ISSN 2477-1686

Vol. 7 No. 12 Juni 2021

Psychological Distress Pada Pengangguran di Masa Pandemi Covid-19

 

Oleh

Izma Aisyah

Magister Psikologi Sains Universitas Sumatera Utara

 

Pandemi Covid-19 memberikan dampak tersendiri pada negara Indonesia. Adapun salah satu dampak yang dirasakan ialah dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian negara. Dampak perekonomian tersebut dapat dilihat dari segi perekonomian seperti pada sektor ketenagakerjaan. Pada sektor ketenagakerjaan, dampak yang paling dirasakan ialah banyaknya pihak yang di PHK, dikarenakan pendapatan perusahaan menurun sehingga harus melakukan pengurangan jumlah karyawan (Rizal, 2020). Pengurangan karyawan yang menyebabkan banyaknya pihak yang di PHK, membuat meningkatnya tingkat pengangguran di Indonesia (Fauzia, 2020). 

 

Selain itu, apabila tidak adanya pertumbuhan pada perekonomian Indonesia selama masa pandemi Covid-19. Mengingat saat ini, tiap 1 persen pertumbuhan ekonomi di Indonesia hanya mampu menciptakan lapangan kerja sekitar 300.000, yang mana merupakan jauh berbeda dibandingkan sebelum masa pandemi, setidaknya 1 persen pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan lapangan kerja sampai sekitar 500.000. Tentu saja hal ini akan memperkecil peluang pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan dan dapat menjadi faktor lain yang menyebabkan semakin meningkatnya jumlah pengangguran, baik pengangguran yang disebabkan karena diberhentikan atau PHK, ataupun pengangguran yang merupakan angkatan kerja baru atau fresh graduate(Purnomo, 2020). 

 

Pengangguran itu sendiri diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang yang merupakan bagian dari angkatan kerja baik angkatan kerja baru maupun lama, yang ingin memperoleh suatu pekerjaan dengan secara aktif mencari pekerjaan, namun belum mendapatkannya (Sukirno, 2006). Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, peningkatan jumlah angka pengangguran yang disebabkan karena pandemi Covid-19 setidaknya mencapai 3,7 juta orang (Fauzia, 2020). Adapun total jumlah pengangguran di Indonesia secara menyeluruh tercatat sekitar 6,8 juta orang, dan diperkirakan dapat bertambah menjadi 11 juta pengangguran apabila perekonomian Indonesia tidak membaik selama masa pandemi Covid-19, dan lapangan pekerjaan tidak kunjung bertambah (Purnomo, 2020).  

 

Adapun berdasarkan analisis big data BPS, berkaitan dengan lapangan pekerjaan itu sendiri, iklan lowongan pekerjaan di berbagai industri dalam negeri terus mengalami penurunan pada setiap bulannya selama tahun 2020 sejak adanya pandemi Covid-19. Sementara itu, pengangguran yang semakin banyak membuat semakin banyaknya orang yang mencari kerja bahkan terdapat peningkatan yang sangat signifikan (Citradi, 2020). Setidaknya berdasarkan data Jobstreet Indonesia, meningkatnya pencari kerja membuat persaingan dalam mendapatkan pekerjaan semakin ketat, setidaknya rata-rata 1 posisi pekerjaan akan diperebutkan oleh 800 orang. Peningkatan pencari kerja pun mencapai sekitar 11% dibandingkan dengan tahun lalu. Sehingga pencarian kerja menjadi sangat kompetitif, dan membuat pekerja harus punya talenta lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang diperebutkan oleh banyak orang (Prayoga & Anggraeni, 2020).

 

Persaingan yang sangat kompetitif tersebut, memperkecil peluang para pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, disisi lain, mereka harus tetap berjuang untuk mendapatkan pekerjaan agar dapat bertahan hidup. Perjuangan dan persaingan ini tentu saja pada akhirnya akan membuat para pengangguran di masa pandemi Covid-19 mengalami tekanan emosional. Sehingga, membuat mereka rentan untuk mengalami stress yang berdampak negatif, atau disebut juga dengan distres (Harismi, 2020).

 

Distres psikologis atau Psychological Distress adalah suatu pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan dialami oleh seseorang. Hal ini digambarkan dengan adanya gejala-gejala depresi dan kecemasan yang diperlihatkan oleh orang yang bersangkutan. Depresi berkaitan dengan perasaan sedih, putus asa, tidak bersemangat, dan perasaan gagal. Kecemasan berkaitan dengan perasaan khawatir, takut, tidak tenang atau gelisah, dan cemas Adapun distres psikologis atau psychological distress ini dapat memberikan dampak negatif yang cukup banyak pada individu. Dampak tersebut dapat berupa dalam bentuk emosi maupun fisiologis, yang mana apabila tidak ditangani dengan baik maka tidak menutup kemungkinan pada akhirnya dampaknya akan semakin parah dan berujung dengan adanya keinginan untuk bunuh diri (Mirowsky & Ross, 2003).

