ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 49 Januari 2026

 

Mungkinkah “SDM rendah” Diproduksi Melalui Ketidaksadaran Sosial?

 

Oleh:

Eko A Meinarno1 & Arie Rihardini Sundari2

1Fakultas Pskologi, Universitas Indonesia

 2Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

           

Pengantar

Saat ini muncul istilah “SDM (sumber daya manusia) rendah” di dunia maya. Hal ini merujuk pada tingkah laku manusia Indonesia yang sering gagap menghadapi kemajuan atau tingkah laku yang dianggap tidak sepatutnya. Misalnya, membuang sampah sembarangan, abai pada aturan lalu lintas, menyerobot antrian, melakukan tindakan yang membahayakan orang lain seperti mengendarai kendaraan lawan arah, dan lain-lain. Uniknya hal ini berlawanan dengan semakin meningkatnya jumlah warga yang sekolah, pada level SMA sampai perguruan tinggi (sarjana dan seterusnya). Logika sederhananya adalah semakin individu terpapar pendidikan dan melihat kemajuan, maka tingkah lakunya juga akan menyesuaikan atau mematutkan dengan apa yang diharapkan. Nyatanya tidak demikian, dan muncullah idiom SDM rendah.Perbincangan yang terjadi selanjutnya adalah, bagaimana sebuah bangsa yang telah merdeka sejak 1945, dan dimotori oleh para cerdik cendekia (para pendiri bangsa mayoritas adalah sarjana atau penulis aktif di media massa) ternyata menghasilkan masyarakat dengan idiom SDM rendah? Hal ini tentu tidak bisa dijawab hanya dengan satu faktor semata. Artikel ini hendak menjelaskan bagian-bagian kecil yang diduga membangun idiom tadi.

 

Watak Masyarakat

Idiom SDM rendah tidak seiring dengan kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik selama lebih dari 80 tahun. Hal yang tentunya berlawanan dengan logika banyak orang. Mengapa lepas dari penjajahan Belanda, orang Indonesia masih dianggap sebagai SDM yang lemah? Jika kemudian SDM lemah ini terjadi di mana-mana dan di berbagai aspek kehidupan, mungkin hal ini terpola. Untuk menjawab itu mungkin ada perspektif dari bidang ilmu lain yang bisa menjawabnya.Dalam kajian antropologi psikologi dikenal teori watak masyarakat (Danandjaja, 1988). Erich Fromm (uniknya ia ilmuwan psikologi) menuliskan watak masyarakat sebagai pola kepribadian dominan yang dimiliki oleh mayoritas anggota suatu masyarakat dan berfungsi untuk menyesuaikan kebutuhan individu dengan tuntutan sistem sosial yang berlaku (Fromm, 1941 dalam Danandjaja, 1988). Watak masyarakat berperan sebagai mekanisme psikologis yang memungkinkan masyarakat mempertahankan keberlangsungannya. Melalui internalisasi nilai, norma, dan orientasi hidup tertentu, individu terdorong untuk bertindak dengan cara yang selaras dengan kebutuhan ekonomi dan sosial zamannya (sering kali tanpa paksaan eksternal). Watak masyarakat ini menjembatani struktur sosial dengan motivasi individual, sehingga perilaku yang diharapkan masyarakat dirasakan sebagai keinginan pribadi oleh individu (tanpa sadar). Dengan melihat watak masyarakat, ada peluang untuk melihat dan memahami bagaimana struktur masyarakat dapat menghasilkan kesehatan mental maupun patologi sosial.

Idiom SDM rendah dapat menjadi isu yang kita sebut sebagai penyakit atau patologi sosial dalam konteks watak masyarakat. Jika diperhatikan perhatian tentang SDM ini telah disinyalir oleh Koentjaraningrat, antropolog Indonesia. Ia memperhatikan dan mengkajinya saat Indonesia di bawah pemerintahan Orde Baru (Orba).

