ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 59 Juni 2026
Dampak Psikologis Krisis dan Bencana Pada Penyintas Kelompok Rentan
Oleh:
Arie Rihardini Sundari1 & Eko A Meinarno2
Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI
Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
Secara umum, penyintas bencana alam dan non alam mengalami dampak psikologis yang nyata (lihat Sundari & Meinarno, 2026a). Ditinjau dari kelompok usia dan gender, dampak yang dirasakan oleh penyintas pada saat krisis dan bencana, spesifik dan mengikuti kondisi perkembangannya (Sundari & Meinarno, 2026b). Pada kelompok usia anak, semakin muda usia mereka, maka semakin syok dan berat jika dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua (Fothergill, 2017; Peek, 2008; Kuncoro, 2024), terlebih di negara berkembang seperti Indonesia. Anak-anak sering kali tidak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara langsung; oleh karenanya, tekanan dan gejolak batin mereka biasanya terwujud sebagai masalah perilaku (Fukuchi & Koh, 2022). Pada kelompok usia lansia, kekhasan yang dirasakan oleh mereka adalah ketidakberdayaan dan merasa menjadi beban bagi orang dewasa lain yang lebih muda dari mereka, sehingga merasa lebih rapuh (Jia dkk., 2010). Sementara itu, bagi penyintas dengan disabilitas, sekelompok rentan yang sering diabaikan, bencana alam dimaknai sebagai suatu perjuangan berat, oleh karena keterbatasan pengetahuan dan bantuan, terlebih jika lokasi bencana berada di daerah pelosok.
Dampak Psikologis pada Anak
Kejadian bencana tidak dapat diprediksi, sangat mungkin saat terjadi bencana masing-masing anggota keluarga sedang menjalankan aktivitas, yang mengakibatkan anak terpisah dari orang tua. Berhari-hari tanpa mengetahui kabar orang tuanya, atau bahkan berbulan-bulan anak menunggu kabar keberadaan orang tuanya. Keadaan ini rentan bagi mereka mengalami tekanan emosional dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) yang tidak dapat dideteksi karena tidak ada pendampingan orang tua (Becker, 2007; Wang dkk., 2013; Newman dkk., 2014; Rahiem, Rahim, & Ersing, 2021).
Kondisi terpisah menimbulkan kerentanan lain seperti malnutrisi, kekerasan dan bahkan pelecehan seksual terhadap anak (Peek, 2008; Datzberger dkk., 2024). Perkembangan akademik juga terhambat karena rusaknya fasilitas sekolah, beserta aksesnya, hingga tenaga pengajar yang minim baik kualitas maupun kuantitas (Fothergill & Peek, 2015; Peek, dkk., 2017; Pfefferbaum & North, 2020; Aji, 2024).
Reaksi pascatrauma yang khas pada anak usia di bawah dua tahun, contohnya tidak dapat menjelaskan kejadian atau perasaan mereka, dan butuh untuk digendong serta diperhatikan terus-menerus. Sementara pada usia 2-5 tahun, oleh karena anak belum paham jika orang yang sudah meninggal tidak akan kembali, mereka merasa tidak berdaya dan tidak dapat menjaga dirinya sendiri, takut untuk ditinggalkan sehingga perlu berulang kali diyakinkan bahwa ia akan selalu diperhatikan dan dijaga, dan anak dapat mengekspresikan sebuah kejadian traumatis dalam permainannya secara berulang-ulang. Bentuk emosi dan perilaku pascatrauma yang ditunjukkan berupa rasa takut berpisah dengan orang tua, menangis, berteriak, bergerak tanpa tujuan (atau tidak bergerak sama sekali), gemetar, ekspresi wajah ketakutan, dan menimbulkan perilaku regresi (contoh dulu sudah tidak mengompol lalu mengompol kembali dan takut gelap) (DeWolfe, 2000; Maclean, Popovici & French, 2016; Subiyanto & Damayanti, 2022).
Reaksi pascatrauma khas yang nampak pada anak usia 6-12 tahun, contohnya anak membicarakan suatu kejadian terus-menerus dan secara detail. Ia terus teringat akan kejadian yang sudah terjadi dan anak paham bahwa yang sudah meninggal tidak dapat kembali lagi (Rahiem, Rahim, & Ersing, 2021). Reaksi emosi dan perilaku pascatrauma yang ditunjukkan, mulai dari secara berlebihan akan menarik diri dan tidak ingin bergaul dengan orang lain, bahkan tidak ingin sekolah. Hal lain yang muncul adalah perilaku mengganggu teman sekitarnya, dapat melakukan perilaku regresif (kembali mengompol padahal sebelumnya sudah tidak melakukannya, mengisap jari, menggigit kuku), bermimpi buruk, mengalami masalah tidur (terlalu banyak tidur atau tidak bisa tidur), mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah menangis. Dampak kondisi psikologis tadi memunculkan tingkah laku sering berkelahi, mati rasa, cemas, hingga mengalami depresi (DeWolfe, 2000; Veenema & Schroeder-Bruce, 2002; Tang dkk., 2014; Pfefferbaum & North, 2020).
