ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 62 Juli 2026

Digital Parenting: Tantangan Baru dalam Pengasuhan Anak

Oleh:

Clara Moningka & Eko A Meinarno

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Pengantar

Film Next Gen menceritakan keluarga yang hidup di era yang sangat canggih. Semua orang menggunakan robot sebagai alat bantu, apa pun, bahkan mangkuk mi cepat saji saja, ada kemampuan teknologi yang disematkan. Sepanjang film terlihat bahwa orang tua dari tokoh sentral ini sangat terikat dengan teknologi, dan menyerahkan kehidupan anaknya kepada teknologi.

 

Film fiksi itu seakan masih jauh dari kehidupan kita; sepertinya belum se-“high-tech” itu, padahal teknologi sudah merasuki kehidupan kita. Di satu sisi, membawa kemudahan dan kebaikan; di sisi lain, teknologi digital mengubah cara anak berinteraksi, belajar, dan membentuk identitas sosial. Media sosial menjadi bagian penting dari kehidupan anak, tetapi juga membawa risiko seperti kecanduan, cyberbullying, dan paparan konten yang tidak pantas (APA, 2023).

 

Pengasuhan

Orang tua juga sering kali memaparkan anak pada teknologi sejak dini. Anak yang tantrum diberikan tablet atau telepon genggam agar bisa tenang, bahkan membiarkan anak berkomunikasi dengan kecerdasan buatan. Relasi keluarga juga berubah karena setiap anggota keluarga sibuk dengan gawainya. Pemerintah Indonesia merespons tantangan ini dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Regulasi ini menekankan perlindungan data pribadi anak, pembatasan akses bagi anak di bawah 16 tahun, serta tanggung jawab platform digital. Kebijakan ini sudah diterapkan sejak Maret 2026. Hal ini menjadi bagian dari literasi digital nasional yang tidak hanya membatasi anak, tetapi juga mengedukasi masyarakat dalam menggunakan media sosial dan mendukung praktik pengasuhan yang berbeda; digital parenting.

 

Pengasuhan secara tradisional adalah proses orang tua melindungi dan mendidik anak (Meinarno, 2010; Prasetyawati, 2010; Newman & Newman, 2015).  Dalam pengasuhan ada nilai yang dimasukkan oleh orang tua. Adapun metode yang digunakan adalah enkulturasi dan sosialisasi (Kağitçibaşi 1996; Widianto, 2010; Goode, 2010; Brooks, 2011). Melindungi dan mendidik merupakan hal yang esensial termasuk dalam era digital. Orang tua seharusnya melindungi anak dari pengaruh negatif atau risiko teknologi digital, serta mendidik anak agar memahami penggunaan teknologi dengan tepat. Digital parenting membuat orang tua harus mengikuti perkembangan teknologi. Dengan lingkungan media sosial yang semakin luas, orang tua sulit mengontrol lingkungan digital anak. Digital parenting sendiri, mencakup pengawasan, pembatasan, dan edukasi mengenai literasi digital. Penting untuk diingat bahwa anak belum mampu mengidentifikasi risiko digital. Keterlibatan orang tua sangat penting untuk mencegah risiko penggunaan media sosial.

 

PP TUNAS mendukung digital parenting. Jika sebelumnya pengawasan terahdap media sosial, sepenuhnya menjadi tanggung jawab keluarga, saat ini negara memberikan dukungan dalam tiga bentuk:

1.  Restriktif, yaitu Orang tua didukung oleh kebijakan negara untuk membatasi akses anak terhadap media sosial

2.  Kolaboratif di mana orang tua tidak bekerja sendiri, tetapi ada regulasi dan fitur kontrol digital.

3.  Edukasi (digital literacy), dalam hal ini, orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman, bukan hanya melarang.

 

Secara nyata, bagaimana menciptakan kebiasaan perilaku digital yang baik? Orang tua dapat berdiskusi dengan anak berkenaan dengan aktivitas digital mereka. Apa yang mereka lihat termasuk kegunaan dan kerugian bagi mereka. Orang tua juga dapat membuat peraturan tentang apa yang bisa dilakukan dengan internet dan apa yang tidak boleh dilakukan. Misalkan mencari materi pelajaran, mencari tahu tentang sejarah bisa dicari di internet. Namun, hal yang tidak diperbolehkan adalah melakukan perundungan dan memberikan informasi pribadi di media sosial. Orang tua juga perlu membatasi waktu dan mengajak anak beraktivitas seperti membaca bersama, aktivitas fisik seperti olahraga dan bermain (Unicef, n.d.). Yang terpenting, orang tua harus menjadi contoh yang baik untuk anak.

 

Kesimpulan

Pada dasarnya, pembatasan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman. Digital parenting menjadi semakin penting di era regulasi digital seperti PP TUNAS. Kebijakan ini menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga negara dan platform teknologi. Keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada sinergi antara orang tua, pemerintah, dan platform digital dalam membangun ekosistem digital yang aman, sehat, dan edukatif untuk anak.

 

Referensi

Brooks, J. (2011). The process of parenting. 8th ed. McGraw Hill. 

Kağıtçıbaşı, Ç. (1996). Family and human development across cultures: A view from the other side. Psychology Press.

Meinarno, E. A. (2010). Konsep dasar keluarga. Dalam Keluarga Indonesia: Aspek dan Dinamika zaman. Penyunting Karlinawati Silalahi dan Eko A Meinarno. Rajagrafindo. Jakarta.

Newman, B. M., & Newman, P. R. (2015). Development through life: Psychosocial approach. Cengage Learning.

Goode, J. (2010). The theorretical importance of family. Dalam Family In Transition. Penyunting Arlene S Skolnick dan Jerome H Skolnick. Pearson

Widianto, B. (2010). Keluarga dan enkulturasi anak. Dalam Keluarga Indonesia: Aspek dan Dinamika zaman. Penyunting Karlinawati Silalahi dan Eko A Meinarno. Rajagrafindo. Jakarta.

Prasetyawati, W. (2010). Pola asuh orangtua dan prestasi belajar anak. Dalam Keluarga Indonesia: Aspek dan Dinamika zaman. Penyunting Karlinawati Silalahi dan Eko A Meinarno. Rajagrafindo. Jakarta.

TUNAS Digital Indonesia. (2025). Tunaspedia buku 1: Sekilas PP TUNAS. https://tunasdigital.id/wp-content/uploads/2025/10/Tunaspedia-Buku-1_SekilasPPTUNAS.pdf

UNICEF. (n.d.). 10 ways to create healthy digital habits at home. UNICEF Parenting. https://www.unicef.org/parenting/child-care/healthy-digital-habits