ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 11 Juni 2020

Fenomena Sexting Pada Remaja

Oleh

Dewi Syukriah

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia Y.A.I

 

 

Fenomena Sexting

Di era digital sekarang ini, dimana hampir semua bentuk komunikasi tidak selalu dilakukan dalam bentuk tatap muka, namun juga dilakukan secara non-verbal melalui media komunikasi teknologi, salah satunya adalah melalui media handphone / ponsel. Pada saat ini, hampir semua orang memiliki handphone termasuk remaja di Indonesia. Dengan adanya teknologi yang cukup baik, seorang remaja dapat dengan mudah mengakses berbagai macam berita yang terjadi di luar Indonesia ataupun dalam Indonesia dan juga dapat berkomunikasi dengan berbagai orang dari belahan dunia lainnya hanya melalui sentuhan jari pada layar ponsel. Komunikasi yang terjalin pun dapat dilakukan dengan cara normative atau bahkan dengan muatan konten seksual, atau yang disebut juga dengan Sexting”. Di era modern sekarang ini,  sexting bukanlah hal yang asing bagi hampir semua kalangan remaja. Jika chatting adalah saling bertukar pesan teks melalui ponsel, maka sexting adalah saling bertukar text atau gambar yang berhubungan dengan aktifitas seksual antar ponsel.Sexting didefinisikan sebagai mengirim, menerima atau menyebarkan atau mempertontonkan pesan-pesan ataupun gambar yang bersifat seksual melalui media internet ataupun melalui telepon genggam (Judge, 2012).Sexting tidak banyak dilakukan orang dewasa, malah yang melakukannya kebanyakan adalah remaja (www.tirto.id, 2020).

Faktor Penyebab Sexting

Apa saja penyebab perilaku sexting pada remaja? Menurut penelitian dari Nursal (2008) faktor-faktor penyebabnya antara lain :

1.    Perkembangan teknologi, Masalah sexting muncul seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi digital yang bercampur dengan hormone remaja yang bergejolak.

2.    Minimnya informasi yang remaja miliki dan masih banyaknya orang tua yang masih merasa tabu membicarakan masalah seksual dengan anaknya.

3.    Individu dengan pola asuh yang buruk, seperti kurangnya ikatan,pemantauan yang buruk, dan disiplin yang tidak konsisten atau tidak efektif lebih mungkin untuk mengalami pengendalian diri yang rendah

4.    Pergaulan dengan teman sebaya yang menyimpang meningkatkan kemungkinan perilaku sexting lebih tinggi.

 

 

 

 

 

Peran Orang Tua dalam Mencegah Perilaku Sexting Anak

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh orang tua jika mendapati anak remajanya melakukan sexting dengan teman atau dengan orang asing yang dikenalnya melalui media internet? Berikut adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua menurut Aryani (2010) :

 

1.    Berdiskusi dengan anak. Ajukan  pertanyaan kepada anak, sehingga dengan pertanyaan tersebut akan melatih nalar anak, ajukan pertanyaan kepada anak disesuaikan dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh anak. Jika anak masih di bawah umur, ada baiknya tidak menggunakan kata sexting, tetapi dicari kata lain yang sesuai dengan perkembangan kognitif anak.Beritahu anak mengenai apa yang wajar dan tidak wajar dilakukan sesuai dengan usianya.

2.    Mendiskusikan consent atau persetujuan. Alangkah baiknya sejak anak masih balita diajarkan pentingnya consent pada anak. Contohnya adalah tidak memaksa anak untuk mencium atau memeluk orang sekitarnya atau mengajarkan anak untuk berkata “tidak” ketika ada hal yang tidak anak sukai atau ketika dia merasa kurang  nyaman pada situasi tertentu, sehingga diharapkan ketika anak tumbuh  dewasa, hal tersebut menjadi  kebiasaannya dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

3.    Ajarkan konsekuensi. Jelaskan kepada anak konsekuensi dari setiap perilaku yang dia lakukan. Contohnya,  jika sexting dilakukan oleh anak, maka apa  konsekuensinya jika foto atau text yang dia kirim tersebar  di masyarakat luas.Apa dampak bagi pendidikannya, bagaimana teman-temannya akan mengetahui hal  tersebut yang akan berdampak psikologis pada diri anak.

4.    Menjadi penyedia  informasi. Bekali diri anda dengan  pengetahuan digital terbaru dan fenomena apa yang sedang populer di kalangan remaja, sehingga anak akan merasa nyaman  untuk sharing kehidupan  pribadinya dengan anda. Hindari memarahi atau menasehati anak terlalu sering, karena hal ini akan membuat anak risih dan semakin menjauhi anda.

 

Menjadi orang tua pada anak remaja di era milenial memang bukanlah hal yang mudah, ketika semua hal positif dan negatif bias di akses hanya dari ujung jari saja pada layar ponsel. Namun, bias disiasati dengan berbekal pengetahuan  yang cukup, fleksibel dalam berpikir sehingga dapat memahami apa yang terjadi pada anak serta memposisikan anak sebagai teman, sehingga anak merasa bahwa anda mengerti dirinya dan menjadikan anda sebagai tempatnya bercerita. Jangan sampai kita sebagai orangtua ketinggalan berita yang beredar dan tidak tau menau kehidupan yang sedang dilalui oleh anak.Ingatlah selalu, bahwa masa remaja adalah masa perkembangan terberat pada anak, yang tentunya akan berdampak pada orang tua juga.

 

 

Referensi:

Judge, A. M. (2012). Sexting among U.S. adolescents: Psychological and legal implications. Harvard Review of Psychiatry, 20, 86–96.

Febriansyah. (2020, Mei 5). Penelitian sexting banyak dilakukan remaja. Diakses dari https://https://tirto.id/penelitian-ungkap-sexting-banyak-dilakukan-remaja-dgM2

Nursal DGA. (2008). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual murid SMU negeri di Kota Padang tahun 2007. Padang: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.

Aryani, R. (2010). Kesehatan remaja problem dan solusinya. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.