ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 56 April 2026
Mengapa Sulit Berhenti Merokok:
Pandangan Psikologi Kesehatan
Oleh:
Christina Lumbantoruan
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
Merokok merupakan permasalahan yang belum teratasi di Indonesia, yang terlihat dari peningkatan prevalensi perokok aktif. Hal ini semakin memprihatinkan mengingat peningkatan paling signifikan terjadi pada kelompok anak dan remaja. Menurut Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, terdapat sekitar 70 juta perokok di Indonesia, di mana 7,4% di antaranya adalah perokok berusia 10–18 tahun. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan bahwa kelompok usia 15–19 tahun merupakan kelompok dengan jumlah perokok terbanyak (56,5%), diikuti oleh kelompok usia 10–14 tahun (18,4%).
Perokok pada umumnya sudah mengetahui bahaya merokok bagi kesehatan, baik dari media sosial maupun dari berbagai program edukasi berbasis sekolah dan masyarakat. Namun demikian, gencarnya pemasaran produk tembakau melalui platform media sosial yang banyak diakses anak dan remaja, seperti Instagram (68%), Facebook (16%), dan X (14%), turut berperan dalam menurunkan efektivitas upaya pencegahan merokok pada kelompok usia yang masih rentan terhadap pengaruh eksternal tersebut.
Beberapa penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan tentang bahaya rokok dengan upaya berhenti merokok. Namun demikian, pengetahuan saja tidak selalu memadai untuk membuat seseorang berhenti merokok. Pada beberapa orang, upaya untuk berhenti merokok juga dapat terhambat dan tidak berhasil.
Mengapa berhenti merokok begitu sulit? Psikologi kesehatan memberikan penjelasan melalui berbagai teori mengenai bagaimana manusia membentuk dan mengubah perilaku kesehatan.
Mengapa Sulit Berhenti Merokok dari Perspektif Health Belief Model
Salah satu teori yang sering digunakan untuk memahami perilaku kesehatan adalah Health Belief Model (HBM). Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan lebih mungkin mengubah perilakunya jika ia percaya bahwa dirinya berisiko mengalami masalah kesehatan dan bahwa perubahan perilaku tersebut dapat memberikan manfaat yang nyata.
Menurut Health Belief Model, ada beberapa faktor yang memengaruhi apakah seseorang merokok atau tidak merokok.
Kerentanan (perceived susceptibility). Jika individu menganggap bahwa merokok tidak akan menimbulkan dampak kesehatan dalam waktu dekat, maka mereka cenderung memulai atau melanjutkan perilaku merokok dengan anggapan bahwa dampak negatifnya baru akan terjadi di masa depan. Selain itu, ada kemungkinan individu merasa bahwa risiko tersebut tidak akan terjadi pada dirinya karena realitas bahwa beberapa perokok yang mereka kenal tidak mengalami masalah kesehatan akibat merokok.
Persepsi keparahan (perceived severity). Jika seseorang menganggap masalah kesehatan yang timbul dari merokok tidak terlalu serius, misalnya hanya berupa batuk ketika merokok, maka motivasi untuk berhenti merokok akan menjadi lebih rendah.
Persepsi manfaat dan hambatan (perceived benefits dan perceived barriers). Meskipun seseorang mengetahui bahaya merokok, individu dapat mengalami atau memperkirakan berbagai hambatan untuk berhenti, seperti ketergantungan nikotin, sulitnya mengubah kebiasaan, tekanan dari lingkungan sosial yang menormalisasi perilaku merokok, maupun berbagai alasan psikologis dan sosial lainnya yang memicu perilaku merokok. Jika individu merasa hambatan tersebut lebih besar dibandingkan manfaat berhenti merokok, maka kemungkinan besar seseorang akan tetap memulai atau melanjutkan perilaku merokok.
Bagaimana Mencegah atau Berhenti Merokok Menggunakan Psikologi Kesehatan
Setelah memahami mengapa seseorang sulit mencegah atau menghentikan perilaku merokok, psikologi kesehatan juga menawarkan pendekatan untuk membantu individu mengubah perilaku tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Theory of Planned Behavior (TPB).
Teori ini menjelaskan bahwa niat seseorang untuk melakukan suatu perilaku dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu sikap terhadap perilaku tersebut, norma sosial, dan persepsi kontrol diri.
Sikap (attitude). Sikap merujuk pada pandangan seseorang mengenai manfaat atau bahaya merokok bagi dirinya. Sikap ini akan menentukan motivasi seseorang untuk mengubah perilakunya. Jika merokok dipandang sebagai sesuatu yang merugikan atau membahayakan diri, maka seseorang akan lebih terdorong untuk mencegah atau menghentikan perilaku merokok, dan sebaliknya.
Norma sosial (subjective norms). Norma sosial berkaitan dengan dukungan dari keluarga, teman, atau lingkungan sosial dalam mendorong seseorang untuk tidak merokok atau berhenti merokok. Jika lingkungan sosial mendukung perilaku hidup sehat, yaitu tidak merokok, maka individu akan lebih termotivasi untuk mengikuti norma tersebut, dan sebaliknya.
Keyakinan mengendalikan perilaku (perceived behavioral control), yaitu keyakinan seseorang bahwa ia mampu mengendalikan perilakunya. Jika seseorang percaya bahwa ia mampu berhenti merokok, peluang keberhasilannya akan lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak yakin akan kemampuannya untuk mengendalikan diri. Oleh karena itu, program pencegahan merokok maupun program berhenti merokok yang efektif umumnya tidak hanya berfokus pada edukasi mengenai bahaya merokok, tetapi juga pada peningkatan rasa percaya diri individu untuk mengubah perilakunya.
Kesimpulan
Perubahan perilaku, seperti mencegah merokok maupun berhenti merokok, merupakan proses yang kompleks. Berbagai faktor turut berkontribusi terhadap keberhasilan perubahan perilaku tersebut, termasuk faktor psikologis, sosial, dan kebiasaan individu. Teori-teori dalam psikologi kesehatan diharapkan dapat membantu individu maupun sistem sosial di sekitarnya untuk memahami mengapa seseorang sulit mencegah maupun berhenti merokok, sekaligus menemukan strategi yang lebih efektif untuk membantu perubahan perilaku tersebut. Dengan meningkatkan kesadaran dan sikap terhadap risiko kesehatan, memperkuat dukungan sosial, serta meningkatkan keyakinan diri untuk berhenti merokok, individu memiliki peluang yang lebih besar untuk meninggalkan kebiasaan merokok dan menjalani hidup yang lebih sehat.
Referensi
Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Perokok aktif di Indonesia tembus 70 juta orang, mayoritas anak muda.
https://kemkes.go.id/id/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda
Rosenstock, I. M., Strecher, V. J., & Becker, M. H. (1988). Social learning theory and the health belief model. Health Education Quarterly, 15(2), 175–183. https://doi.org/10.1177/109019818801500203
Taylor, S. E. (2018). Health psychology (8th ed.). McGraw-Hill Education.