ISSN 2477-1686

Vol. 7 No. 11 Juni 2021

Komunikasi Organisasi Dan Sense Of Belonging, 

Apakah Berkaitan Dengan Komitmen Organisasi?

 

Oleh

Nahya Qisthi Buchari dan Komang Rahayu Indrawati

Program Studi Sarjana Psikologi, Universitas Udayana

 

 

            Pengalaman mengikuti organisasi mahasiswa sangat dibutuhkan ketika akan memasuki dunia kerja. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) menjadi tolak ukur kompetensi calon pelamar kerja, namun pengalaman organisasi kampus dapat menjadi poin yang turut mendongkrak nilai IPK. Untuk menjadi mahasiswa unggul dan dapat bekerja dengan baik, ‎pengalaman organisasi sangatlah penting. Pengalaman yang didapat dalam organisasi ini akan sangat membantu dalam dunia kerja karena di dalam organisasi, mahasiswa dilatih untuk berkomunikasi, memimpin dan bekerjasama dalam tim, dimana ketiga hal itu adalah tiga hal yang penting dalam dunia kerja (ITB Career Center, 2019)

 

            Lulusan yang memiliki pengalaman organisasi memiliki bekal bersaing di dunia kerja. Selain itu, keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi berpengaruh positif terhadap kesiapan kerja (Widyatmoko, 2014). Sukirman (2004) dalam Anjani (2018) menjelaskan manfaat organisasi yaitu melatih kerja sama, menambah wawasan dan membina kepercayaan diri yang nantinya akan berguna dalam dunia kerja. Seseorang yang aktif beroganisasi saat kuliah, memperlihatkan kepribadian yang lebih siap kerja dibanding yang tidak aktif berorganisasi. Hal tersebut yang menjadi pertimbangan para pencari tenaga kerja. Untuk itu peluang lulusan yang aktif berorganisiasi untuk memperoleh masa tunggu yang singkat semakin besar.

 

            Pentingnya pengalaman berorganisasi tersebut bagi karir mahasiswa nantinya nyatanya tidak membuat organisasi mahasiswa luput dari permasalahan organisasi seperti komitmen organisasi yang rendah. Berdasarkan hasil survey kepada 70 pengurus organisasi mahasiswa ditemukan hasil bahwa 49 responden (70%) menyatakan bahwa di organisasi yang diikuti terdapat pengurus yang memiliki komitmen yang rendah, 18 responden (25,7%) menyatakan di organisasi yang diikuti tidak terdapat pengurus yang memiliki komitmen yang rendah sedangkan 3 responden lainnya (4,3%) menjawab tidak tahu. Tidak hanya itu, 46 (65.7%) responden menyatakan ada pengurus yang menghilang selama jalannya periode organisasi tahun ini, 14 (20%) menyatakan tidak ada pengurus yang menghilang, dan 10 (14.3%) responden lainnya menjawab tidak tahu. 25 (35,7%) responden menyatakan komitmen teman-teman organisasi responden menurun, 20 (28,6%) responden menjawab komitmen teman-teman organisasinya tidak menurun dan 25 (35,7%) lainnya menjawab tidak tahu. 

            

Luthans (2006) menyatakan komitmen terhadap organisasi sebagai sikap yang sering didefinisikan menjadi keinginan untuk tetap menjadi anggota dalam organisasi, kemauan untuk mempertinggi tingkat usaha demi kepentingan organisasi, meyakini secara pasti dan menerima nilai-nilai serta tujuan organisasi. Cascio (2006) menyatakan bahwa salah satu aspek yang berpengaruh dalam meningkatkan komitmen organisasi adalah komunikasi organisasi. Problem komitmen organisasi yang terjadi pada suatu organisasi tidak lepas dari kualitas komunikasi antar lini dalam struktur organisasi. Berdasarkan hasil survey kepada 70 pengurus organisasi mahasiswa ditemukan hasil bahwa 43 responden (61,4%) merasa di organisasi yang diikuti terdapat permasalahan komunikasi di dalam organisasi, 25 responden (35,7%) merasa tidak ada permasalahan dan 2 responden (2,9%) lainnya menjawab tidak tahu. Survei juga menemukan bahwa terdapat 17 (24,3%) responden yang memilih diam ketika diminta untuk berpendapat secara sukarela saat rapat atau kegiatan lainnya. 16 (22,9%) responden menyatakan bahwa mereka hanya dekat dengan pengurus yang berada divisinya.             

