ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 56 April 2026
Mengapa Kita Takut Berbeda?: Konformitas Sosial dalam Budaya Indonesia
Oleh:
Janice Wijaya, Tazkia Salkaura, Alya Salsabila Harahap, Regita Anugrah Chintia Saragih, M. Azriel Asmara, Ridhoi Meilona Purba
Fakutas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Di ruang kelas, tak jarang siswa menahan diri untuk tidak menyampaikan pendapat yang berbeda dari mayoritas teman sekelas, walaupun mereka memiliki gagasan lain. Di kantor, karyawan yang melihat celah perbaikan pada proses kerja memilih diam karena khawatir dianggap menentang atasan atau “merusak suasana”. Mengapa kecenderungan untuk “ikut saja” ini begitu kuat? Apakah ini sekadar soal keberanian pribadi, atau ada akar budaya yang lebih dalam?
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa konformitas sosial tetap hadir dan berpengaruh pada perilaku sehari-hari. Misalnya, penelitian oleh Syachri, Handoko, Pratama, dan Ramadon (2022) menemukan bahwa konformitas teman sebaya berhubungan positif dengan quarter-life crisis pada mahasiswa Jakarta. Penelitian lain oleh Sari, Wihartati, dan Rochmawati (2023) menunjukkan bahwa konformitas terhadap kelompok sebaya menjadi faktor signifikan dalam perilaku sosial remaja di Pati. Bahkan dalam konteks pembelajaran daring, Wibawa dan Rusli (2025) menemukan bahwa tekanan sosial untuk menyesuaikan diri dapat mendorong mahasiswa melakukan tindakan menyontek. Fenomena ini memperlihatkan bahwa konformitas bukanlah sekadar teori sosial, melainkan realitas yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana konformitas sosial begitu kuat dalam budaya Indonesia serta bagaimana nilai kolektivistik mempengaruhi kondisi psikologis individu.
Collectivistic culture
Salah satu penjelasan utama berasal dari karakter budaya kolektivistik. Masyarakat kolektivistik menempatkan kepentingan kelompok, hubungan sosial, dan harmoni di atas pencapaian dan ekspresi individu. Nilai-nilai seperti harmoni, kesopanan, dan menjaga hubungan menjadi norma yang dihargai (Hofstede, 1980). Menurut Santrock (2007:60), konformitas terjadi apabila individu mengadopsi sikap atau perilaku orang lain karena merasa didesak oleh orang lain dan desakan pada teman-teman sebaya (Damayanti et al., 2018). Dalam konteks Indonesia, penelitian lintas budaya dan analisis dimensi budaya menemukan kecenderungan untuk menekankan kepaduan sosial ketimbang ekspresi kemandirian (Achmad, et al., 2024). Perbandingan dengan budaya yang lebih individualistik (misalnya Jerman) menunjukkan perbedaan yang jelas: di negara individualistik, menonjol dan ekspresi pendapat pribadi sering dipandang positif, sedangkan di masyarakat kolektivistik perilaku “menyesuaikan diri” dianggap sopan dan bentuk penghormatan terhadap kelompok.
“Rukun” dan “tidak enak hati”: norma yang mengatur perilaku
Konsep seperti rukun (harmoni komunal) dan tidak enak hati (keengganan untuk menimbulkan ketidaknyamanan) beroperasi sebagai peraturan sosial yang menjaga kelancaran kehidupan publik. Dalam kerangka face theory (Goffman, 1955), individu berupaya menjaga citra, baik citra diri sendiri maupun citra orang lain dalam interaksi sosial. Menyampaikan pendapat yang bertentangan dapat menimbulkan rasa malu (loss of face) atau menyinggung pihak lain, sehingga banyak orang memilih menahan atau menyesuaikan diri (Goffman, 1955).
Norma ini tentu memiliki sisi positif: menciptakan ketertiban, rasa saling menghormati, dan jaringan sosial yang stabil. Namun, jika tekanan menjaga muka terlalu besar, dampaknya bisa berupa tekanan batin, kehilangan keaslian diri, hingga meningkatnya kecemasan sosial (Syachri et al., 2022). Dalam masyarakat yang menilai harmoni lebih tinggi daripada ekspresi diri, menjaga “rasa” sering kali berarti menekan pandangan pribadi.
