ISSN 2477-1686

 Vol. 7 No. 8 April 2021

Pendidikan Seksualitas Pada Anak: Tabu Atau Takut Bicara?

 

Oleh 

Krishervina Rani Lidiawati

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

 

Apakah anda mendapatkan sex education di rumah anda sewaktu kecil? Atau anda mempelajarinya sendiri dan belajar dari orang lain? Apa tanggapan orang tua mengenai Pendidikan seksualitas di Indonesia yang mulai marak di bicarakan termasuk di sekolah-sekolah. Apakah anda setuju? Jika anda setuju bagaimana anda memberikan edukasi yang tepat dan informasi dapat diterima anak anda?  

 

Pendidikan seksualitas juga di rumah, karena rumah adalah tempat pertama kali anak belajar value yang nantinya akan membantu anak menetukan sikap dan perilakunya dalam masyarakat. Pendidikan seksualitas untuk anak- anak dan remaja saat ini menjadi hal yang penting untuk dapat dilaksanakan dimulai dari keluarga. Pendidikan dan informasi yang benar mengenai seks merupakan dasar bagi anak-anak dan remaja untuk dapat berperilaku dan bertindak benar dalam mengambil keputusan terkait perilaku seksual dalam hidupnya (Lidiawati, 2020). 

 

Pendidikan seksualitas yang benar dan menarik disampaikan menjadi tugas rumah yang panjang bagi orang tua, maka dari itu orang tua harus memiliki kemampuan untuk dapat meyampaikan pendidikan seksualitas yang baik dan tidak menimbulkan pemahaman yang bias. Khusus di Indonesia, sebagian orang tua jarang dan hampir kurang memberikan pendidikan seksualitas untuk anak usia dini bahkan dianggap tabu di kalangan masyarakat. Mereka beranggapan bahwa pendidikan seksualitas belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal dengan pendidikan seksualitas yang diberikan sejak dini sangat berpengaruh dalam kehidupan anak ketika dia memasuki masa remaja (Robinson, Smith, & Davies, 2017). Apalagi anak-anak sekarang kritis, dari segi pertanyaan dan tingkah laku. Itu semua karena pada masa ini, anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang besar. Anak-anak yang sekali, dua kali, dan berkali-kali melihat tayangan, maka anak- anak akan merekamnya dan membentuknya menjadi suatu pandangan/nilai seksualitas yang dianutnya hingga dia dewasa. Jalan satu-satunya menyikapi fenomena ini adalah kita sebagai orang tua, harus berperan membentengi anak-anak kita dengan nilai-nilai seksualitas yang benar yang dilandasi dengan agama.

 

Banyak anak yang mengalami kekerasan seksual menunjukkan tanda-tanda pelecehan fisik, emosional, seksual, atau verbal. Efek ini dapat menyebabkan stres dan kesulitan jangka panjang bagi anak sampai usia dewasa, dan seringkali menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua, guru, dan pengasuh lainnya. Oleh karena itu diperlukan informasi juga sedari dini agar anak-anak kita tidak menjadi korban dari ketidaktauan mereka atau menerima informasi yang tidak sesuai value keluarga (Lidiawati, 2020). 

 

Pemahaman dan fungsi Pendidikan seksualitas 

Sex education/pendidikan seksualitas sebenarnya berarti pendidikan seksualitas yaitu suatu pendidikan mengenai seksualitas dalam arti luas. Seksualitas meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan seks, yaitu aspek biologik, orientasi, nilai sosiokultural dan moral, serta perilaku (UNESCO, 2018)

 

Tujuan pendidikan seksualitas pada hakekatnya bertujuan agar anak mengenal organ persetubuhan yang diberikan oleh Tuhan, dan harus dilindungi dan dijaga. Selain itu tujuan pendidikan seksualitas komprehensif adalah sebagai sumber informasi bagi anak dan remaja, sarana penanaman nilai-nilai dan wawasan, mengajarkan cara berelasi yang sehat dan menjadi pribadi bertanggungjawab (SIECUS, 2004)

 

Fungsi Pendidikan seksualitas di rumah. Pendidikan seksualitas dapat mencegah perilaku beresiko, perilaku seks bebas, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, pemerkosaan hingga penularan penyakit seksual. 

Kurangnya pengetahuan tentang seksualitas bisa menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan pada usia dini. Akibatnya bisa membuat anak melakukan aborsi yang tidak aman dan bahkan berujung pada peningkatan resiko kematian ibu. 

 

Usia berapakah Pendidikan seksualitas dapat diberikan?

Sejak dini namun informasi diberikan sesuai dengan tahap perkembangan (baik secara kognitif dan fisik). Tentu akan berbeda memberikan informasi kepada anak usia 2-3 tahun dengan anak usia 11-15 tahun yang sudah memasuki remaja. Berbeda usia cara penyampaian informasi pun berbeda dan topik yang dibicarakan pun perlu dibedakan sesuai dengan perkembangan kognitif mereka.

 

Pengenalan diri tentang gender (jenis kelamin) sudah dimulai usia 2,3 tahun yang disebut gender identity. Selanjutnya mereka akan mengalami Gender Stability  yaitu kesadaran bahwa jenis kelamin tidak dapat diubah yang kemudian di ikuti dengan penampilan diluar seperti cara berpakaian dan gaya rambut atau pun perilaku yang mencerminkan jenis kelaminnya (Papalia, 2015). Artinya ketika umur 3 tahun kita hanya mengenalkan adanya perbedaan jenis kelamin sudah bisa, semakin bertambah umur tentu berbeda caranya. 

