ISSN 2477-1686

Vol. 7 No. 12 Juni 2021

Ketika Disonansi Membuahkan Justifikasi:

Pembelajaran dari Field Experiment tentang Plagiarisme

 

Oleh:
Made Syanesti Adishesa

Fakultas Psikologi, Unika Atma Jaya

 

Belakangan ini kasus plagiarisme di kalangan pejabat perguruan tinggi cukup ramai diberitakan di media. Kasus-kasus tersebut mengingatkan saya dengan penelitian yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Beranjak dari rasa ingin tahu saya terhadap kasus plagiarisme di kalangan siswa, saya dan seorang kolega melakukan eksperimen untuk mengurangi plagiarisme (Adishesa & Prawiro, 2020). Kami menggunakan prinsip hypocrisy induction dengan meminta siswa membuat poster kampanye anti plagiarisme. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan pertanyaan yang secara halus mengingatkan mereka bahwa mereka pernah melakukan plagiarisme sebelumnya. Tujuan dua kegiatan ini adalah menimbulkan perasaan ‘risih’ atau disonansi kognitif dalam para siswa, yasng secara teori bisa mendorong seseorang untuk mengubah perilakunya (E. Aronson et al., 1991; Dickerson et al., 1992; Stone et al., 1994). Ketika mengalami disonansi kognitif, kita dihadapkan dengan perasaan bahwa perilaku kita (misal plagiat) tidak sejalan dengan citra diri kita (misal ‘saya orang yang rasional’, ‘plagiarisme adalah hal yang tidak etis’). Perasaan ‘risih’ tersebut yang dapat membuat kita merubah perilaku atau kebiasaan kita (Aronson et al., 2016). Singkat cerita, eksperimen kami tidak membuahkan hasil yang kami inginkan. Prinsip hypocrisy induction yang kami terapkan ternyata tidak berhasil mengurangi plagiarisme secara signifikan. Dan layaknya film Inception, usaha kami menjelaskan hasil ini justru menimbulkan semakin banyak pertanyaan di kepala kami.

 

Apakah plagiarisme adalah sebuah ‘candu’?

Penelaahan lebih lanjut terhadap data dari para partisipan membuat kami menyadari beberapa faktor yang membantu menjelaskan hasil eksperimen kami. Pertama, tingkat plagiarisme di kalangan partisipan sangat tinggi. Dari 132 orang partisipan, 92% melakukan tindakan plagiarisme. 32% partisipan bahkan mengumpulkan tugas yang memiliki tingkat kesamaan 91-100% dengan tulisan lain di database program. Dari data mengenai sikap para siswa terhadap plagiarisme, kami menemukan para partisipan memiliki sikap netral. Ini artinya walau partisipan tidak membenarkan plagiarisme, mereka tidak memandang plagiarisme sebagai pelanggaran yang serius. Data-data tersebut membuat kami berhadapan dengan kenyataan yang mengejutkan.  Dengan demikian, para partisipan menunjukkan frekuensi plagiarisme yang tinggi (jumlah partisipan yang melakukan plagiarisme), intensitas yang juga tinggi (tingkat kesamaan dengan tulisan lain), serta sikap terhadap plagiarisme yang adem ayem.

Kami merujuk pada penelitian terdahulu yang mencoba menggunakan hypocrisy induction untuk mengurangi perilaku merokok (McGrath, 2017). Penelitian tersebut tidak berhasil mengurangi perilaku merokok karena dependensi membuat seseorang menjustifikasi perilakunya (alih-alih merubah) ketika merasakan disonansi kognitif. Apakah ini artinya plagiarisme serupa dengan rokok yang memang sulit dihentikan karena menimbulkan efek adiktif? Kami pun teringat dengan salah satu poster anti kampanye yang dibuat partisipan. Salah satu poster tidak mengandung gambar apapun dan hanya berisi tulisan, “Ngga ada gunanya bikin ginian, bakal tetep nyontek juga!”. Sebuah justifikasi yang mengingatkan saya dengan gerutu sahabat saya, seorang perokok aktif, ketika saya memberinya hadiah koyo nikotin.  

 

Siapa yang salah?

Sebagai penggemar permainan yang mengasah otak (baca: Candy Crush), saya langsung tergelitik untuk mencari penyebab utama dari masalah yang saya temukan. Apa, atau siapa, yang menjadi akar utama permasalahan plagiarisme di partisipan penelitian saya? Selain mengukur sikap siswa terhadap plagiarisme, kami mengukur pandangan siswa mengenai bagaimana sekolah, guru, dan teman-teman sekitarnya memandang plagiarisme (subjective norm). Hasilnya ternyata para siswa merasa sekolah, guru, maupun teman-teman mereka juga tidak menganggap plagiarisme sebagai pelanggaran serius. Meski ada peraturan anti-plagiarisme di sekolah, para siswa tidak memandang peraturan tersebut cukup ‘menakutkan’. Bahkan mereka memandang peraturan tersebut tidak diimplementasikan secara konsisten. Apakah ini artinya sekolah, guru, para pendidik lah yang bertanggung jawab pada tingkat plagiarisme? Tentu saja tidak. Metaanalisis terhadap penyebab plagiarisme menunjukkan interaksi berbagai faktor memiliki peran yang sama penting (Moss et al., 2018). Termasuk budaya akademik yang menekankan pada kompetisi dan sukses alih-alih pengembangan diri dan kerja sama. Ini artinya, kita semua sebagai bagian dari institusi pendidikan di Indonesia memiliki peran untuk mencegah plagiarisme pada siswa. Bukan sebagai polisi, hakim, dan algojo, tetapi sebagai pendidik, teladan, dan pemberi semangat.  

 

Referensi:

 

Adishesa, M. S., & Prawiro, F. (2020). Cognitive Dissonance & Plagiarism: the Banality of Academic Dishonesty. Journal of Educational, Health and Community Psychology9(1), 109–127. https://doi.org/10.12928/jehcp.v9i1.14214

 

Aronson, E., Fried, C., & Stone, J. (1991). Overcoming denial and increasing the intention to use condoms through the induction of hypocrisy. American Journal of Public Health81(12), 1636–1638. https://doi.org/10.2105/AJPH.81.12.1636

 

Aronson, Elliot, Wilson, T. D., Akert, R. M., & Sommers, S. R. (2016). Social Psychology (9th ed.). Pearson Education.

 

Dickerson, C. A., Thibodeau, R., Aronson, E., & Miller, D. (1992). Using cognitive dissonance to encourage water conservation. In Journal of Applied Social Psychology (Vol. 22, Issue 11, pp. 841–854). Blackwell Publishing. https://doi.org/10.1111/j.1559-1816.1992.tb00928.x

 

McGrath, A. (2017). Dealing with dissonance: A review of cognitive dissonance reduction. Social and Personality Psychology Compass11(12), 1–17. https://doi.org/10.1111/spc3.12362

 

Moss, S. A., White, B., & Lee, J. (2018). A Systematic Review Into the Psychological Causes and Correlates of Plagiarism. Ethics & Behavior28(4), 261–283. https://doi.org/10.1080/10508422.2017.1341837

 

Stone, J., Aronson, E., Crain, A. L., Winslow, M. P., & Fried, C. B. (1994). Inducing Hypocrisy as a Means of Encouraging Young Adults to Use Condoms. Personality and Social Psychology Bulletin20(1), 116–128. https://doi.org/10.1177/0146167294201012