Dampak psikologis: dari stres hingga kebingungan identitas
Tekanan sosial untuk menyesuaikan diri tidak tanpa konsekuensi psikologis. Khususnya pada remaja yang berada di tahap pembentukan jati diri, tuntutan untuk selalu “cocok” dengan kelompok dapat memicu stres berkepanjangan, burnout, dan bahkan identity confusion. Markus dan Kitayama (1991) menjelaskan bahwa pada budaya kolektivistik, self-construal cenderung bersifat interdependen, di mana identitas terbentuk melalui hubungan dan peran dalam jaringan sosial. Akibatnya, ketika norma kelompok dan kebutuhan personal bersinggungan, individu bisa kehilangan orientasi antara “siapa aku sebenarnya” dan “siapa aku menurut orang lain” (Markus & Kitayama, 1991).
Hasil penelitian lokal mendukung hal ini: tekanan konformitas dikaitkan dengan penurunan motivasi belajar dan peningkatan kecemasan sosial (Wibawa & Rusli, 2025; Syachri et al., 2022). Konformitas yang terlalu kuat dapat membatasi perkembangan diri dan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Menemukan keseimbangan: harmoni tanpa pembungkaman
Konformitas di Indonesia bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif. Hal ini menjaga relasi sosial dan stabilitas kelompok. Tantangannya adalah mencapai keseimbangan, mempertahankan nilai rukun dan kesopanan tanpa mengorbankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kejujuran terhadap diri sendiri. Pendidikan yang mendorong dialog terbuka, praktik kepemimpinan yang menghargai ide berbeda, serta ruang aman bagi remaja untuk berekspresi dapat mengurangi efek negatif konformitas berlebihan. Dengan demikian, harmoni dapat dipertahankan bukan dalam bentuk keseragaman yang membungkam, melainkan sebagai ruang di mana perbedaan dihargai sebagai sumber pertumbuhan bersama.
Penutup
Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mengikuti mayoritas bukan hanya persoalan keberanian, tetapi dipengaruhi oleh budaya kolektivistik yang menjunjung tinggi harmoni dan hubungan sosial. Nilai rukun dan rasa tidak enak hati membuat banyak orang memiliki menahan pendapat demi menjaga suasana yang juga berdampak pada kondisi psikologis individu. Sementara itu, tantangan terpenting adalah menemukan keseimbangan antara menjaga hubungan sosial dan memberi ruang bagi individu untuk berpikir kritis serta mengekspresikan dirinya dengan jujur. Dengan menciptakan lingkungan yang terbuka dan menerima perbedaan, harmoni dapat dibangun tanpa harus menghilangkan keberagaman pemikiran.
Referensi
Achmad, F., Febriyani, W., Nzefa, R., Ahkin, F., Rania, A. (2024). Cultural influences on problem solving and decision-making in student projects: A comparative study between Indonesia and Germany. Jurnal Sains dan Teknologi 25(01), 13-20. https://doi.org/10.25170/metris.v25i01.4519
Damayanti, R. S., Sovitriana, R., Nilawati, E., & Widyayani, F. A. (2018). Konformitas dan kematangan emosi dengan perilaku agresi siswa SMK di Jakarta Timur. IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial Dan Humaniora, 2(3), 74-79.
Goffman, E. (1955). On face-work: An analysis of ritual elements in social interaction. Psychiatry, 18(3), 213–231. https://doi.org/10.1080/00332747.1955.11023008
Hofstede, G. (1980). Culture's consequences: International differences in work-related values. Sage.
Markus, H. R., & Kitayama, S. (1991). Culture and the self: Implications for cognition, emotion, and motivation. Psychological Review, 98(2), 224–253. https://doi.org/10.1037/0033-295X.98.2.224
Sari, F. A. P., Wihartati, W., & Rochmawati, N. (2023). Pengaruh Kontrol Sosial dan Konformitas Teman Sebaya Terhadap Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja di Kecamatan Pati. Journal of Islamic and Contemporary Psychology, 3(1s), 158–171. https://doi.org/10.25299/jicop.v3i1s.12355
Syachri, A, A., Handoko, H., Pratama, I. V., & Ramadon, Z. (2022). Hubungan konformitas peer group dengan quarter-life crisis pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta. Indonesian Journal of Research Studies, 2(2), 61-75. https://doi.org/10.21009/Saskara.022.05
Wibawa, A. D., & Rusli, D. (2025). Pengaruh Self Efficacy dan Peer Conformity terhadap Perilaku Menyontek pada Mahasiswa yang Belajar Menggunakan Platform E-Learning. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1), 8997–9002. https://doi.org/10.31004/jptam.v9i1.26017
Rachmawati, H., & Laili, N. (2021). Konformitas teman sebaya dan kaitannya dengan perundungan di kalangan siswa sekolah dasar kelas atas. Jurnal Komunikasi dan Perilaku Sosial.