ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 56 April 2026
Cinta Bukan Kepemilikan: Belajar Menghargai Penolakan Tanpa Agresi
Oleh:
Nurhalijah Munthe
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Cinta seharusnya tempat seseorang dihargai, diterima dengan rasa aman dan nyaman bukan sebaliknya yang penuh dengan tekanan, cekaman dan ketakutan. Namun, bentuk relasi romantis hari ini, cinta justru berubah rupa, dari ruang nyaman menjadi ruang kuasa (Gilchrist, 2021). Istilah "cinta itu buta" sudah sangat akrab di telinga. Ia kerap dilekatkan pada mereka yang menempatkan cinta di atas segalanya. Dalam praktiknya, ungkapan ini sering berubah makna. Cinta bukan lagi sekadar perasaan mendalam, melainkan legitimasi untuk mengendalikan dan hak kepemilikan. Dari sanalah, pelan-pelan benih ancaman tumbuh (Picón et al., 2023). Penolakan dianggap pembangkangan perbedaan dianggap pengkhianatan. Ketika emosi tidak terkendali, kekerasan sering menjadi bahasa terakhir yang dipilih (Molina et al., 2025).
Seperti kasus yang tengah ramai dan viral di tengah Masyarakat seorang wanita mengalami kekerasan dan percobaan bunuh diri akibat penolakan cinta dari seorang pria (liputan6, 2026). Menurut Health Organization (2024) Hampir 1 dari 3 perempuan atau diperkirakan 840 juta di seluruh dunia mengalami kekerasan. Di Indonesia, berdasarkan data KOMNAS Perempuan (2025) terdapat 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan, meningkat hampir 10% dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data ini, memberikan gambaran betapa mirisnya kasus kekerasan pada perempuan terutama akibat hubungan romantis.
Penolakan dalam relasi adalah hal yang wajar. Setiap individu memiliki hak untuk menentukan pilihan atas tubuh, perasaan, dan masa depannya. Namun, bagi sebagian orang, penolakan dipersepsikan sebagai ancaman terhadap harga dirinya. Ketika harga diri terasa jatuh, sebagian orang merespons dengan kemarahan sebagai bentuk pertahanan diri (Leary et al., 2006; Murray et al., 2002).
Hal ini sejalan dengan Baron & Richardson (1994) yang menyebutkan bahwa agresif sering kali dipicu oleh persepsi ancaman atau provokasi. Selain itu Leary menyebutkan penolakan adalah sebagai ancaman terhadap harga diri atau kebutuhan sosial, yang kemudian memicu kemarahan atau agresi sebagai respons emosional. Menurut Berkowitz, (1993) respon Agresi merupakan perilaku yang dilakukan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain. artinya, agresi bukan sekadar emosi marah, melainkan tindakan yang memang diarahkan untuk melukai bahkan membunuh. Dalam konteks relasi romantis, agresi sering kali berawal dari emosi yang tidak terkelola, seperti cemburu, frustrasi, atau rasa ditolak, yang kemudian berubah menjadi perilaku menyakiti pasangan.
Berdasarkan hal ini, Belajarlah menghargai penolakan berarti belajar membedakan antara keinginan dan hak. Kita boleh menginginkan seseorang, tetapi kita tidak berhak memaksa untuk dibalas. Penolakan bukan berarti kita rendah, tidak berharga, itu hanya sebuah wujud ketidakcocokan antara satu dengan yang lain. Perasaan tidak bisa dipaksakan, cinta data dari naluri yang suci biarkan ia berlabu pada yang Ia sukai (López et al., 2019; Hadden et al., 2015).
Bagi Gen Z di era dewasa ini, penting untuk memahami dan menyadari bahwa respons impulsif serta tindakan kekerasan dalam hubungan bukanlah bentuk cinta, melainkan tanda belum matangnya pengelolaan emosi (Shorey et al., 2011). Reaksi spontan seperti kata kasar, menyebarkan aib, atau mempermalukan pasangan akan memperpanjang luka dan memperburuk keadaan.