Selain itu masalah psikologis, penyakit fisik yang berkaitan dengan stres juga muncul. Beberapa diantaranya seperti sakit kepala dan sakit perut, terpaku pada suatu hal secara intens, terlalu tegang, menempel atau ketergantungan pada orang lain yang sangat tinggi, dan mengalami mimpi buruk (Subiyanto & Damayanti, 2022; Fukuchi & Koh, 2022).
Dampak Psikologis pada Orang Lanjut Usia
Dampak psikologis yang terjadi pada orang lanjut usia diantaranya hilangnya rasa percaya diri, muncul suatu kekhawatiran, bahkan akan munculnya suatu gejala fobia (perasaan takut berlebihan). Situasi tersebut menurunkan motivasi untuk mempertahankan hidup selanjutnya. Hal yang perlu diperhatikan bahwa lansia umumnya menderita suatu penyakit fisik karena keadaan fisiknya yang sudah menurun (Jia dkk., 2010). Penyakit yang diderita lansia yang bersifat multiple (lebih dari satu penyakit), di mana saling terkait dan bersifat kronis, bersifat degeneratif (DeWolfe, 2000) yang pada akhirnya seringkali akan memicu disabilitas dan kematian.
Gejala pascatrauma yang khas pada kelompok lanjut usia adalah terjadinya berbagai kemunduran dalam kemampuan indera dan keadaan fisik, misalnya penglihatan dan pendengaran menjadi buruk, cepat merasa lelah, gerakan motorik melamban, dan kehilangan kelincahan (Subiyanto & Damayanti, 2022). Kondisi tersebut pada akhirnya membuat lanjut usia cenderung akan menarik dirinya dari lingkungan sosial, yang menjadikan mereka merasa terisolasi yang mengindikasikan depresi (Sasaki dkk., 2020). Reaksi emosi dan perilaku pascatrauma yang khas pada kelompok lanjut usia, contohnya perasaan kesepian, diabaikan, atau kurang dihargai, mudah curiga terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi, terkadang salah mempersepsikan apa yang disampaikan oleh orang lain. Tidak jarang para lansia memiliki perasaan tidak layak hidup, cenderung merasa membebani orang lain seperti anak-anak mereka, cenderung mudah untuk menunjukkan perasaan tidak senang yang mengakibatkan timbulnya rasa cemburu. Belum lagi, karena pengalaman hidupnya dan kemampuan dirinya di masa lalu membuat mereka menjadi sulit untuk diatur karena mereka merasa dirinya paling benar (Subiyanto & Damayanti, 2022).
Dampak Psikologis pada Penyintas ditinjau dari Kelompok Gender
Anak laki-laki sesungguhnya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih jika dibandingkan dengan anak perempuan. Reaksi stress traumatic pada anak laki-laki cenderung ditampilkan melalui perilaku agresif, antisosial, dan bentuk kekerasan lainnya. Anak perempuan cenderung merasa lebih tertekan akibat suatu peristiwa traumatik dan lebih sering memikirkan kembali mengenai bencana yang dialaminya. Namun demikian, mereka mampu mengungkapkan suatu emosi secara verbal dibandingkan anak laki-laki dan akan lebih mengajukan pertanyaan mengenai keadaan dirinya (Subiyanto & Damayanti, 2022).
Sementara, stress-traumatic laki-laki lanjut usia nampak cenderung kurang berinisiatif dalam berbagai hal, cenderung lebih tertutup dan berdiam diri, sulit memulai interaksi dengan orang lain (berkenalan, dan sekedar bercakap-cakap), jarang memeriksakan diri ketika sakit sehingga ketika mengalami sakit biasanya perlu diingatkan oleh lingkungannya, dan sulit untuk merawat dirinya sendiri. Pada perempuan lanjut usia, nampak cenderung lebih siap dalam menghadapi suatu peristiwa traumatis, lebih mudah untuk merawat diri sendiri dan menyediakan suatu kebutuhan sehari-hari setelah peristiwa bencana alam (Subiyanto & Damayanti, 2022). Sebagaimana dijelaskan dalam Sundari dan Meinarno (2026a) bahwa perbedaan yang nampak dalam bereaksi terhadap bencana pada laki-laki dan perempuan adalah perempuan sering kali lebih rentan secara sosial dan ekonomi, sementara laki-laki lebih berisiko menekan emosi dan tidak mencari bantuan.