            

Permasalahan yang timbul karena rendahnya komitmen organisasi dalam suatu organisasi tidak dapat dilepaskan dari kurangnya sense of belonging atau rasa kepemilikan terhadap suatu organisasi. Rasa kepemilikan memiliki peran yang besar sebagai pemebentuk identitas dalam diri serta sebagai motivasi seseorang untuk berpartisipasi dalam kelompoknya. Kaswan (2012) menjelaskan bahwa tiga indikator dalam mengukur komitmen organisasi pegawai adalah rasa memiliki (sense of belonging), rasa bergairah terhadap pekerjaannya dan kepemilikan terhadap organisasi (ownership).   Berdasarkan hasil survey kepada 70 pengurus organisasi mahasiswa ditemukan hasil bahwa 39 responden (55,7%) merasa rasa kepemilikan para pengurus terhadap organisasi kurang, 27 responden (38,6%) menyatakan rasa kepemilikan dalam organisasi tidak kurang dan 4 responden (5,7%) menjawab tidak tahu.   

            

Sebelum menjadi pengurus organisasi mahasiswa, calon pengurus organisasi harus memenuhi persyaratan dan beberapa rangkaian proses sebelum resmi diterima. Harapannya dengan persyaratan dan rangkaian proses yang dilewati, pengurus organisasi mahasiswa yang diterima adalah mereka yang memiliki komitmen yang tinggi sehingga dapat menggerakkan organisasi mencapai tujuannya. Tidak hanya itu, jika komitmen organisasi pengurus organisasi mahasiswa tinggi maka akan timbul komunikasi organisasi yang efektif serta rasa kepemilikan terhadap organisasi yang tinggi. Namun, ternyata seiring berjalannya waktu tidak semua pengurus organisasi memiliki komitmen yang tetap (F.R & Nurohmi, 2017). Masih ada pengurus organisasi yang komitmennya menurun sehingga mengakibatkan beberapa permasalahan terjadi di organisasi seperti komunikasi organisasi yang tidak efektif dan rasa kepemilikan terhadap organisasi yang kurang. 

            

Berdasarkan hasil survey, permasalahan yang terjadi pada organisasi mahasiswa saat ini adalah kurangnya antusias pengurus untuk mengikuti rapat, miskomunikasi, saat rapat tidak banyak yang datang, sulitnya menentukan waktu rapat saat ingin membicarakan kegiatan, rapat dan diskusi tidak maksimal, sulit koordinasi, mulai mengurangnya rasa kepemilikan staff organisasi terhadap organisasi, komunikasi antar anggota kurang, banyak pengurus yang kurang merespon, kurangnya rasa dalam berorganisasi yang membuat anggota sering menunda atau bahkan lupa akan tanggung jawab, serta program kerja terhambat dan dibatalkan. Idealnya jika sudah menjadi pengurus organisasi mahasiswa hal-hal tersebut tidak boleh terjadi, karena saat mendaftar untuk menjadi pengurus organisasi mahasiswa calon pengurus tersebut sudah mengetahui risiko yang akan dihadapi nantinya ketika diterima menjadi pengurus organisasi mahasiswa (F.R & Nurohmi, 2017).

            

Perlu diketahui bersama dari hasil survey ini diperoleh gambaran bahwa komitmen organisasi, rasa kepemilikan dan komunikasi organisasi dibutuhkan bagi jalannya organisasi akan tetapi masih terdapat berbagai faktor lain yang juga dapat mempengaruhi jalannya organisasi. 

            

 

Referensi:

 

Anjani, N. S. (2018). Pengaruh Prestasi Belajar, Masa Studi dan Keaktifan Berorganisasi Terhadap Masa Tunggu Dan Relevansi Pekerjaan Lulusan Prodi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta [Universitas Negeri Yogyakarta]. https://eprints.uny.ac.id/59259/1/Nabila Sitta Anjani_14804241002_SKRIPSI.pdf

 

Cascio, W. F. (2006). Managing Human Resources. McGraw-Hill.

 

F.R, G. G., & Nurohmi, A. F. (2017). PERSEPSI GAYA KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN ORGANISASI. JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi6(2), 83–87. https://doi.org/10.21009/JPPP.062.04

 

ITB Career Center. (2019, Maret 23). Kriteria Calon Karyawan Favorit Astra Daihatsu Motor. https://karir.itb.ac.id/articles/detail/836

 

Kaswan. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Keunggulan Bersaing Organisasi. Graha Ilmu.

 

Luthans, F. (2006). Perilaku Organisasi. PT. Andi.

 

Widyatmoko, Y. (2014). Pengaruh Keaktifan Mahasiswa dalam Organisasi dan Prestasi Belajar terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta [Universitas Negeri Yogyakarta]. https://eprints.uny.ac.id/16084/