Ia menuliskan kekhawatirannya dalam buku “Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan”. Buku yang menjadi klasik, dengan jabaran yang padat singkat dan mengena. Ia menuliskan ada lima kelemahan bangsa Indonesia yakni hanya mementingkan tampilan, menekankan pada hasil bukan pada proses, terlalu berorientasi masa lalu, menggantungkan diri/masa depan pada nasib dan kurang berinisiatif (Koentjaraningrat, 1974).

Keberadaan lima kelemahan itu dapat dilihat dari beberapa riset. Riset yang dilakukan oleh Andreas Danandjaja (1986) pada kelompok manajer menunjukkan penekanan ada nilai pragmatik dan kurang berorientasi keberhasilan. Bagi para manajer, perusahaan adalah tempat memeroleh kedudukan baik, kehormatan dan keamanan. Hal ini menurutnya terjadi karena perusahaan dianggap sebagai wujud yang harus dihormati, bukan yang dapat menjadi mitra. Para manajer juga melihat bawahannya juga tidak setara, hanya dilihat sebagai fungsi. Maka hal ini sejalan dengan apa yang dia jalani terhadap perusahaan.

Riset terkini tampaknya tidak jauh dari hipotesis Koentjaraningrat. Terbentuknya rasa inferior atau ‘watak lemah’ atau mental inlander (Zahrah & Meinarno, 2021). Mental inlander ini adalah perasaan buruk sebagai bangsa (bentuk respon emosional), sehingga pantas mengalami penindasan oleh bangsa kolonial agar dapat lebih beradab. Hal tersebut menunjukkan konsep diri yang menyatu dengan identitas sosial melalui internalized oppression, yang kental dengan stereotipe negatif. Terlebih dengan melesatnya pertukaran budaya melalui teknologi, mengaburkan sensitivitas dalam memandang perbedaan budaya dan perbedaan antar-individu.

 

Folklor

Dari mana datangnya watak masyarakat yang dijabarkan oleh Fromm? Salah satu jawabannya adalah folklor. Folklor merupakan sebagian kebudayaan dari suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic devices) (Brunvand, 1968 yang dikembangkan kemudian oleh Danandjaja, 1988; 2002).

Folklor dalam pengertian yang agak konservatif hanya melihat bentuk-bentuk folklor yang diberikan melalui lisan. Selama ini perkembangan penelitian folklor amatlah menekankan pada penyebaran lisan. Hal ini berdampak pada penyebarannya yang terbatas pada kelompok-kelompok kecil (misalnya cerita Malin Kundang yang terbatas pada masyarakat Minangkabau). Folklor yang beredar di Indonesia juga patut diduga kurang menekankan usaha keras individu. Misalnya penekanan folklor Indonesia adalah adanya kekuatan eksternal yang dapat menyelamatkan atau membuat usahanya berhasil (benda-benda ajaib, sihir, mantra), bukan karena upaya dia mempelajari atau mengubah sesuatu atau meningkatkan kemampuan. Atau mengutuk (cerita Malin Kundang) sebagai bentuk langkah akhir hukuman secara emosional, tanpa ruang pembelaan yang melahirkan dogma beku dan fanatisme berlebihan (Syahrul, 2016).

 

Dinamika

Artikel ini hendak menjelaskan bahwa SDM rendah bisa jadi tidak semata muncul karena individu. Sangat mungkin terbentuk karena adanya desain sosial yang tidak disadari. Secara sosial hal ini terjadi tanpa sadar. Kelemahan-kelemahan yang diajukan Koentjaraningrat relatif tidak tertangani dengan baik, melalui pendidikan atau kebijakan.

Dalam konsep poskolonialisme, secara sosiodiagnostik, rasa inferior tersebut bersifat kompleks, berasal dari rendah diri secara ekonomi kemudian berlanjut pada internalisasi atau epidermalisasi rasa inferior itu sendiri (Fanon, 1952). Hal tersebut menumbuhkan rasa tidak berdaya, yang bahkan secara klinis mengarahkan pada konflik batin, yakni keinginan untuk menjadi mirip dengan bangsa kolonial. Sejumlah konflik batin tersebut dapat berkembang menjadi neurosis, yang lebih jauh lagi berkaitan dengan trauma kolektif.