 

Apa saja yang perlu di sampaikan oleh orang tua

1.    Kenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain

Kenalkan bagian tubuh tersebut dengan nama sebenarnya, nama sebenarnya adalah ilmiah. Ada beberapa bagian tubuh penting yang tidak boleh disentuh seperti bibir, dada, organ reproduksi dan pantat. Beritahukan pengenalan ini sembari anda menjelaskan fungsinya. Mulut itu untuk apa? makan, minum, hingga mencium. Siapa saja yang boleh di cium? Papa,mama, orang asing tidak boleh/ tidak semua orang tua.  

 

2.    Batasan 

Perlu adanya Batasan yang jelas kepada siapa, dimana dan kapan. 

Who? siapa yang boleh lihat ? orang tua, dokter (ketika sakit)

Misal untuk anak usia dini, yang  boleh memandikan, menceboki hanya orang tua (sebutkan siapa yang dipercaya orang tua- missal nanny). Yang di cium hanya boleh mama/papa, atau adik/kakak, tidak semua orang.

Where?  ajarkan anak untuk toilet training sesuai tempatnya, misalnya buang air seni di toilet, membuka baju di kamar. Hal ini untuk mengajarkan budaya malu agar anak tak memperlihatkan bagian tubuh tersebut secara sembarangan.

When? kapan harus mengganti pakaian dalam, baju, (hal ini mengajarkan kebersihan) atau memperbolehkan orang lain membantu mengganti pakaian. Misalnya di sekolah- guru membantu untuk membalurkan minyak angina karena sakit, toilet, atau dokter- karena sakit. 

 

3.    Menjaga diri

Orang tua juga wajib mengajarkan hal-hal yang harus dilakukan jika ada orang lain yang hendak memegang area pribadinya, menyuruhnya buka baju, dan menunjukkan bagian pribadi tubuhnya.Ajarkan anak untuk berlari menjauhi orang tersebut, berteriak minta tolong, dan melaporkan kejadian tersebut pada orang tua, guru, atau orang dewasa yang ada di sekitarnya. Jika untuk anak yang lebih besar, remaja maka perlu diberi penekanan tentang relasi sosial yang sehat, berteman, bersahabat itu harus saling menjaga dan bukan melukai perasaan/ secara fisik. Misalnya ada banyak kasus kekerasan dalam berpacaran ataupun pelecehan seksual. 

 

Tips pemberian edukasi

1.    Be relaxed and open, avoid overreacting 

Orang tua perlu untuk belajar terbuka dan tenang ketika pertanyaan-pertanyaan seputar seks untuk di lontarkan ke orang tua. Anda tidak perlu menghindari pembicaraan seks, Jika anda belum bisa menjawab, maka anda bisa berkata, baik kita akan bicarakan besok ya (namun anda harus menepatinya, jika tidak ia akan mencari informasi secara mandiri) bukan untuk melemparkan tanya saja ke papa/ mama, atau bahkan “st..” apa sih. Hal ini artinya anda menutup jalur komunikasi berkaitan dengan seksualitas dan menanamkan value bahwa membicarakan seputar seksualitas itu tabu atau tidak perlu dengan orang tua sehingga memungkinkan anak justru mencari informasi dengan jalan lain atau orang lain. Ketika anak sudah terbuka, orang tua perlu untuk tidak “overreacting” lalu membuat peraturan tanpa ada penjelasan. Karena pada saat pembicaraan berlangsung justru anak ingin tau apa yang anda rasakan dan biarkan anak tau apa yang anda rasakan melalui penyampaian yang tepat sehingga anak tidak takut berbicara dengan anda. 

 

2.    Pilihlah tempat dan suasana yang tepat

Pilihlah kesempatan yang tepat sesuai kondisi anda, misalnya di mobil- anak anda memiliki ruang privasi yang tidak harus melihat mata anda sehingga membuat nyaman dalam berkomunikasi. 

 

Pilihlah moment yang tepat 

Pembicaraan dapat dimulai dengan keseharian misalnya sewaktu mandi, menonton TV show/ film, makan bersama. Terutama untuk anak anda yang memasuki usia remaja, biasanya melalui media yang di tonton bersama akan lebih memudahkan orang tua sekaligus memberikan nasehat dan bimbingannya. 

 

Kesimpulan 

Pendidikan seksualitas pada anak dapat dimulai oleh orang tua, oleh karena itu orang tua harus terus memperlengkapi diri dengan informasi-informasi terkini. Hal ini dikarenakan informasi tersebut harus diketahui sebelum anak-anak menjadi korban ketidaktauan mereka tentang bagaimana menjaga diri. Karena sudah selayaknya orang tua merupakan guru yang pertama dan sumber informasi bagi anak. 

 

Referensi:

 

Lidiawati, K.R. (2020). Pendidikan Seksualitas Pada Anak dan Remaja: Dilema dan Pedoman Praktis dalam Kesehatan Mental Perspektif Indonesia (halm.205-243). Jakarta: Raja Grafindo

 

Papalia, D. E & Martorell, G. (2015). Experience human development (13th ed.). New York: McGraw-Hill.

 

Robinson, K. H., Smith, E., & Davies, C. (2017). Responsibilities, tensions and ways forward: parents’ perspectives on children’s sexuality education. Sex Education17(3), 333–347. https://doi.org/10.1080/14681811.2017.1301904

 

SIECUS. (2004). Guidelines for Comprehensive Sexuality Education: Kindergarten-12th Grade. Education, 112. Retrieved from http://siecus.org/_data/global/images/guidelines.pdf

 

UNESCO. (2018). International technical guidance on sexuality education. In Unesco. https://doi.org/10.1523/JNEUROSCI.0529-04.2004