ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 47 Desember 2025
Mengapa Kita Suka Membuat Fake Scenario di Kepala Sendiri?
Oleh:
Zanetta Sheilarose Setiawan
Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana
Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, banyak orang mencari cara untuk menenangkan pikiran sebelum tidur atau sekadar menghibur diri di sela kesibukan. Salah satu kebiasaan yang kini banyak dibicarakan di media sosial adalah fake scenario, yakni membayangkan skenario imajiner yang belum pernah terjadi dalam kehidupan nyata, seperti kisah percintaan ideal, kesuksesan besar, atau pertemuan dengan sosok yang dikagumi. Aktivitas ini tampak sederhana, tetapi menyimpan dimensi psikologis yang menarik karena berkaitan dengan kebutuhan emosional dan cara individu mengelola kenyataan melalui imajinasi.
Bayangkan seseorang yang berbaring di kasur setelah hari panjang yang melelahkan. Dalam ruang sunyi dan cahaya redup kamar, matanya menatap langit-langit, pikiran mulai berkelana, menenun kisah yang tak pernah terjadi namun terasa begitu nyata. Dalam imajinasinya, ia menjalani hidup yang diinginkan penuh cinta, penerimaan, dan keberhasilan. Semua terasa indah dan menenangkan, seolah dunia imajiner itu menjadi ruang aman dari kerasnya realitas.
Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya, mengapa begitu banyak orang menikmati membuat skenario palsu di kepala mereka sendiri? Apakah hal ini sekadar bentuk pelarian, atau justru cara alami manusia untuk memenuhi kebutuhan emosional dan menumbuhkan kesejahteraan batin? Pertanyaan ini menjadi dasar untuk memahami bagaimana imajinasi dapat berperan dalam menjaga kesehatan psikologis seseorang.
Fenomena fake scenario kini banyak dibicarakan di media sosial, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, merujuk pada kebiasaan membayangkan situasi yang belum terjadi, seperti kisah cinta ideal, kesuksesan pribadi, atau pertemuan impian. Kebiasaan berimajinasi ini merupakan bentuk escapism, yakni cara mental seseorang untuk sejenak beristirahat dari tekanan hidup, sekaligus menyalurkan keinginan yang mungkin sulit dicapai di dunia nyata.
Secara psikologis, kegiatan berandai-andai ini erat kaitannya dengan fungsi imajinasi. Imajinasi membantu individu merepresentasikan hal-hal yang tidak nyata sebagai sarana eksplorasi diri dan pemenuhan kebutuhan emosional, sehingga banyak orang merasa lebih tenang dan bahagia setelah “menjalankan” skenario mereka di kepala. Di era digital, fake scenario bahkan telah menjadi bentuk ekspresi diri yang umum, dengan banyak orang membagikan pengalaman “hidup dalam kepala” melalui platform seperti TikTok sebagai cara sederhana untuk merasa lebih damai dan terkoneksi dengan keinginan terdalam mereka.
Fenomena fake scenario sesungguhnya tidak lepas dari kemampuan otak manusia dalam membangun imajinasi, di mana individu dapat “menghadirkan realitas alternatif” yang membantu memahami emosi dan mempersiapkan diri menghadapi situasi nyata. Aktivitas ini sering berfungsi sebagai bentuk mental rehearsal, seolah otak sedang berlatih menghadapi hal-hal yang belum terjadi, sekaligus memenuhi kebutuhan emosional. Banyak orang menggunakan fake scenario sebagai pelarian dari kenyataan yang melelahkan; membayangkan hal-hal menyenangkan memicu pelepasan dopamin, menimbulkan rasa nyaman dan tenang sebelum tidur, sehingga kegiatan ini dapat berperan sebagai mekanisme self-soothing alami. Namun, kebiasaan ini tidak selalu berdampak positif. Terlalu sering tenggelam dalam dunia imajinasi dapat menimbulkan jarak antara fantasi dan realitas, yang berpotensi menimbulkan ekspektasi berlebihan dan rasa kecewa terhadap kehidupan nyata, sehingga keseimbangan antara imajinasi dan kenyataan menjadi penting untuk menjaga kesehatan psikologis.
Dari sudut pandang psikologi, fake scenario juga erat kaitannya dengan konsep daydreaming atau melamun terarah. Melamun bukan sekadar “mengkhayal kosong,” melainkan aktivitas mental yang membantu seseorang mengatur emosi, menyusun rencana, dan menumbuhkan motivasi. Ketika seseorang membayangkan dirinya berhasil, dicintai, atau berada dalam situasi ideal, otak menstimulasi perasaan positif yang mirip pengalaman nyata, sehingga setelah berandai-andai individu sering merasa lebih lega atau termotivasi. Namun, fake scenario juga bisa menjadi bentuk kompensasi psikologis; Sigmund Freud menyebutnya sebagai wish fulfillment, yakni pemenuhan keinginan yang tak tercapai di dunia nyata melalui imajinasi. Dengan kata lain, ketika realitas tidak sesuai harapan, pikiran menciptakan ruang alternatif agar seseorang tetap merasa memiliki kendali atas kehidupannya.
Meski sisi positifnya jelas, kebiasaan fake scenario harus dijalankan dengan kesadaran dan batasan. Ketika seseorang terlalu sering tenggelam dalam skenario imajiner, hingga realitas terasa kurang menarik atau bahkan membebani, hal itu bisa berubah menjadi maladaptif. Penelitian tentang maladaptive daydreaming menunjukkan bahwa tingkat regulasi emosi yang buruk, rasa frustrasi yang tinggi, serta kecenderungan menghindar dari kenyataan menjadi faktor utama yang menyebabkan imajinasi menjadi beban bukannya penyembuh. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan menjadi sangat penting: menggunakan imajinasi sebagai sumber kekuatan dan ketenangan, namun tetap menjaga keterhubungan dengan kehidupan nyata melalui tindakan konkret, refleksi, dan kesadaran diri.
Akhirnya, kebiasaan membuat fake scenario di kepala bukanlah hal yang harus dianggap tabu atau “mengada-ada”. Justru, bila digunakan dengan sadar dan proporsional, imajinasi bisa menjadi sumber ketenangan emosional dan ruang pengembangan diri yang unik. Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, sedikit menengok ke dalam kepala bukan berarti melarikan diri, melainkan menemukan kekuatan untuk kembali menghadapi dunia nyata dengan hati yang lebih tenang. Yang penting adalah; jangan hanya tinggal di sana gunakan skenario itu untuk memberi energi, lalu kembali ke dunia nyata dengan langkah yang nyata pula.
Daftar Pustaka
AI : Chat GPT (membantu memberikan ide dalam penulisan)
Cherry, K. (2023). The power of imagination and escapism. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com
Kalat, J. W. (2021). Biological psychology (13th ed.). Cengage Learning.
King, L. A. (2022). The science of psychology: An appreciative view (6th ed.). McGraw-Hill Education.
Singer, J. L., & McCraven, V. G. (2020). Daydreaming and fantasy: Theory and research. Psychology Press.
Somer, E., West, M., & Kjell, O. N. E. (2020). Daydreaming as an emotion regulation strategy: Adaptive and maladaptive processes. Frontiers in Psychology, 11, 1234. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01234
Musetti, A., Boursier, V., Schimmenti, A., & Carrà, G. (2024). Maladaptive daydreaming: Understanding the risks of excessive imagination. Journal of Behavioral Addictions, 13(2), 245–259. https://doi.org/10.1556/2006.2024.00012
