ISSN 2477-1686

 Vol. 7 No. 11 Juni 2021

Figur Idola, Citra Tubuh, Dan Kesejahteraan Psikologis

 

Oleh

Silvia Abrilia Arifin & Mochammad Sa’id

Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang

 

 

Setiap individu pada umumnya menginginkan penampilan fisik yang menarik sesuai dengan gambaran ideal yang dimilikinya. Mereka seringkali beranggapan bahwa semakin menarik penampilan fisik yang dimiliki, maka akan semakin mudah diterima oleh masyarakat. Ukuran dan gambaran ideal tentang penampilan fisik ini seringkali dihasilkan dari kekaguman terhadap artis atau selebriti yang dijadikan sebagai idola. 

 

Konsep ideal tentang penampilan fisik di atas memiliki dampak terhadap perilaku. Dalam kenyataan, banyak ditemukan individu dengan keinginan mengubah bentuk wajah maupun tubuhnya agar mirip dengan idolanya. Ketika individu menemukan sosok idola yang sempurna sekaligus diterima masyarakat, mereka semakin yakin untuk mengubah jati diri mereka dan berusaha menyerupai idola mereka. Bahkan mereka rela mengeluarkan uang hingga ratusan juta guna membiayai perawatan bedah plastik. Tidak hanya mengubah bentuk tubuh serta wajah, mereka secara perlahan juga menyamakan gaya berpakaian, model rambut, hingga karakter mereka dengan sang idola (Kumparan, 2017).

 

Ada beberapa alasan yang sering dimunculkan sebagai pembenaran atas perilaku di atas (Kumparan, 2017). Pertama, individu belum menemukan identitas dirinya sehingga memilih mengamati orang lain sebagai acuan atau figur. Kedua, individu merasa tidak nyaman (insecure) dengan penampilan fisiknya. Ketiga, individu pernah mengalami kejadian kurang menyenangkan di masa lalu akibat penampilan fisik yang dianggap tidak sempurna oleh lingkungannya.

 

Mengagumi figur tertentu dan mengidolakannya dalam batas wajar sebenarnya bukanlah suatu hal yang buruk. Individu dapat meniru perilaku positif idolanya sehingga mengarahkannya pada perilaku yang baik pula. Akan tetapi, banyak ditemukan individu bersifat impulsif dalam meniru perilaku atau penampilan idolanya tanpa melalui pertimbangan rasional (Gerungan, dalam Astuti, 2011). Kekaguman yang berlebihan ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental individu. Hal ini membuat ia lebih suka menjadi seperti idolanya daripada dirinya sendiri. Ia akan menilai buruk penampilan fisiknya, dan merasa lebih baik apabila dapat menyerupai idolanya.

 

Permasalahan di atas sangat mungkin dipengaruhi oleh citra tubuh (body image) yang dimiliki individu. Menurut Cash (dalam Denich & Ifdil, 2015), citra tubuh adalah penilaian dan persepsi individu terhadap tubuhnya. Apabila individu memiliki penilaian dan persepsi yang positif terhadap tubuhnya, maka itu menunjukkan bahwa ia memiliki citra tubuh positif. Sebaliknya, apabila individu tidak puas akan penampilan fisiknya, hal ini berarti bahwa ia memiliki citra tubuh negatif.

 

Individu dengan citra tubuh positif memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap segala yang sudah dimiliki. Ia tidak terlalu tergoda untuk meniru segala hal dari figur idolanya, apalagi hanya dalam hal penampilan fisik. Sedangkan individu dengan citra tubuh negatif memiliki kecenderungan lebih besar untuk meniru figur idolanya. citra tubuh negatif menyebabkan ia tidak dapat menerima kondisi dan penampilan fisik yang sudah dimiliki. Selain itu, ia cenderung memiliki  kepercayaan diri yang rendah. Untuk meningkatkannya, ia berusaha meniru figur idolanya sebagai gambaran ideal.

 

Kecenderungan untuk meniru figur idola pada individu dengan citra tubuh negatif -mengutip teori belajar sosial Bandura (dalam Schultz & Schultz, 2012)- dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, kesamaan jenis kelamin dan usia. Individu biasanya mencari sosok idola yang usianya tidak terpaut jauh dengannya dan jenis kelaminnya sama. Sebagai misal, remaja perempuan akan mengidolakan artis perempuan yang cantik dan muda.

 

Kedua, kepercayaan diri dan harga diri individu. Individu dengan kepercayaan diri dan harga diri yang rendah memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk meniru figur idolanya dibandingkan individu dengan kepercayaan diri dan harga diri yang tinggi. Hal ini dikarenakan individu dengan kepercayaan diri dan harga diri yang rendah biasanya memiliki perasaan negatif dan keyakinan yang lemah terhadap kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya.

 

Ketiga, penghargaan (reward) yang diasosiasikan dengan perilaku. Individu memiliki kecenderungan untuk lebih mengidolakan figur dengan status yang tinggi dan mendapat pujian di mata masyarakat daripada figur yang menuai banyak kritik dari masyarakat. Penghargaan berupa status tinggi dan pujian positif dari masyarakat dipersepsikan oleh individu sebagai bentuk keyakinan dan ekspektasi masyarakat mengenai sosok yang ideal sehingga layak untuk ditiru.

 

Untuk meningkatkan citra tubuh positif dan mengurangi perilaku meniru figur idola secara berlebihan di masyarakat, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, melakukan edukasi mengenai pengenalan terhadap diri sendiri. Melalui edukasi ini, individu diajak untuk menemukan potensi yang dimiliki, mengenal kelebihan dan kekurangannya, serta hal apa saja yang dapat diubah dan diperbaiki namun tetap sesuai dengan identitas dirinya. Edukasi ini dapat dilakukan melalui berbagai media sosial yang ada sehingga lebih banyak orang yang melihat dan mencoba merealisasikannya. Kedua, olahraga secara rutin. Dengan berolahraga, fisik menjadi sehat begitu juga dengan kesehatan mental. Ketiga, mengembangkan bakat yang telah dimiliki. Dengan begitu, individu tidak memiliki waktu untuk menilai buruk tentang dirinya, melainkan semakin menghargai segala sesuatu yang sudah dimilikinya.

 

Referensi:

 

Astuti, M. P. (2011). Hubungan antara Fanatisme terhadap Tokoh Idola dengan Imitasi pada Remaja. (Disertasi doktoral, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

 

Denich, A. U., & Ifdil, I. (2015). Konsep Body Image Remaja Putri. Jurnal Konseling dan Pendidikan3(2), 55-61. https://jurnal.konselingindonesia.com/index.php/jkp/article/viewFile/165/142

 

Kumparan. (2017). Mengapa Remaja Terobsesi Ingin Menjadi Mirip Idola?. https://kumparan.com/kumparanstyle/mengapa-remaja-terobsesi-ingin-menjadi-mirip-idola/full 

 

Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2012). Theories of PersonalityTenth Edition. California: Wadsworth.