Dampak bencana alam pada perempuan juga terhadap harapan hidup menurun lebih tinggi daripada lelaki (Neumayer & Plumper, 2007). Hal lain dikatakan bahwa ketika menjanda, perempuan akan mengubah lingkungan sosial, mengubah makna sosial makan bagi mereka (dampak dari kesepian), dan menghasilkan dampak negatif pada perilaku makan dan asupan nutrisi sebagai dampak dari rasa kehilangan dan kedukaan (Rosenbloom & Whittington, 1993; Yazawa dkk., 2024).
Dampak Psikologis pada Penyintas dengan Disabilitas
Penyandang disabilitas, rentan mendapatkan dampak psikososial negatif akibat bencana, cedera, bahkan kematian (Peek, 2008). Oleh karena keterbatasan kemampuan dan akses mereka terhadap lingkungan fisik, pengetahuan, dan komunikasi di masyarakat. Adanya kebingungan dan trauma akan apa yang sedang terjadi ditemui sebagian besar pada penyandang disabilitas intelektual dan netra, sementara pada disabilitas fisik, ketakutan dan ketidakberdayaan pada kondisi mereka yang dominan muncul (Bria dkk., 2024).
Penutup
Artikel ini memperlihatkan bahwa para penyintas tidak dapat dengan mudah dijadikan satu golongan. Latar psikologi, khususnya perkembangan manusia menjadi isu yang perlu diperhatikan. Bagi para relawan, hal ini penting karena pada dasarnya kebutuhan psikologis tiap individu tidak sama. Namun beberapa hal dasar tetap ada pola yang umum.
Daftar Pustaka:
Aji, K. L. (2024). Analisis Upaya Mitigasi Desa Pasca Kejadian Bencana di Indonesia. Tesis Jenjang Magister Program Studi Manajemen Bencana Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.
Becker, S. M. (2007). Psychosocial care for adult and child survivors of the Tsunami disaster in India. Journal of Child and Adolescent Psychiatric Nursing, 20(3), 148–155. https://doi.org/10.1111/j.1744-6171.2007.00105.x
Bria, S. P. B., Matahari., Kua, F. P. D., Batoek, N. A. L., Durry, F. S. G., Pello, S. C., Salsabila. (2024). Psikoedukasi pada Penyandang Disabilitas: Mempersiapkan Diri dalam Mengatasi Trauma dan Menghadapi Bencana Alam. KOLABORASI: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Vol. 4 No. 6, h. 475-484, E-ISSN 2723-7729 doi.org/10.56359/kolaborasi.v4i6.425
Datzberger, S., Howard-Merrill, L., Parkes, J., Iorfa, S. K. (2024). How do extreme weather events contribute to violence against children? Child Abuse & Neglect, 158, (2024) 107093 https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2024.107093
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual For Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters, 2nd Ed. Washington: Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.
Fothergill, A., & Peek, L. (2015). Children of Katrina. Austin, TX, USA: University of Texas Press. https://books.google.co.id/books/about/Children_of_Katrina. html?id=79vuCQAAQBAJ&redir_esc=y
Fothergill, A. (2017). Children, Youth, and Disaster. Oxford Research Encyclopedia of Natural Hazard Science. Retrieved 26 Oct. 2025, from https://oxfordre.com/naturalhazardscience/view/10.1093/acrefore/9780199389407.001.0001/acrefore-9780199389407-e-23.
Fukuchi, N., & Koh, E. (2022). Children’s survivor guilt after the Great East Japan Earthquake and tsunami: a case report. Educational Psychology in Practice, 38(2), 115–124. https://doi.org/10.1080/02667363.2022.2030674
Jia, Z., Tian, W., Liu, W., Cao, Y., Yan, J., & Shun, Z. (2010). Are the elderly more vulnerable to psychological impact of natural disaster? A population-based survey of adult survivors of the 2008 Sichuan earthquake. BMC Public Health, 10. https://doi.org/10.1186/1471-2458-10-172
Kuncoro, W. A. (2024). Pelibatan Anak Dalam Kesiapsiagaan Bencana Banjir di Sekolah Dasar (Studi Kasus: Pelaksanaan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana di DKI Jakarta). Tesis Jenjang Magister Program Studi Manajemen Bencana Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. Tidak Dipublikasikan.
