ISSN 2477-1686

 Vol. 7 No. 8 April 2021

Welas Diri Dalam Keberhargaan Diri Berkondisi

 

Oleh

Dicky Sugianto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

 

Kita tentunya merasa senang dan bangga ketika kita berhasil meraih pencapaian dalam hal-hal yang penting bagi kita. Kita akan merasa senang dan bangga ketika mengantongi banyak nilai A, memenangkan perlombaan atau penghargaan, dipuji oleh orang-orang yang kita hormati, maupun melalui milestone yang ditetapkan oleh norma masyarakat. Sebaliknya, ketika kita gagal dalam hal tersebut, kita mungkin merasa bahwa diri kita tidak layak dan tidak berharga. Kebergantungan rasa keberhargaan diri terhadap kondisi kehidupan yang relevan dengan diri disebut dengan contingent self-esteem (Sowislo, et al., 2014). Orang-orang dengan keberhargaan diri berkondisi baru merasa berharga dan layak ketika kondisi kehidupan mereka memenuhi kriteria yang mereka tetapkan sendiri (Wouters, et al., 2013).

 

Keberhargaan diri berkondisi dan kesehatan jiwa

Keberhargaan diri berkondisi dapat membuat seseorang berharga ketika mereka memenuhi syarat yang mereka tetapkan untuk diri mereka sendiri (Wouters et al., 2013). Meskipun demikian, sifat keberhargaan diri berkondisi yang tergantung situasi hidup orang tersebut dapat membawa beberapa dampak negatif terhadap kesehatan jiwa. Beberapa studi menunjukkan bahwa keberhargaan diri berkondisi berkaitan dengan gejala depresi dan perilaku bunuh diri (Lakey et al., 2014; Sowislo et al., 2014, Wouters et al., 2014). Hal ini salah satunya terjadi karena orang dengan keberhargaan diri berkondisi berfokus pada pemikiran bahwa diri memiliki banyak kekurangan dan perlu mendapatkan validasi dari lingkungan untuk merasa berharga (Lakey et al., 2014).

 

Menjumpai keberhargaan diri berkondisi dengan welas asih

Jika keberhargaan diri berkondisi dapat membuat kita menderita, maka apa yang dapat kita lakukan? Studi sebelumnya menemukan bahwa welas diri memiliki kaitan negatif dengan keberhargaan diri berkondisi pada berbagai aspek (Neff & Vonk, 2009; Shimizu, Niiya, & Shigemasu, 2016). Hal ini berarti semakin tinggi tingkat welas diri seseorang, ia memiliki tingkat keberhargaan diri berkondisi yang rendah. Ketika kita mengalami suatu kejadian buruk yang membuat kita mempertanyakan keberhargaan diri kita, kita bisa mengadopsi welas diri alih-alih larut dalam pemikiran dan perasaan diri tidak berharga.

 

Kita bisa mengamati perasaan dan pemikiran yang menyakitkan akibat tidak terpenuhinya standar yang kita tetapkan untuk merasa berharga. Dalam kesadaran ini, kita bisa mencoba melihat bahwa wajar bila kita merasa kecewa karena tidak terpenuhinya tujuan kita. Meskipun demikian, kegagalan ini tidak mendefinisikan diri kita sebagai individu. Kita bukanlah kegagalan kita.

 

Welas diri memampukan kita untuk menyadari bahwa kita memiliki kekurangan dan kelebihan sebagaimana manusia lain. Maka, keberhargaan diri kita tidak tergantung oleh pencapaian atau standar ideal. Welas diri menyediakan fondasi yang aman dalam diri kita ketika menghadapi tekanan demi membuktikan diri berharga: bahwa kita sama berharganya dengan manusia lain.

 

Rather than managing our self-image so that it is always palatable, self-compassion honors the fact that all human beings have both strengths and weaknesses. It acknowledges the reality that we are imperfect human being who experience suffering, and are therefore worthy of compassion.”

(Neff, 2011)

 

Referensi:

 

Lakey, C. E., Hirsch, J. K., Nelson, L. A., & Nsamenang, S. A. (2014). Effects of contingent self-esteem on depressive symptoms and suicidal behavior. Death studies38(9), 563-570. http://dx.doi.org/10.1080/07481187.2013.809035

 

Neff, K. D. (2011). Selfcompassion, selfesteem, and wellbeing. Social and personality psychology compass5(1), 1-12. http://dx.doi.org/10.1111/j.1751-9004.2010.00330.x

 

Neff, K. D., & Vonk, R. (2009). Selfcompassion versus global selfesteem: Two different ways of relating to oneself. Journal of personality77(1), 23-50. http://dx.doi.org/10.1111/j.1467-6494.2008.00537.x

 

Shimizu, M., Niiya, Y., & Shigemasu, E. (2016). Achievement goals and improvement following failure: Moderating roles of self-compassion and contingency of self-worth. Self and Identity15(1), 107-115. http://dx.doi.org/10.1080/15298868.2015.1084371

 

Sowislo, J. F., Orth, U., & Meier, L. L. (2014). What constitutes vulnerable self-esteem? Comparing the prospective effects of low, unstable, and contingent self-esteem on depressive symptoms. Journal of Abnormal Psychology123, 737- 753. http://dx.doi.org/10.1037/a0037770

 

Wouters, S., Duriez, B., Luyckx, K., Klimstra, T., Colpin, H., Soenens, B., & Verschueren, K. (2013). Depressive symptoms in university freshmen: Longitudinal relations with contingent self-esteem and level of self-esteem. Journal of Research in Personality47(4), 356-363. http://dx.doi.org/10.1016/j.jrp.2013.03.001