ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 63 Agustus 2026
Mengoptimalkan Kunjungan Museum:
Strategi Orang Tua Mengembangkan Kognitif Anak di Museum
Oleh:
Desy Chrisnatalia1 & Andriyati Rahayu2
1Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
2Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
Museum dapat menstimulasi perkembangan kognitif anak melalui pengalaman belajar yang melibatkan rasa ingin tahu, observasi, dan keterlibatan aktif dalam mengeksplorasi koleksi yang dipamerkan (Ahmad et al., 2013). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kunjungan ke museum dapat mendukung perkembangan kognitif anak. Kunjungan museum terbukti berkontribusi pada peningkatan kemampuan berhitung, pengenalan kuantitas, dan berpikir kritis, terutama ketika anak terlibat aktif dalam eksplorasi koleksi dan didampingi oleh orang tua (Kisida et al., 2015; Tan et al., 2021). Namun demikian, pengembangan kognitif anak selama kunjungan ke museum tidak terjadi secara otomatis hanya dengan melihat koleksi museum.
Keterlibatan aktif orang tua melalui diskusi, tanya jawab, dan kegiatan bercerita selama kunjungan museum berperan penting dalam mendukung perkembangan kognitif anak (Andre et al., 2017; Tan et al., 2021). Hal ini didukung oleh teori sosiokultural Vygotsky (1978), yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif anak berlangsung melalui interaksi sosial, di mana orang tua memberikan scaffolding berupa pertanyaan, petunjuk, dan dukungan yang membantu anak belajar. Salah satu strategi yang dapat diterapkan orang tua adalah strategi kolaborasi terbuka, yang dilakukan melalui kegiatan eksplorasi dan pemberian penjelasan (Callanan et al., 2020). Dalam strategi tersebut, orang tua tidak hanya melakukan eksplorasi museum bersama anak, namun juga mengajukan pertanyaan seperti "Menurutmu mengapa ini bisa terjadi?" atau "Apa yang akan terjadi jika bagian ini digerakkan?". Percakapan semacam ini membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kausal dan pemecahan masalah (Callanan et al., 2020).
Saat berdiskusi dengan anak di museum, orang tua sebaiknya mengajukan pertanyaan terbuka yang mendorong anak untuk mengamati, membandingkan, memprediksi, dan menjelaskan koleksi museum. Pertanyaan terbuka cenderung efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak dibandingkan pertanyaan yang hanya menuntut jawaban singkat (Attisano et al., 2022; Willard et al., 2019). Strategi lainnya yang dapat diterapkan oleh orang tua adalah menghubungkan koleksi museum dengan pengalaman sehari-hari anak. Misalnya, saat mengamati artefak yang berfungsi sebagai tas pada masa lalu, orang tua dapat mengatakan, “Benda ini sama fungsinya dengan tas yang kita gunakan pada masa sekarang.” Penggunaan analogi dan perbandingan seperti ini membantu anak mengembangkan kemampuan relational reasoning (Attisano et al., 2022).
Berbagai strategi yang diterapkan orang tua untuk mendukung pembelajaran di museum tidak dapat berjalan secara optimal, jika anak tidak memiliki minat untuk mengeksplorasi museum. Orang tua dapat mendorong eksplorasi anak di museum dengan menjadi model yang menunjukkan rasa ingin tahu dan keterlibatan aktif terhadap koleksi museum. Perilaku eksploratif yang dicontohkan orang tua dapat memotivasi anak untuk mengamati, mencoba, dan menemukan hal-hal baru di museum (Willard et al., 2019). Penggunaan permainan edukatif juga diperlukan untuk dapat meningkatkan motivasi anak belajar dan melakukan eksplorasi di museum (Bossavit & Parsons, 2018; de La Ville et al., 2021; Xhembulla et al., 2014).