Maclean, J. C., Popovici, I., French, M. T. (2016). Are natural disasters in early childhood associated with mental health and substance use disorders as an adult? Social Science and Medicine. 2016 Feb;151:78-91. doi: 10.1016/j.socscimed.2016.01.006. Epub 2016 Jan 7. PMID: 26789078.
Neumayer, E., & Plümper, T. (2007). The gendered nature of natural disasters: The impact of catastrophic events on the gender gap in life Expectancy, 1981-2002. Annals of the Association of American Geographers, 97(3), 551–566. https://doi.org/10.1111/j.1467-8306.2007.00563.x
Newman, E., Pfefferbaum, B., Kirlic, N., Tett, R., Nelson, S., & Liles, B. (2014, September 1). Meta-Analytic Review of Psychological Interventions for Children Survivors of Natural and Man-Made Disasters. Current Psychiatry Reports. Current Medicine Group LLC 1. https://doi.org/10.1007/s11920-014-0462-z
Peek, L. (2008). “Children and Disasters: Understanding Vulnerability, Developing Capacities, and Promoting Resilience – An Introduction.” Children, Youth and Environments 18(1): 1-29. https://www.jstor.org/stable/10.7721/chilyoutenvi.18.1.0001
Peek, L., Abramson, DM., Cox, RS., Fothergill, A., Tobin, J. (2017). Children and Disasters. In Rodríguez, H., et al. (eds.), Handbook of Disaster Research, Handbooks of Sociology and Social Research, https://doi.org/10.1007/978-3-319-63254-4_13
Pfefferbaum, B., & North, C. S. (2020). The association between parent-reported child disaster reactions and posttraumatic stress disorder in parent survivors of disasters and terrorism. Annals of Clinical Psychiatry, 32(4), 256–265. https://doi.org/10.12788/acp.0008
Rahiem, M. D. H., Rahim, H., & Ersing, R. (2021). Why did so many women die in the 2004 Aceh Tsunami? Child survivor accounts of the disaster. International Journal of Disaster Risk Reduction, 55. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2021.102069
Rosenbloom, C. A., & Whittington, F. J. (1993). The effects of bereavement on eating behaviors and nutrient intakes in elderly widowed persons. Journals of Gerontology, 48(4). https://doi.org/10.1093/geronj/48.4.S223
Sasaki, Y., Tsuji, T., Koyama, S., Tani, Y., Saito, T., Kondo, K., Kawachi, I., Aida, J. (2020). Neighborhood Ties Reduced Depressive Symptoms in Older Disaster Survivors: Iwanuma Study, a Natural Experiment. Int J Environ Res Public Health. 2020 Jan 3;17(1):337. doi: 10.3390/ijerph17010337. PMID: 31947798; PMCID: PMC6981381.
Subiyanto, A., & Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta. Abhiseka Dipantara.
Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026a). Membedakan Dampak Penyintas Berdasarkan Bentuk Bencana. Buletin KPIN Vol. 12 No. 57 Mei 2026 ISSN 2477-1686 diakses dari https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/2037-membedakan-dampak-penyintas-berdasar-bentuk-bencana
Sundari, A. R., Meinarno, E. A. (2026b). Berkenalan dengan Psikologi Bencana. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 52 Februari 2026 ISSN 2477-1686 diakses dari http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1989-berkenalan-dengan-psikologi-bencana
Tang, B., Liu, X., Liu, Y., Xue, C., & Zhang, L. (2014). A meta-analysis of risk factors for depression in adults and children after natural disasters. BMC Public Health, 14(1). https://doi.org/10.1186/1471-2458-14-623
Wang, C. W., Chan, C. L. W., & Ho, R. T. H. (2013, November). Prevalence and trajectory of psychopathology among child and adolescent survivors of disasters: A systematic review of epidemiological studies across 1987-2011. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology. https://doi.org/10.1007/s00127-013-0731-x
Veenema, T. G., & Schroeder-Bruce, K. (2002). The aftermath of violence: Children, disaster, and posttraumatic stress disorder. Journal of Pediatric Health Care, 16(5), 35–244. https://doi.org/10.1067/mph.2002.126869
Yazawa, A., Hikichi, H., Shiba, K., Okuzono, S. S., Kondo, K., Sasaki, S., & Kawachi, I. (2024). Association of disaster-related damage with inflammatory diet among older survivors of the Great East Japan Earthquake and Tsunami. British Journal of Nutrition, 131(9), 1648–1656. https://doi.org/10.1017/S0007114524000217