ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 53 Maret 2026
Toxic Masculinity: Tantangan dalam Kesejahteraan Psikologis pada Laki-Laki
Oleh:
Sherafim Calista Angie Nainggolan & Nanda Rossalia
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Toxic Masculinity dalam Kehidupan Laki-Laki
Di era modern ini, laki-laki sering dihadapkan dengan norma sosial yang menekan mereka untuk selalu menjadi sosok yang kuat, agresif, dan dapat menahan ekspresi emosinya. Ketika norma-norma tersebut tidak dipenuhi, laki-laki biasanya dianggap sebagai “pria yang lemah” (Kusnandar, 2023). Fenomena ini disebut sebagai toxic masculinity dimana sikap tersebut dapat merugikan individu dan juga orang-orang di sekitarnya. Sehingga, dibalik tuntutan-tuntutan tersebut, laki-laki dapat merasa tertekan untuk terlihat “kuat” dan juga berusaha keras untuk diterima dalam lingkungannya.
Apa itu Toxic Masculinity?
Menurut Husodo & Sethio (2021), toxic masculinity adalah tindakan-tindakan untuk membuktikan maskulinitas yang mengarah pada kerugian. Toxic masculinity menuntut laki-laki untuk tidak bersikap lemah lembut dan menunjukkan kasih sayang. Menurut teori The Man Box oleh Heilman et al. (2017) terdapat tujuh ciri-ciri toxic masculinity yaitu antara lain: kemandirian (self-sufficiency), bertindak keras (acting tough), ketertarikan fisik (physical attractiveness), peran gender yang kaku (rigid masculine gender roles), heteroseksualitas dan homofobia, hiperseksualitas, serta agresi dan kontrol (aggression and control).
Di Indonesia, fenomena toxic masculinity ini diperkuat dengan adanya budaya yang dianut dalam keseharian yaitu budaya patriarki. Budaya ini menciptakan struktur dimana laki-laki selalu sebagai sosok yang dominan dan juga kuat. Misalnya pada suku Jawa dan Batak, ditemukan masih banyak yang menganut sistem dimana laki-laki memegang tanggung jawab secara signifikan dan harus menuruti apa yang dikatakan laki-laki (Sugeha & Nurlaily, 2023).
Dampak dari Toxic Masculinity
Toxic masculinity bukan hanya sebagai suatu permasalahan sosial, melainkan juga memiliki kontribusi yang besar terhadap pembentukan kesehatan mental laki-laki. Ketika tuntutan sosial yang ada tidak dapat mereka penuhi, hal ini dapat menimbulkan tekanan-tekanan psikologis pada laki-laki. Ditemukan bahwa sering kali laki-laki sering menyembunyikan emosinya agar dapat diterima di lingkungannya, dimana ketika laki-laki tidak dapat mengekspresikan emosinya tersebut ia akan mengalami tekanan batin dan dapat mengarah kepada gangguan mental (Ramdani et al., 2022). Individu juga dapat memiliki kecemasan, trauma, dan depresi serta dapat mengalami penolakan atau pengucilan di lingkungannya (Ramdani et al., 2022). Selain itu, toxic masculinity dapat menekan laki-laki menjadi individu yang egois, kurang berempati, dan berperilaku kasar (Ningrum & Kadarusman, 2023).
Toxic Masculinity dan Subjective Well-Being
Kesejahteraan subjektif atau yang sering dikenal sebagai subjective well-being merupakan evaluasi individu terhadap kehidupan, termasuk pada penilaian kognitif terhadap kepuasan hidupnya dan penilaian afektif terhadap emosinya (Diener & Lucas,1999). Konsep pada subjective well-being mencakup tiga hal, yaitu afek positif, afek negatif, serta kepuasan hidup (Diener et al, 2017). Terdapat faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi subjective well-being individu yaitu: pendapatan, kepribadian, goals-orientation, self-esteem, serta social comparison. Toxic masculinity dapat membatasi subjective well-being dengan menekan ekspresi emosi pada individu sehingga yang ditampilkan hanya pada bagian “baik-baik” saja meskipun individu tersebut sedang mengalami kesulitan. Hal inilah yang menunjukkan bahwa norma-norma maskulinitas bisa berperan dalam subjective well-being individu dalam kesehariannya.
Kesimpulan
Toxic masculinity adalah suatu isu yang mengakar dalam masyarakat dan dapat merugikan individu maupun orang-orang di sekitarnya. Norma maskulinitas yang terlalu kaku juga dapat menghambat perkembangan emosional laki-laki dan juga kesejahteraan psikologisnya. Oleh karena itu, hal ini penting untuk disadari oleh masyarakat agar tiap individu lebih memahami isu terkait toxic masculinity dan juga membentuk maskulinitas yang lebih sehat demi meningkatkan kesejahteraan subjektif laki-laki.
Referensi :
Diener, E., Pressman, S. D., Hunter, J., & Delgadillo-Chase, D. (2017). If, Why, and When Subjective Well-Being Influences Health, and Future Needed Research. Applied Psychology: Health and Well-Being, 9(2), 133–167. https://doi.org/10.1111/aphw.12090
Diener, E., Suh, Eunkook M., Lucas, R. E., Smith, H.L. (1999). Subjective WellBeing: Three Decades of Progress. Psychological Bulletin Vol. 125, No. 2, 276-302.
Heilman, B., Barker, G., & Harrison, A. (2017). THE MAN BOX - A study on being a young man. Equimundo and Unilever (AXE), 14–18.
Husodo, E., & Sethio, A. C. (2021). Destruction of Indonesian Men’s Masculinity as A Result of Perfect Male-Lead Portrayal in Korean Dramas. In Pedagogical Innovations in Education (Pedagogica, Issue 2016, pp. 7–13). http://digital.library.ump.ac.id/view/divisions/BookChapterISTED/2021.html
Kusnandar, J. H. (2023). Stigma Maskulinitas Di Tengah Budaya Patriarki Analisis Teori Solidaritas Sosial Emile Durkheim. Lentera : Journal of Gender and Children Studies, 3(1), 26–51. https://doi.org/10.26740/lentera.v3i1.17759
Ningrum, L. A., & Kadarusman, I. W. (2023). Resilience Increases Gender Equality Due to Toxic Masculinity on Young Adult Productivity: A Systematic Review. Proceeding of International Seminar Indonesia-Malaysia 2023 Resilience, 109–117. http://conference.um.ac.id/index.php/pses/article/view/9130/3022
Ramdani, M. F. F., Putri, A. V. I. C., & Wisesa, P. A. D. (2022). Realitas Toxic Masculinity di Masyarakat. Prosiding Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial (SNIIS), 1(1), 230.
Sugeha, A. Z., & Nurlaily, A. S. (2023). Toxic Masculinity Practice Portrayed in Children’s Growth at Senior High School in Malang. Humanitatis : Journal of Language and Literature, 9(2), 219–232. https://doi.org/10.30812/humanitatis.v9i2.1659
