ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 53 Maret 2026

 

“Mudah Resign atau Punya Self-Concept yang Sehat? Meninjau Stigma ‘Baper’ pada Gen Z”

Oleh:

 Rindi Atikah, Rina Maya Ursula, Febrian, & Hifizah Nur

Fakultas Psikologi, Universitas Mercubuana

 

Gen Z sering dikaitkan dengan sejumlah label negatif di dunia kerja, seperti mudah tersinggung, kurang mampu menahan tekanan, hingga mudah emosional “Baper”di ketika menghadapi tuntutan profesional. Banyak pula orang yang menyebut mereka sebagai Gen ‘mental tempe’ tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya rentan saat menghadapi konflik. Stigma ini menguat seiring maraknya fenomena resign dalam waktu singkat yang dilakukan oleh pekerja muda. Namun, apakah hal ini benar-benar menunjukkan kelemahan pribadi, atau justru mencerminkan perubahan cara Gen ini memandang diri sendiri, pekerjaan, dan kesehatan mental mereka?

Gen Z adalah istilah demografis yang digunakan untuk mendefinisikan Gen yang lahir mulai dari pertengahan 1990-an hingga 2010. Gen ini merupakan Gen yang berinteraksi dengan teknologi sejak lahir dan seringkali disebut sebagai digital native. Seperti yang kita ketahui saat ini, kemutakhiran dunia digital memungkinkan kita untuk mengakses informasi secara cepat, algoritma sosial media yang bisa dipersonalisasi, sampai kecanggihan AI yang bisa mengambil alih tugas manusia. Dengan segala kemudahan ini, muncul kekhawatiran bahwa Gen Z dianggap Gen yang rentan bagai stroberi, menarik di luar tetapi mudah memar ketika menghadapi tekanan khususnya dalam dunia kerja. Persepsi ini memicu pertanyaan penting: apakah anggapan tersebut merupakan gambaran yang benar, atau hanya sekadar stigma terhadap Gen yang memiliki sifat berbeda?

Self-Concept dan Kesehatan Mental di Kalangan Gen Z

Taylor (2009) mendefinisikan konsep diri sebagai seperangkat keyakinan tentang diri. Konsep diri adalah suatu identitas diri yang merupakan skema yang terdiri dari kumpulan belief dan perasaan yang terorganisasi mengenai diri. Konsep ini mencakup keyakinan, nilai, dan sikap individu tentang siapa mereka dan apa yang penting bagi mereka. Singkatnya, konsep diri menggambarkan bagaimana seseorang memandang siapa dirinya dan apa yang ia anggap penting dalam hidup.

Pada Gen Z, konsep diri dipengaruhi oleh paparan media sosial dan teknologi digital sehingga mereka memiliki konsep diri yang lebih terintegrasi dan kompleks dimana identitas digital dan nilai-nilai pribadi seperti kesehatan mental, keseimbangan hidup  dan tujuan hidup menjadi bagian integral dari cara mereka melihat diri dan pekerjaan. Meski memiliki menganut akan nilai-nilai positif tadi, Gen Z juga rentan akan penilaian orang lain. Mereka takut dikritik negatif, baik di dunia maya maupun di lingkungan kerja. Isu kesehatan mental yang sering digaungkan Gen Z mendorong perubahan dari model kerja tradisional yang berorientasi pada produktivitas semata menuju pendekatan yang lebih humanis dan memperhatikan kesejahteraan psikologis.

Menurut Carl Rogers, seorang psikolog humanistik terkemuka, self-concept terdiri dari tiga komponen utama: self-image (citra diri), self-esteem (harga diri), dan ideal self (diri ideal). Self-image adalah pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri, self-esteem adalah evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri yang mencakup rasa percaya diri dan penghargaan diri, sedangkan ideal self adalah gambaran tentang diri yang diinginkan seseorang. Rogers juga berpendapat bahwa self-concept merupakan pusat dari pengalaman individu dan sangat berpengaruh pada cara seseorang melihat dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Ketika ada kesenjangan antara self-image dan ideal self, misalnya pekerjaan yang tidak selaras dengan nilai atau kebutuhan psikologis individu berpotensi mengalami ketegangan psikologis yang berdampak pada kesehatan mental.

Fenomena Mudah Resign di Kalangan Gen Z

Data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2020 menunjukkan bahwa Gen Z menempati posisi pertama dalam memasuki lingkungan kerja. Baby Boomer sebesar 11,56%, Gen X sebesar 21,88%, Gen Y 25,87%, dan Gen Z 27,94% (Badan Pusat Statistik, 2021). Menurut Gentina (2020), dalam bukunya "The New Generation Z in Asia: Dynamics, Differences, Digitalisation," menyebutkan beberapa karakteristik unik dari Gen Z. Pertama, Gen Z adalah digital natives, yang berarti mereka adalah produk asli dari era digital, menguasai teknologi tanpa perlu adaptasi. Mereka mengusulkan cara berpikir baru tentang penggunaan teknologi secara efektif. Kedua, mereka memiliki identitas ganda, menghabiskan banyak waktu online sambil juga aktif dalam kegiatan sosial offline. Ketiga, mereka adalah Gen yang cemas karena sering terpapar ujaran kebencian (hate-speech) di media sosial. Keempat, mereka adalah Gen yang kreatif, berorientasi masa depan, serta memiliki kemampuan kolaborasi dan berbagi, terutama melalui media sosial.

Gen Z dianggap menginginkan yang serba instan dan kurang tahan terhadap tekanan, hingga muncul julukan “Mental Tempe.” Penelitian menunjukkan bahwa meskipun Gen Z memilih pekerjaan berdasarkan gaji, faktor yang membuat mereka bertahan adalah non-finansial seperti suasana kerja yang baik, penghargaan, perkembangan karir, kesadaran diri, nilai dan etika perusahaan, serta kepercayaan. Survei yang dilakukan oleh Mind Share Partners, SAP, dan Qualtrics menunjukkan bahwa sekitar 75% Gen Z akan meninggalkan pekerjaan jika membuat mereka cemas dan depresi. Gen ini lebih rentan terhadap kecemasan dibandingkan Gen sebelumnya. Melisa Soentoro dari Korn Ferry Indonesia menyatakan bahwa Gen Z lebih optimis terhadap masa depan dibandingkan milenial.

Gen Z bukanlah Gen yang berbeda secara radikal dari Gen sebelumnya, namun cara kerjanya sangat berbeda. Mereka memiliki kesadaran penuh akan kebutuhan diri mereka dan konsep diri yang jelas terhadap harga dirinya. Hal ini membuat mereka lebih sadar terhadap batas toleransi dalam pekerjaan. Misalnya, dalam lingkungan kerja yang toxic atau atasan yang tidak memberikan hak cuti, Gen Z yang memiliki self-concept yang jelas tidak akan ragu untuk resign.

Fenomena mudah resign pada Gen Z tidak dapat disimpulkan secara gamblang sebagai sikap emosional “Baper” saja, melainkan kesadaran yang tinggi akan konsep diri membuat Gen Z lebih peka terhadap batas toleransi dalam pekerjaan. Dalam lingkungan kerja yang tidak sehat, seperti budaya kerja yang toxic atau pelanggaran hak karyawan, keputusan untuk resign dapat dipandang sebagai regulasi diri dan upaya menjaga kesehatan mental. Dengan demikian, fenomena mudah resign di kalangan Gen Z lebih tepat dipahami sebagai refleksi diri dari kesadaran diri dan pencarian kesejahteraan psikologis

 

Referensi :

Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. (2009). Social psychology (12th ed.). Pearson Education.

Gentina, E. (2020). The new generation Z in Asia: Dynamics, differences, digitalisation. Emerald Publishing Limited.

Fadilah, M., Utari, P., & Wijaya, M. (2023). How’s the self-concept and adaptation-interaction challenges of generation Z in the workplace? [Master's thesis, Sebelas Maret University]. Surakarta, Indonesia.

Kuzior, A., Kettler, K., & Rąb, Ł. (2022). Great Resignation-Ethical, Cultural, Relational, and Personal Dimensions of Generation Y and Z Employees' Engagement. Sustainability, MDPI. 

Prasetyaningtyas, S. W., Natalia, C., & Utami, T. S. (2022). Factors Affecting Gen Z Work Performance: Case Study from E-commerce Industry in Jabodetabek. Jurnal Aplikasi Manajemen dan Bisnis