Salah satu bentuk permainan edukatif yang dapat dilakukan orang tua adalah memanfaatkan peta museum untuk mengajak anak mencari dan menemukan koleksi museum tertentu. Aktivitas semacam ini dapat mendorong anak untuk mengamati, mengenali lokasi, dan mengeksplorasi museum secara aktif (Hsu et al., 2020). Selain itu, permainan teka-teki yang berkaitan dengan koleksi museum, seperti Berburu Arca dan Acak Kata Arca, dapat menjadi salah bentuk permainan yang dapat digunakan untuk meningkatkan antusiasme anak dalam mempelajari koleksi museum (Chrisnatalia, et al., 2024). Dengan demikian, untuk memfasilitasi perkembangan kognitif anak selama kunjungan museum, orang tua perlu berperan aktif dalam mendampingi dan berinteraksi dengan anak.
Referensi:
Ahmad, S., Abbas, M. Y., Yusof, W. Z. M., & Taib, M. Z. M. (2013). Museum learning: Using research as best practice in creating future museum exhibition. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 105, 370–382. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.11.039
Andre, L., Durksen, T., & Volman, M. L. (2017). Museums as avenues of learning for children: A decade of research. Learning Environments Research, 20(1), 47–76. https://doi.org/10.1007/s10984-016-9222-9
Attisano, E., Nancekivell, S. E., Tran, S., & Denison, S. (2022). So, what is it? Examining parent–child interactions while talking about artifacts in a museum. Early Childhood Research Quarterly, 60, 263–273. https://doi.org/10.1016/j.ecresq.2022.01.003
Bossavit, B., Pina, A., Sanchez-Gil, I., & Urtasun, A. (2018). Educational games to enhance museum visits for schools. Journal of Educational Technology & Society, 21(4), 171–186.
Callanan, M. A., Legare, C. H., Sobel, D. M., Jaeger, G. J., Letourneau, S., McHugh, S. R., Willard, A., Brinkman, A., Finiasz, Z., Rubio, E., Barnett, A., Gose, R., Martin, J. L., Meisner, R., & Watson, J. (2020). Exploration, explanation, and parent–child interaction in museums. Monographs of the Society for Research in Child Development, 85(1, Serial No. 336). https://doi.org/10.1111/mono.12412
Chrisnatalia, D., Rahayu, A., & Putri, M. K. (2024). Parenting goes to museum: Kegiatan edukasi di museum untuk anak dan orang tua. Jurnal Panrita Abdi, 8(4), 729–738.
de La Ville, V., Badulescu, C., & Delestage, C. (2021). Welcoming families to the museum: Reconsidering forms of cultural mediation for parent/child autonomous visits. International Journal of Arts Management, 23(3), 32–45.
Hsu, T.-Y., Liang, H.-Y., & Chen, J.-M. (2020). Engaging the families with young children in museum visits with a mixed-reality game: A case study. In H. J. So et al. (Eds.), Proceedings of the 28th International Conference on Computers in Education (pp. 665–674). Asia-Pacific Society for Computers in Education. https://library.apsce.net/index.php/ICCE/article/view/3957/3832
Kisida, B., Bowen, D. H., & Greene, J. P. (2015). Measuring critical thinking: Results from an art museum field trip experiment. Journal of Research on Educational Effectiveness, 9(2), 171–187. https://doi.org/10.1080/19345747.2015.1086915
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.
Tan, F., Gong, X., & Tsang, M. C. (2021). The educational effects of children’s museums on cognitive development: Empirical evidence based on two samples from Beijing. International Journal of Educational Research, 105, Article 101729. https://doi.org/10.1016/j.ijer.2020.101729
Willard, A. K., Busch, J. T. A., Cullum, K. A., Letourneau, S. M., Sobel, D. M., Callanan, M. A., & Legare, C. H. (2019). Explain this, explore that: A study of parent–child interaction in a children’s museum. Child Development, 90(5), e598–e617. https://doi.org/10.1111/cdev.13232
Xhembulla, J., Rubino, I., Barberis, C., & Malnati, G. (2014). Intrigue at the museum: Facilitating engagement and learning through a location-based mobile game. In Proceedings of the 10th International Conference on Mobile Learning 2014 (pp. 165–172). International Association for Development of the Information Society.