Masyarakat melanggengkannya secara turun-temurun, yakni dengan kisah-kisah atau cerita (folklor). Isi dari folklor itu lebih banyak tentang keberhasilan-keberhasilan yang berasal dari luar dirinya. Individu senantiasa merasa, untuk mencapai keberhasilan atau hendak mengubah sesuatu, hal yang dibutuhkan adalah kekuatan dari luar. Dalam keseharian hal ini berlanjut di media massa kita yakni sinetron. Tokoh-tokoh protagonis di sinetron selamat karena keberuntungan. Sebagai pembanding sinetron Jepang seperti Oshin (ditayangkan TVRI tahun 1980-an akhir), justru menekankan usaha keras, peningkatan kemampuan yang terus-menerus dan akhirnya menguasai kemampuan dan kompeten. 

Di sisi lain, pelajaran sekolah khususnya sejarah juga memosisikan diri bangsa Indonesia dalam keadaan tidak berdaya. Misalnya pembacaan sejarah kolonial Belanda. Secara kaku, penulisan sejarah kita mereproduksi kedatangan VOC (kongsi dagang Belanda) sebagai penjajah. Padahal penjajahan tidak dimulai sejak kedatangan VOC (Hasudungan, 2021). Hal yang terjadi adalah tumbuh rasa dan pemahaman “dijajah selama 350 tahun” yang menimbulkan efek psikologis yang tidak menguntungkan. Perasaan malu dan bahkan sangat mungkin menimbulkan pengagungan penjajah sebagai “yang lebih baik”. Ini yang mengarahkan individu Indonesia sebagai mental inlander.

Penekanan ketidakberdayaan dan memosisikan keberuntungan dari luar diri yang kuat selama bertahun-tahun mengokohkan hipotesis Koentjaraningrat. Hal yang kemudian menjadi idiom yang saat ini kita kenal yakni SDM rendah.            

 

Penutup

Artikel ini masih bersifat hipotetik. Oleh karenanya butuh pandangan atau perspektif lain untuk menjelaskan gejala SDM rendah. Jika folklor memang membentuk watak masyarakat, dari mana munculnya kelima kelemahan masyarakat yang diajukan Koentjaraningrat? Adakah alasan psikologi-kebudayaannya? Atau ada ketakutan, kecemasan yang juga berkontribusi? Melihat riset Danandjaja (1986) dan Zahra dan Meinarno (2021), tampaknya masalah ini belum cukup terjawab. Masih perlu kajian lanjutan.

 

Daftar Pustaka:

 

Danandjaja, A. (1986). Sistem Nilai Manajer Indonesia. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

Danandjaja, J. (1988). Antropologi Psikologi: Teori, Metode dan Sejarah Perkembangannya. Rajawali Pers. Jakarta.

Danandjaja, J. (2002). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip. Dongeng, dan Lain-lain. Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.

Fanon, F. (1952). Black Skin, White Mask. Peau Noire, Masques Blanc, France: Pluto Press.

Hasudungan, A. N. (2021). Pelurusan Sejarah Mengenai Indonesia Dijajah Belanda 350 Tahun Sebagai Materi Sejarah Kritis Kepada Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Rupat. Jurnal Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 9 Nomor 3.

Koentjaraningrat. (1974). Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Gramedia. Jakarta.

Syahrul, N. (2016). Dekonstruksi Cerita Untuk Membentuk Karakter Anak Menyelisik Sisi Lain Makna Cerita “Si Malin Kundang”. Seminar Nasional Sastra Anak: Membangun Karakter Anak Melalui Sastra Anak. https://share.google/Zt8AcrrNHj7b4RSIu

Zahrah, F., Meinarno, E. A. (2021). Mental Inlander, Kata Siapa? Prosiding Temu Ilmiah Nasional Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Volume 1, Tahun 2021, Mengelola Ke-Bhineka Tunggal Ika-an: Tantangan Psikologi di Era New Normal.