Sebaiknya, tinggalkan dan mengambil jeda untuk menenangkan diri, berbicara dengan orang terpercaya, atau menyalurkan emosi melalui kegiatan positif sehinga membawa pad regulasi diri yang lebih sehat dan konstruktif. Kemampuan ini menunjukkan kedewasaan emosional seseorang telah mampu mengelola kekecewaan tanpa harus melukai orang lain.
Menghargai penolakan merupakan bagian dari kedewasaan emosional. Hal ini menuntut kesiapan untuk menerima bahwa tidak semua keinginan harus terpenuhi, serta menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh diterima atau ditolaknya oleh orang lain.
Daftar Pustaka
Baron, R. A., & Richardson, D. R. (1994). Human Aggression. Plenum Press.
Berkowitz, L. (1993). . Aggression: Its Causes, Consequences, and Control. McGraw-Hill.
Gilchrist, E. (2021). Intimate Partner Violence. In J. M. Brown & M. A. H. Horvath (Eds.), The Cambridge Handbook of Forensic Psychology (2nd ed., pp. 218–245). Cambridge University Press. https://doi.org/DOI: 10.1017/9781108848916.015
Gómez-López, M., Viejo, C., & Ortega-Ruiz, R. (2019). Well-Being and Romantic Relationships: A Systematic Review in Adolescence and Emerging Adulthood. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(13), 12–24. https://doi.org/10.3390/ijerph16132415
Hadden, B., Rodriguez, L., Knee, C., & Porter, B. (2015). Relationship autonomy and support provision in romantic relationships. Motivation and Emotion, 39. https://doi.org/10.1007/s11031-014-9455-9
Jiménez-Picón, N., Romero-Martín, M., Romero-Castillo, R., Palomo-Lara, J. C., & Alonso-Ruíz, M. (2023). Internalization of the Romantic Love Myths as a Risk Factor for Gender Violence: a Systematic Review and Meta-Analysis. Sexuality Research and Social Policy, 20(3), 837–854. https://doi.org/10.1007/s13178-022-00747-2
KOMNAS. (2025). Siaran Pers Komnas Perempuan Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Komnas. https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-memperingati-16-hari-anti-kekerasan-terhadap-perempuan
Leary, M. R., Twenge, J. M., & Quinlivan, E. (2006). Interpersonal rejection as a determinant of anger and aggression. Personality and Social Psychology Review : An Official Journal of the Society for Personality and Social Psychology, Inc, 10(2), 111–132. https://doi.org/10.1207/s15327957pspr1002_2
liputan 6. (2026). Kronologi dan Motif Mahasiswi UIN Suska Riau Dibacok Teman Kampus Jelang Sidang. Liputan 6. https://www.liputan6.com/news/read/6288027/kronologi-dan-motif-mahasiswi-uin-suska-riau-dibacok-teman-kampus-jelang-sidang
Murray, S. L., Rose, P., Bellavia, G. M., Holmes, J. G., & Kusche, A. G. (2002). When rejection stings: how self-esteem constrains relationship-enhancement processes. Journal of Personality and Social Psychology, 83(3), 556–573. https://doi.org/10.1037//0022-3514.83.3.556
Shorey, R. C., Brasfield, H., Febres, J., & Stuart, G. L. (2011). An Examination of the Association between Difficulties with Emotion Regulation and Dating Violence Perpetration. Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma, 20(8), 870–885. https://doi.org/10.1080/10926771.2011.629342
Vicario-Molina, I., Fernández-Fuertes, A. A., Fuertes, A., & Orgaz-Baz, M. B. (2025). Attachment, Power/Influence, Conflict Management Strategies, and Sexual Aggression in Emerging Adult Romantic Relationships. Scandinavian Journal of Psychology, 66(6), 854–870. https://doi.org/10.1111/sjop.13125
WHO. (2024). Violence against women. Word Health Organization. https://www-who-int.translate.goog/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-women?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc