ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 53 Maret 2026
Hadir Secara Fisik, Absen Secara Psikologis: Urgensi Workplace Belongingness
Oleh:
Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Program Studi Psikologis Universitas Pembangunan Jaya
Laporan EY Global Belonging Barometer 4.0 (Ernst & Young, 2025) menunjukkan workplace belongingness menghadapi tantangan yang signifikan. Laporan tahun 2025 menunjukkan 85 persen responden melaporkan pernah merasa tersisih (excluded) di tempat kerja - angka ini meningkat dibandingkan data tahun sebelumnya. Laporan tersebut menunjukkan Gen Z dan Milenial merasakan workplace belongingness rendah, antara lain mengalami keterasingan dan tidak bisa hadir dengan identitas otentiknya di tempat kerja. Apabila organisasi tidak mengambil langkah terstruktur, workplace belongingness yang rendah ini berpotensi menghambat produktivitas, keterlibatan, dan loyalitas pekerja.
Jena dan Pradhan (2018) mengembangkan Workplace Belongingness Scale (WBS) untuk mengukur workplace belongingness yang didefinisikan sebagai perasaan bahwa seseorang “cocok”, diterima, dan terhubung secara psikologis dengan lingkungan kerja termasuk sistem kerja, nilai, rekan, dan kebijakan organisasi, yang mencerminkan integrasi sosial dan identifikasi individu terhadap tempat kerja mereka ke dalam 12 item dengan satu dimensi.
Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa terdapat hubungan job crafting dan appreciative leadership terhadap workplace belongingness (Raza et al., 2020). Penelitian Rizvi et al. (2022) di Pakistan menunjukkan workplace belongingness memediasi appreciative leadership, job crafting dan employee engagement. Penelitian di Indonesia menguji workplace belongingness sebagai mediator antara job crafting dan leisure crafting terhadap employee well-being pada generasi Gen Z dan Milenial yang bekerja dalam model hybrid di Indonesia dengan pendekatan self-determination theory. Hasilnya menunjukkan bahwa tanpa workplace belongingness yang kuat di tempat kerja, job crafting gagal meningkatkan kesejahteraan (Damayanti & Samian, 2025). Sementara studi-studi sebelumnya menunjukkan workplace belongingness penting karena berhubungan positif dengan kontribusi positif demi kebaikan organisasi, penelitian-penelitian tersebut sekaligus menunjukkan urgensi untuk terus menggali hal tersebut ke depan.
Panduan Cultivating Belonging in the Workplace dari Health Action Alliance (Glennon et al., 2022) menawarkan lima langkah yang dapat diadopsi organisasi mulai dari mengidentifikasi dan menghidupkan nilai organisasi, membangun komunikasi, memberdayakan employee resource groups, mengintegrasikan workplace belongingness ke kebijakan perusahaan, hingga menetapkan evaluasi berkelanjutan. Harapannya dengan meningkatkan workplace belonging, maka rasa aman secara psikologis ikut meningkat, hubungan antarpersonal lebih kuat, dan organisasi menghasilkan kinerja lebih baik.
Daftar Pustaka:
Damayanti, B. F., & Samian. (2025). Mengapa crafting gagal? Workplace belongingness sebagai mata rantai yang hilang dalam kesejahteraan Gen Z dan Milenial. INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 10(1), 53–81. https://doi.org/10.20473/jpkm.v10i12025.53-81
Ernst & Young. (2025). Global Belonging Barometer 4.0: Global insights to connection and belonging at work.
Glennon, R., Strauss, L., & Maynard-Collier, S. (2022). Cultivating belonging in the workplace: An employer guide.
Jena, L. K., & Pradhan, S. (2018). Conceptualizing and validating workplace belongingness scale. Journal of Organizational Change Management, 31(2), 451–462. https://doi.org/10.1108/JOCM-05-2017-0195
Raza, M., Wisetsri, W., Chansongpol, T., Somtawinpongsai, C., & Ramírez-Asís, E. H. (2020). Fostering workplace belongingness among employees. Polish Journal of Management Studies, 22(2), 428–442. https://doi.org/10.17512/pjms.2020.22.2.28
Rizvi, T., Bt Pangil, F., & Binti Johari, J. (2022). Fostering employee engagement through the mediating effect of workplace belongingness among the faculty members of private universities of Pakistan. Change Management: An International Journal, 22(2), 2022.
