumatized. Selain, dukungan komunitas dalam berempati dan mendukung pemulihan penyintas trauma pasca bencana.

 

Daftar Pustaka:

Akbar, Z., Zakiah, E., Medellu, G. I. R. (2022). Psikologi Bencana. Jakarta : Kencana PrenadaMedia Group. ISBN 978-623-384-147-4 eISBN 978-623-384-148-1

Akili, A. J., Kadir, L., Arsad, L. (2025). Gambaran Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Pasca Bencana Banjir pada Masyarakat di Daerah Kelurahan Molosipat W (Studi Kasus Di RW 03 RT 02). Jurnal Kolaboratif Sains, Volume 8 No. 8, Agustus 2025, 5181-5191. DOI: 10.56338/jks.v8i8.8459

Aryuni, M. (2023). Post Traumatic Stress Disorder pada Penyintas Bencana Ganda. Kinesik,  Vol. 10, No. 1, 2023, pp. 113-131. DOI https://doi.org/10.22487/ejk.v10i1.753

Aulia, VV., Antika, RE., Anggraini, S., Putri, AS., Putri, NA., Alrefi., Minarsi. (2024). PTSD pada Anak dan Remaja Terhadap Bencana Alam di Indonesia. Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling, Vol 2 No 3 Tahun 2024. PREFIX DOI: 10.6734/ARGOPURO.V2I2.3027

Cahyani, H. E., Warsini, S., & Raymomdalexas, C. M. (2023). Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Among Landslide Survivors: a Descriptive Study. Psychiatry Nursing Journal (Jurnal Keperawatan Jiwa), 5(1), 28–36. https://doi.org/10.20473/pnj.v5i1.43718

Cipto., Siswoko., Mu’awanah., Normawati, A. T. (2023).  An Overview of Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Among Flash Flood Victims. Journal of Applied Health Management and Technology, Vol 5, No 1 (2023) page 30-34

DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual For Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters. 2nd Ed. Washington: Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.

Dwidiyanti, M., Hadi, I., Wiguna, R. I., Ningsih, H. E . W. (2018). Gambaran Risiko Gangguan Jiwa pada Korban Bencana Alam Gempa di Lombok Nusa Tenggara Barat. Journal of Holistic Nursing And Health Sience, volume 1 nomor 2 Oktober 2018. https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/hnhs

Epstein, R. S., Fullerston, C. S., Ursano, R. J. (1998). Posttraumatic Stress Disorder Following an Air Disaster: A Prospective Study. American Journal of Psychiatry, July 1998, 155: 7, p.934-938.

Ernawati, D. (2020). Pengaruh Pemberian Cognitive Behavior Therapy (CBT) terhadap Perubahan Tanda dan Gejala Serta Kemampuan Mengatasi Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) Pasca Erupsi Merapi. Tesis Fakultas Ilmu Keperawatan Program Magister Keperawatan Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.

First JM (2024) Post-traumatic stress and depression following disaster: examining the mediating role of disaster resilience. Front. Public Health 12:1272909. doi: 10.3389/fpubh.2024.1272909

Golitaleb M, Mazaheri E, Bonyadi M., Sahebi, A. (2022) Prevalence of Post-traumatic Stress Disorder After Flood: A Systematic Review and Meta-Analysis. Front. Psychiatry 13:890671. doi: 10.3389/fpsyt.2022.890671

Imaduddin, A. R. RM. (2019). Post Traumatic Stress Disorder pada korban Bencana. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, Vol 10, No, 2, Desember 2019, pp: 178-182. DOI: 10.35816/jiskh.v10i2.141

Lee, J-Y., Kim, S-W., Kim, J-M. (2020). The Impact of Community Disaster Trauma: A Focus on Emerging Research of PTSD and Other Mental Health Outcomes. Chonnam Medical Journal 2020;56:99-107 https://doi.org/10.4068/cmj.2020.56.2.99

Neria, Y., Nandi, A., Galea, S. (2008). Post-traumatic stress disorder following disasters: a systematic review. Psychol Med. 2008 April; 38(4): 467–480. doi:10.1017/S0033291707001353.

North, C. S., Oliver, J., Pandya, A. (2012). Examining a Comprehensive Model of Disaster-Related Posttraumatic Stress Disorder in Systematically Studied Survivors of 10 Disasters. American Journal of Public Health, volume 102, no. 10, October 2012.

Polit, D. F., & Beck, C. T. (2008). Nursing research generating and assessing evidence for nursing. Philadelphia F.A: Lippincott Williams & Wilkins.

Subiyanto, A., & Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta. Abhiseka Dipantara.

Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026a). Membedakan Dampak Penyintas Berdasarkan Bentuk Bencana. Buletin KPIN Vol. 12 No. 57 Mei 2026 ISSN 2477-1686 diakses dari https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/2037-membedakan-dampak-penyintas-berdasar-bentuk-bencana

Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026b). Dampak Psikologis Krisis dan Bencana pada Kelompok Rentan. Buletin KPIN Vol. 12 No. 59 Juni 2026 ISSN 2477-1686  https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/2052-dampak-psikologis-krisis-dan-bencana-pada-penyintas-kelompok-rentan

Tjioe, I. N. (2016). Penerapan Resource Development and Installation (RDI) untuk Menurunkan Simptom Trauma pada Anak dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Tesis Fakultas Psikologi Program Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.

Wangsanata, S., Jamalullael, J., Khakim, L., Maulidawati,. & Sanjaya, L. (2024). Traumatic counseling: An alternative problem solving post traumatic stress disorder for natural disaster victims in Indonesia. Jurnal Ilmu Dakwah. 44(2). 293-310. https://doi.org/10.2158/jid.44.2.23536

Wardani, D. W., Sari, J. D. E. (2025). Psychological Interventions in Adressing Post Traumatic Stress Disorder Among Natural Disaster Survivors: A Systematic Literature Review. Journal Of Community Mental Health And Public Policy, October 2025: Vol. 8 No. 1 (59-71), https://doi.org/10.51602/cmhp.v8i1.330

WHO. (2013). Building Back Better. Sustainable mental health care after emergencies. Geneva: World Health Organization; Diakses dari https://www.who.int/publications/i/item/building-back-better-sustainable-mental-health-care-after-emergencies