ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Rumah: Sekolah Pertama Emosi Anak
Oleh:
Arifin R.E. Saragih
Magister Psikologi Sains, Universitas Sumatera Utara
Saat seorang anak kecil menangis karena mainannya rusak, bagi orang dewasa, itu mungkin hanya peristiwa kecil. Namun bagi anak, pengalaman itu adalah peristiwa emosional yang besar dan penting, sebab pada saat itulah anak ia belajar bagaimana memahami dan menghadapi perasaannya. Pertanyaannya, dari siapa anak belajar mengelola emosi? Jawaban yang paling dekat adalah dari rumah.
Dalam psikologi perkembangan, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar tentang dunia emosinya. Bronfenbrenner (1979) menjelaskan bahwa keluarga berada dalam lingkup mikrosistem, yaitu lingkungan yang memiliki pengaruh paling langsung terhadap perkembangan anak. Melalui interaksi sehari-hari dengan orang tua, anak belajar mengenali emosi, memahami reaksi orang lain, dan mengembangkan cara merespons berbagai situasi kehidupan.
Psikolog Indonesia, Gunarsa (2008) menekankan bahwa hubungan emosional yang hangat antara orang tua dan anak menjadi dasar penting bagi perkembangan kepribadian yang sehat. Anak yang merasa diterima dan dipahami dalam keluarga cenderung memiliki rasa aman psikologis yang lebih kuat dalam menghadapi kehidupan sosialnya. Namun cara anak belajar emosi sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua menjalankan pola asuh.
Psikolog perkembangan Baumrind (1991) menekankan bahwa cara orang tua membimbing anak, yang dikenal sebagai pola asuh memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian dan emosi anak. Ia mengelompokkan pola asuh ke dalam beberapa tipe utama, seperti otoriter, demokratis (authoritative), permisif, dan pengabaian. Setiap pola asuh memiliki keseimbangan yang berbeda antara kontrol dan kehangatan emosional.
Pada pola asuh otoriter, orang tua menekankan disiplin yang ketat dan kepatuhan terhadap aturan. Anak sering diminta mengikuti perintah tanpa banyak penjelasan. Dalam situasi seperti ini, anak mungkin terlihat patuh, tetapi sering kali ia belajar menekan emosinya agar tidak dimarahi. Dalam jangka panjang, tekanan pengasuhan yang terlalu kaku dapat membuat anak lebih rentan mengalami kecemasan atau kesulitan mengekspresikan perasaan secara sehat.
Sebaliknya, pola asuh demokratis menempatkan kehangatan emosional dan batasan yang jelas dalam keseimbangan. Orang tua tetap memberikan aturan, tetapi juga membuka ruang dialog dan mendengarkan perasaan anak. Psikolog perkembangan Santrock (2011) menyebutkan bahwa pola asuh ini berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi dan keterampilan sosial yang lebih baik pada anak. Anak belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditekan, tetapi sesuatu yang dapat dipahami dan dikelola.
Namun, pengasuhan tidak hanya dipengaruhi oleh teori psikologi, tetapi juga oleh budaya. Penelitian tentang pengasuhan di Indonesia menunjukkan bahwa nilai budaya kolektivistik sering mempengaruhi cara orang tua mendidik anak. Studi yang dilakukan oleh Riany, Meredith, dan Cuskelly (2017) menunjukkan bahwa praktik pengasuhan di Indonesia sering kali dipengaruhi oleh nilai keharmonisan keluarga dan penghormatan kepada orang tua. Nilai-nilai budaya tersebut membentuk cara orang tua mendisiplinkan dan membimbing anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam banyak keluarga Indonesia, pendekatan pengasuhan sering menggabungkan disiplin dengan pendekatan persuasif, seperti menasehati dan menegur dengan halus dibandingkan hukuman fisik. Hal ini menunjukkan bahwa konteks budaya juga memainkan peran penting dalam perkembangan emosi anak.
Di sisi lain, perkembangan emosi anak tidak terjadi secara instan. Pada masa awal kehidupan, anak masih sangat bergantung pada orang tua untuk membantu menenangkan dan memahami perasaannya. Dalam psikologi perkembangan, proses ini dikenal sebagai co-regulation. Melalui respons yang empatik seperti mendengarkan, menenangkan, atau memeluk anak ketika sedih, orang tua membantu anak belajar mengelola emosinya secara bertahap. Beberapa penelitian terbaru seperti yang dilakukan oleh Suminar e.t (2024) menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu permisif atau menekan dapat membuat anak kesulitan mengelola emosi dan meningkatkan konflik dalam keluarga. Sebaliknya, pola asuh yang seimbang antara kehangatan dan batasan membantu anak mengembangkan regulasi emosi serta perilaku prososial yang lebih baik.
Sayangnya, dalam kehidupan keluarga modern, kualitas interaksi ini sering kali tergerus oleh kesibukan. Tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, serta penggunaan teknologi digital kadang membuat waktu bersama anak semakin terbatas. Padahal bagi anak, kehadiran emosional orang tua jauh lebih penting daripada sekadar kehadiran fisik.
Pada akhirnya, anak belajar tentang emosi bukan hanya dari nasihat yang diberikan orang tua, tetapi dari pengalaman relasional yang ia alami setiap hari. Ketika anak marah dan orang tua merespons dengan tenang, anak belajar bahwa kemarahan dapat dikelola. Ketika anak sedih dan orang tua hadir untuk mendengarkan, anak belajar bahwa perasaan adalah sesuatu yang dapat dipahami. Dengan kata lain, rumah sebenarnya adalah sekolah pertama bagi perkembangan emosi anak. Dalam percakapan sederhana, pelukan hangat, dan respons empatik sehari-hari, orang tua sedang menanamkan fondasi penting bagi kesehatan psikologis anak di masa depan.
Daftar Pustaka
Baumrind, D. (1991). The influence of parenting style on adolescent competence and substance use. Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95. https://doi.org/10.1177/0272431691111004
Berk, L. E. (2013). Child development (9th ed.). Pearson.
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development. Harvard University Press.
Gunarsa, S. D., & Gunarsa, Y. S. D. (2008). Psikologi perkembangan anak dan remaja. BPK Gunung Mulia.
Riany, Y. E., Meredith, P., & Cuskelly, M. (2017). Understanding the influence of traditional cultural values on Indonesian parenting. Marriage & Family Review, 53(3), 207–226. https://doi.org/10.1080/01494929.2016.1157561
Santrock, J. W. (2011). Life-span development (13th ed.). McGraw-Hill.
Suminar, D., Putri, R. H., Indrianti, A., Fitriani, A. N., Srinayanti, Y., Lismayanti, L., Gandara, L., & Rosmiati. (2024). The effect of parenting style on family emotional regulation. Genius Journal, 7(1), 26–42. https://doi.org/10.56359/gj.v7i1.826