 

Hal tersebut didukung pula oleh data hasil survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengenai kesehatan mental selama masa pandemi Covid-19. Hasil survei memperlihatkan bahwa sebanyak 68% dari keseluruhan responden mengalami gejala kecemasan, dan 67% dari keseluruhan responden mengalami gejala depresi akibat pandemi Covid-19. Kemudian, sebanyak 49% responden yang mengalami gejala depresi memiliki pemikiran untuk bunuh diri. Adapun salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah resesi ekonomi akibat Covid-19, yang telah memicu krisis ekonomi dan meningkatkan kemungkinan resiko bunuh diri terkait dengan pengangguran. Risiko bunuh diri ini ditandai dengan adanya gejala depresi karena ketidakpastian yang harus mereka hadapi sebagai pengangguran di masa pandemi Covid-19 (Winurini, 2020).

 

Sehingga, dengan begitu diperlukan solusi untuk melakukan intervensi sebagai upaya menghindari adanya semakin banyaknya pengangguran yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri berkaitan dengan psychological distress yang mereka alami. Adapun menurut Mirowsky & Ross (2003), yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengetahui terlebih dahulu gejala depresi yang terdapat pada diri pengangguran, kemudian gejala ini akan menjadi acuan untuk melakukan intervensi agar keadaan emosional pengangguran tidak semakin parah sehingga menimbulkan keinginan untuk bunuh diri ataupun mencegah terjadinya depresi pada pengangguran yang belum memperlihatkan gejala depresi. Intervensi yang dilakukan dapat berupa pemberian edukasi tentang dampak pengangguran terhadap kesehatan mental seseorang, cara mengatasi tekanan yang sedang dialami untuk mencegah maupun mengurangi gejala depresi, dan memberikan dukungan emosional pada para pengangguran untuk menghindari adanya depresi yang dapat menyebabkan munculnya keinginan  bunuh diri.    

 

 

Referensi:

 

Citradi, T. (2020, May 06). Corona biang kerok susah cari kerja, pengangguran naik. Dipetik Maret 14, 2021, dari CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20200506120057-4-156681/corona-biang-kerok-susah-cari-kerja-pengangguran-naik/2

 

Fauzia, M. (2020, Juli 28). Akibat covid-19, jumlah pengangguran RI bertambah 3,7 juta. (S. R. Setiawan, Penyunting) Dipetik Maret 11, 2021, dari Kompas: https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/money/read/2020/07/28/144900726/akibat-covid-19-jumlah-pengangguran-ri-bertambah-3-7-juta

 

Harismi, A. (2020, Oktober 01). Cara mengurangi dampak pengangguran terhadap kesehatan mental. Dipetik Maret 12, 2021, dari Sehatq: https://www.google.com/amp/s/www.sehatq.com/artikel/dampak-pengangguran-ternyata-bisa-sampai-seperti-ini-bagi-kesehatan-mental/amp

 

Mirowsky, J., & Ross, C. E. (2003). Social causes of psychological distress. New York: Walter de Gruyter.

 

Prayoga, F., & Anggraeni, R. (2020, Oktober 07). Banyak PHK gara-gara covid-19, persaingan kerja semakin ketat. (R. Fiansyah, Penyunting) Dipetik Maret 11, 2021, dari INews: https://www.google.com/amp/s/www.inews.id/amp/finance/bisnis/banyak-phk-gara-gara-covid-19-persaingan-kerja-semakin-ketat

 

Purnomo, H. (2020, Oktober 09). Angka pengangguran di Indonesia 6,8 juta, omnibus jurusnya? Dipetik Maret 11, 2021, dari CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20201009102853-4-193072/angka-pengangguran-di-indonesia-68-juta-omnibus-jurusnya

 

Rizal, J. G. (2020, Agustus 11). Pandemi covid-19, apa saja dampak pada sektor ketenagakerjaan Indonesia. (I. D. Wedhaswary, Penyunting) Dipetik Maret 11, 2021, dari Kompas: https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2020/08/11/102500165/pandemi-covid-19-apa-saja-dampak-pada-sektor-ketenagakerjaan-indonesia-

 

Sukirno, S. (2006). Mikro ekonomi teori pengantar (Ketiga ed.). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Winurini, S. (2020). Permasalahan kesehatan mental akibat pandemi covid-19. Kajian singkat terhadap isu aktual dan strategis , XII (15), 13-18.