ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 55 April 2026
Quiet Quitting: Akar Psikologis dari Meredupnya Motivasi Kerja
Oleh:
Deswita Liani Rafa Arij
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak karyawan memilih bersikap diam dengan menurunkan ekspektasi, membatasi keterlibatan emosional, dan bekerja sebatas tuntutan peran sebagai strategi bertahan tanpa konflik. Fenomena ini mencuri perhatian dunia kerja yang dikenal sebagai quiet quitting, yaitu kondisi ketika seseorang tetap bekerja tetapi secara psikologis mulai melepaskan diri karena merasa tidak seimbang antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi.
Quiet quitting merupakan kondisi ketika karyawan memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya hanya sebagai tanggung jawab dan sesuai dengan gaji yang diterima, tidak menerima lembur, sesuai dengan kewajiban yang ditentukan dan intinya tidak bekerja secara ekstra (Manullang et al., 2025). Kondisi ini secara perlahan dapat menurunkan motivasi intrinsik karyawan, karena pekerjaan tidak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang bermakna atau memuaskan, melainkan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan.
Motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam diri seseorang untuk bekerja karena merasa pekerjaannya bermakna dan memberi kepuasan pribadi, bukan semata-mata karena imbalan dari luar (Ismail et al., 2022). Penurunan motivasi intrinsik akibat lingkungan kerja yang tidak mendukung mendorong karyawan menarik diri dari pekerjaannya. Kondisi ini muncul melalui minimnya inisiatif dan rendahnya keterlibatan emosional, yang menjadi ciri utama quiet quitting (Nugraha F. et al., 2025).
Fenomena ini bukan berarti keinginan untuk resign, tetapi seperti penarikan diri secara psikologis. Dalam kondisi ini karyawan tetap menjalankan tugasnya walaupun secara emosional dan dorongan untuk berkontribusi perlahan memudar. Generasi muda mudah mengalami quiet quitting karena ekspektasinya akan makna kerja, keseimbangan hidup dan kesesuain nilai. Jadi ketika hal tersebut tidak terpenuhi quiet quitting ini menjadi cara untuk menjaga kesehatan mental.
Kesenjangan antara tuntutan kerja yang terus meningkat dan kebutuhan psikologis karyawan yang tidak terpenuhi menciptakan tekanan emosional berkepanjangan, yang pada akhirnya memicu munculnya quiet quitting. Beban kerja yang tinggi terbukti berkaitan erat dengan meningkatnya burnout, sehingga semakin besar tekanan kerja yang diterima karyawan semakin besar risiko kelelahan emosional yang mendorong penarikan diri secara psikologis (Anandani & Rahmasari, 2022).
Quiet quitting juga dipicu oleh konflik nilai ketika pekerjaan tidak lagi selaras dengan kebutuhan diri dan tujuan hidup karyawan, sehingga makna kerja perlahan memudar. Dalam kondisi ini, pekerjaan dijalani sebatas kewajiban, bukan lagi ruang aktualisasi diri, dan keterikatan emosional pun melemah. Konflik tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertentangan peran, tetapi juga bagaimana individu merespons dan beradaptasi terhadap situasi konflik (Hetharie & Haris Touwely, 2025).
Ketika berbagai upaya dan kontribusi tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan, karyawan dapat mengalami rasa tidak berdaya atau learned helplessness, yakni perasaan bahwa usaha apa pun tidak akan membawa perubahan. Dalam situasi ini, penurunan motivasi bukanlah tanda kemalasan, melainkan respons alami sistem psikologis terhadap tekanan yang berulang dan tidak terselesaikan. Quiet quitting muncul sebagai cara bertahan dengan membatasi keterlibatan emosional agar individu tidak semakin terkuras secara mental.
Quiet quitting tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membawa konsekuensi bagi organisasi. Seperti menurunnya produktivitas, keterlibatan kerja, dan komitmen karyawan. Meskipun perilaku ini sering berawal dari tekanan kerja dan kurangnya dukungan organisasi, dampaknya tetap nyata terhadap kinerja dan keberlanjutan tim. Namun, berbagai temuan menunjukkan bahwa dukungan organisasi dan rasa aman secara psikologis dapat membantu meredam dampak negatif quiet quitting serta memulihkan keterikatan karyawan terhadap pekerjaannya (Kim & Sohn, 2024).
Mencegah quiet quitting memerlukan kolaborasi antara organisasi dan karyawan. Organisasi perlu membangun komunikasi yang sehat, memberikan apresiasi yang bermakna, serta memastikan beban kerja yang realistis dan ruang untuk berkembang. Sementara itu, karyawan juga perlu mengenali batas diri, menjaga kesehatan mental, dan berani berdialog ketika pekerjaan mulai kehilangan makna. Quiet quitting bukan sekadar persoalan individu, melainkan cerminan relasi kerja yang perlu dikelola secara bersama.
Quiet quitting sebaiknya tidak dilihat sebagai kesalahan individu, melainkan sebagai sinyal psikologis bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi dalam relasi kerja. Motivasi kerja yang meredup bukan sesuatu yang hilang selamanya, melainkan dapat dinyalakan kembali ketika lingkungan kerja menghadirkan dukungan, keadilan dan makna. Pada akhirnya, bekerja dengan hadir sepenuhnya bukan sekadar soal menyelesaikan tugas, tetapi tentang bagaimana individu dapat tetap terhubung secara psikologis dan emosional dengan pekerjaannya.
Referensi:
Anindya Anandani, D., & Rahmasari, D. (2022). Hubungan Beban Kerja dengan Burnout pada Pegawai Perusahaan Startup The Relationship between Workload and Burnout in Startup Company Employees. 10(02), 103–115.
Hetharie, J. A., & Haris Touwely, G. (2025). DINAMIKA KONFLIK KERJA DAN PENGALAMAN DOSEN MUDA DALAM MENGHADAPINYA: STUDI KASUS DI FAKULTAS KESEHATAN UKIM (Vol. 19, Issue 1).
Ismail, H., Yamin Noch, M., & Mustajab, D. (2022). Pengaruh Motivasi Intrinsik, Motivasi Ekstrinsik dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai. PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi, 7(3). https://www.pasificpos.com/inilah-total-dana-otsus-papua-tahun-2002-2022.
Kim, K. T., & Sohn, Y. W. (2024). The Impact of Quiet Quitting on Turnover Intentions in the Era of Digital Transformation: The Mediating Roles of Job Satisfaction and Affective Commitment, and the Moderating Role of Psychological Safety. Systems,
12(11). https://doi.org/10.3390/systems12110460
Manullang, Y. C., Ramadhan, Y. A., Purwaningrum, E. K., Azizah, P. N., Fitriana, H., & Pinanda, D. A. R. (2025). Penyusunan Skala Quiet Quitting pada Karyawan Gen Z di Indonesia. MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin, 3(3), 984–996. https://doi.org/10.60126/maras.v3i3.1142
Nugraha F., A., Mawarti, H., Wangi, N., & Sutedja, A. A. (2025). Fenomena Quiet Quitting pada Tenaga Kesehatan dalam Konteks Lingkungan Kerja dan Motivasi Intrinsik: Scoping Review. Jurnal Kesehatan Amanah, 9(2), 69–83. https://doi.org/10.57214/jka.v9i2.927