ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 49 Januari 2026
Program Psikoedukasi Manajemen Stres untuk Pekerja Sosial di Panti Asuhan: Implementasi dan Dampaknya
Oleh:
Kania Pratiwi, Najwa Tsani Syahreva, Sarah Magia Hu, Dini Marselina Hotmida, Abigail Berliana Sitorus, Mohammad Adi Ganjar Priadi
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Pendahuluan
Dalam menjalankan fungsi dan perannya, seorang pekerja sosial akan menghadapi beberapa tantangan dan persoalan yang ringan hingga yang sulit dan kompleks. Persoalan - persoalan ini dapat meimbulkan tekanan atau stres bagi para pekerja sosial. Stres sendiri didefinisikan sebagai adanya tuntutan yang perlu dipenuhi, sementara stresor mengacu kepada sumber dari tekanan yang memunculkan stres (Dewe, 2017). Para pekerja sosial bukan hanya menghadapi masalah terkait karakteristik pekerjaan namun juga hal-hal lain yang turut berperan, seperti persoalan dengan rekan kerja, masalah kestabilan finansial, hingga kesulitan mengelola stres sehari-hari. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Stone (2017) yang menjelaskan bahwa pekerja dalam menjalankan tanggung jawabnya dapat mengalami hambatan. Hambatan tersebut dapat berupa lingkungan pekerjaan yang kurang mendukung, pendapatan yang kurang sesuai dengan harapan, hingga beban pekerjaan yang terlalu berat.
Dalam studi yang dilakukan oleh Fitriyah & Febriana (2022) mengungkap bahwa stres pada pekerja sosial di sebuah panti erat kaitannya dengan beban pekerjaan dan kondisi internal dari panti tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa pekerja sosial terbukti memiliki kerentanan untuk mengalami stres. Stres yang tidak dikelola dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan fisik dan mental para pekerja sosial. Maka dari itu, para pekerja sosial perlu dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan mengenai pengelolaan stres yang tepat. Salah satu pembekalan yang dapat diberikan adalah dengan memberikan psikoedukasi mengenai teknik relaksasi. Teknik ini dapat berupa pemberian informasi maupun psikoedukasi mengenai relaksasi yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari stres yang dialami.
Psikoedukasi
Psikoedukasi mengenai teknik relaksasi ini merupakan integrasi pendidikan, penelitian dan pengabdian mata kuliah Manajemen Stres Fakultas psikologi terhadap salah satu Panti Asuhan di Jakarta Timur. Modul psikoedukasi disusun berdasarkan hasil analisa kebutuhan yang dilakukan melalui metode wawancara dan observasi pada pekerja sosial. Dalam hal ini, edukasi mengenai pengelolaan stres diberikan kepada 5 orang pekerja sosial di panti asuhan “A” di daerah Jakarta Timur. Modul berdurasi 120 menit ini berisi mengenai pengetahuan dan teknik relaksasi yang dapat dipraktekan oleh para pekerja sosial sehari - hari.
Berdasarkan hasil wawancara, 2 dari 5 partisipan merasakan sakit fisik berupa nyeri pada bagian kepala dan perut ketika mengalami stres. Selain itu, partisipan mengatakan stresor terbesar dalam bekerja di panti asuhan adalah target kerja yang terlampau tinggi dan masalah kesabaran dalam bekerja. Masalah kesabaran sering dihayati menjadi sebuah tekanan emosional ketika menghadapi para anak asuh yang sulit sekali diatur. Hal tersebut tentu memberikan ketegangan dan membuat para pekerja sosial bekerja dengan tidak rileks dan perasaan cemas ataupun tertekan.
Pemberian program berlangsung selama 120 menit yang diisi dengan kegiatan psikoedukasi mengenai stres dan teknik relaksasi pernapasan 4-7-8. Teknik ini merupakan cara yang dapat dilakukan agar seseorang dapat merasa rileks, dengan cara menarik napas selama 4 detik, lalu menahannya selama 7 detik, dan dilanjutkan dengan menghembuskan napas selama 8 detik (Azalia, 2023). Penelitian Qiptiah et al. (2023) membuktikan bahwa teknik ini secara signifikan efektif dalam menurunkan kadar stres dan kecemasan.
Kesimpulan
Setelah psikoedukasi diberikan, para partisipan memberikan evaluasi secara kualitatif dengan menyampaikan manfaat yang didapat dari kegiatan ini. Salah satu manfaat yang mereka peroleh adalah teknik relaksasi dapat dilakukan pada konteks pekerjaan mereka khususnya bila sedang mengelami ketegangan. Setelah mempraktekkan teknik relaksasi 4-7-8 para pekerja sosial merasakan adanya penurunan ketegangan, lega dan menjadi lebih rileks. Sensasi fisik seperti hilangnya rasa tegang pada bagian pundak dan area sekitar leher juga dirasakan oleh partisipan. Setelah program ini diberikan, diharapkan para pekerja sosial dapat mempraktekkannya dalam kehidupan kerja sehari - hari mereka terutama bila sedang dalam keadaan tertekan.
Referensi
Azalia, D. (2023). Pengaruh Kombinasi Relaksasi Napas dalam Metode 4-7-8 dan
Musik Klasik terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi dengan
Spinal Anestesi. Disertasi. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Dewe, P. (2017). Demands, Resources, and Their Relationship with Coping. The
Handbook of Stres and Health: A Guide to Research and Practice. Edited by
Cooper, C, L & Quick, J. C. John Wiley & Sons.
Fitriyah & Febriana, A. T. (2022). Dampak Stres Kerja Tenaga Pelayanan Sosial
terhadap Pelayanan bagi Warga Binaan Sosial (Studi kasus pada PSAA Putra
Utama 3 Tebet Jakarta). Jurnal Pembangunan Manusia Vol 3 (2).
https://doi.org/10.7454/jpm.v3i2.1033
Qiptiah, D. M., Wahyuningtyas, T. A., & Wahyuni, E., T. (2024). The Effectiveness of
The 478 Breath Technique for Independent Self-healing in Adolescents.
Proceedings of International Joint Seminar. 129-135.
Stone, R. J. (2017). Human Resource Management 9th (Edition.). John Wiley
& Sons.