ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 49 Januari 2026
Silent Treatment Sebagai KDRT berbentuk Tindakan Kontrol Terhadap Pasangan
Oleh:
I Wayan Nathan Fanza Tanaya & Luh De Ayu Bunga Kamala
Program Studi Psikologi, Universitas Udayana
Konflik pada Hubungan
Pada setiap hubungan rumah tangga, konflik merupakan elemen yang menjadi bagian dari dinamika hubungan. Konflik merupakan hal yang normal, mengingat adanya perbedaan dari dua individu di dalam hubungan pada banyak aspek, seperti cara pandang, prinsip, perilaku, minat, kebiasaan, keputusan, dan lainnya. Konflik menjadi tantangan pada pasangan untuk dapat mengelola dan menyelesaikan permasalahan, hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi kualitas hubungan mereka. Penyelesaian konflik yang buruk dapat menurunkan kualitas hubungan pada pasangan, tidak jarang penyelesaian konflik yang buruk pada pasangan berujung pada berbagai perilaku yang tidak diharapkan seperti kekerasan (Maharani, 2024). Kekerasan yang terjadi bisa bermacam-macam mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis, penelantaran, hingga eksploitasi terhadap pasangan.
Silent Treatment Terhadap Pasangan
Kekerasan psikis menjadi kekerasan yang seringkali sulit diidentifikasi oleh korban dibandingkan jenis kekerasan lainnya, salah satu bentuk kekerasan psikis adalah adalah silent treatment. Silent treatment merupakan tindakan yang disengaja oleh satu individu untuk menghindari dan mengabaikan pasangan. Upaya silent treatment meliputi memutus komunikasi, menghindari kontak mata, dan mengabaikan lawan bicara (Gupta & Gupta, 2023). Tindakan ini menjadi bagian dari pola kekerasan psikologis yang lebih luas, yang dilakukan dengan tujuan mendominasi, mengintimidasi, dan mengendalikan pasangan (Denmark & Paludi 2008).
Silent treatment merupakan alat kontrol yang efektif karena dapat merusak kepercayaan diri korban. Tindakan ini menciptakan isolasi emosional, menyebabkan korban merasa tidak terlihat, tidak berharga, dan sendirian dalam hubungan tersebut. Tindakan ini menempatkan pasangan dalam keadaan bingung dan cemas, korban akan terus-menerus mencoba mencari tahu kesalahan yang telah diperbuat. Hal ini memperkuat dinamika kekuasaan yang tidak setara, di mana pasangan laki-laki mempertahankan kontrol dominan (Agarwal & Prakash, 2022). Jika perilaku ini berlanjut, tindakan silent treatment terhadap pasangan dapat merusak pola hubungan karena meningkatkan emosi negatif dan memperbesar jurang ketidakpercayaan (Weinstein et al., 2024).
Dampak silent treatment sebagai bentuk agresi non-fisik dapat merusak kesehatan mental korban, bahkan setara dengan tindakan agresif fisik. Kondisi ini menciptakan kecemasan dan ketakutan yang membuat korban meragukan persepsi realitasnya sendiri (gaslighting). Korban dipaksa terus memperbaiki situasi, seperti membatasi ucapan atau perilaku, meskipun ia sendiri tidak mengetahui letak kesalahannya. Hal ini sejalan dengan konsep "unfreedom" (Marway & Widdows, 2015), yakni korban terlihat bebas memilih namun sebenarnya terjebak dan dipaksa menurut demi menghindari konflik berkelanjutan. Tindakan berulang ini akan menghancurkan rasa aman, menurunkan harga diri, dan berpotensi menyebabkan depresi karena ketidakberdayaan.
Silent Treatment Sulit Diidentifikasi
Silent treatment sulit diidentifikasi dan dilabeli sebagai kekerasan oleh korban maupun masyarakat. Hal ini dikarenakan konseptualisasi kekerasan secara tradisional lebih berpusat pada kekerasan fisik dan verbal, di mana bekas luka dan bukti verbal memberikan kesadaran dan empati. Karena silent treatment bukan kekerasan fisik maupun kekerasan verbal, tidak adanya bukti perilaku yang eksplisit membuatnya menjadi semakin sulit diidentifikasi sebagai tindakan yang merusak secara emosional pada korban (Denmark & Paludi 2008). Ambiguitas ini juga terlihat dalam penelitian, di mana konsep silent treatment sebagai bentuk kekerasan emosional sering diabaikan. Kekerasan dalam hubungan yang terjadi lebih didominasi oleh kekerasan fisik atau verbal, yang pada akhirnya mengaburkan status silent treatment sebagai bentuk kekerasan emosional.
Penutup
Silent Treatment tidak bisa dipandang sebagai tindakan diam yang sepele dalam hubungan, melainkan bentuk kekerasan psikis untuk mendapatkan kontrol yang berdampak serius terhadap kesehatan mental pasangan. Perilaku ini dapat menyebabkan berbagai dampak negatif.Penggunaan Silent Treatment dalam hubungan menunjukkan bahwa, resolusi konflik pada pasangan masih cukup buruk. Sehingga, diperlukan resolusi konflik yang memadai yang dapat digunakan pada pasangan untuk mengelola konflik dengan lebih baik seperti konsep komunikasi hati atau meningkatkan keintiman di dalam hubungan.
Daftar Pustaka:
Agarwal, S., & Prakash, N. (2022). When silence speaks: Exploring reasons of silent treatment from perspective of source. International Journal of Trend in Scientific Research and Development, 6(3), 1458–1472.
Denmark, F. L., & Paludi, M. A. (Eds.). (2008). Psychology of women: A handbook of issues and theories. Bloomsbury Academic.
Gupta, P., & Gupta, R. (2023). What is the psychology behind ostracism or “silent treatment” and what to do with such abuse? Journal of Clinical & Community Medicine, 5(3), 578–585. https://doi.org/10.32474/JCCM.2023.05.000215
Maharani, A. (2024). Efektivitas program konseling untuk mengatasi kekerasan dalam hubungan romantis remaja. JBK Jurnal Bimbingan Konseling, 2(1), 1–8.
Marway, H., & Widdows, H. (Eds.). (2015). Women and violence: The agency of victims and perpetrators. Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/9781137015129
Nerviadi, D. I., & Nurwianti, F. (2024). Keharmonisan keluarga dan distres psikologis pada anak perempuan dewasa: Empati sebagai mediator. Psyche 165 Journal, 19–26.
Weinstein, N., Nguyen, T. V., Adams, M., & Knee, C. R. (2024). Intimate sounds of silence: Its motives and consequences in romantic relationships. Motivation and Emotion, 48(3), 295–320.