ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 48 Desember 2025

 

Aku Juga Ingin Dimengerti : Hak Dasar Perempuan Atas Seksualitas

 

Oleh:

Gede Yoga Weda Ananda

Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

 

Pengalaman seksual yang positif adalah fondasi esensial bagi kesejahteraan individu dan keharmonisan hubungan. Ini adalah hak universal yang harus dinikmati setiap orang, tanpa terkecuali perempuan, serta tidak terhalang oleh gender maupun status ekonomi. Ironisnya, perempuan seringkali tidak mendapatkan ruang atas hak kepuasan seksual mereka dan bahkan dianggap tidak pantas untuk menerima hak tersebut. Meskipun zaman telah berubah dan berkembang, seksualitas perempuan masih dianggap sebagai masalah atau diabaikan, kita juga kurang memahami makna dan pentingnya identitas dan pengalaman seksual mereka bagi perempuan (Baber dalam Biaggio & Hersen, 2002:145). Oleh karena itu, menjadi sangat penting untuk memahami pentingnya pengalaman seksual positif bagi perempuan, serta menegaskan bahwa perempuan berhak atas pengalaman seksual yang positif.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga menyampaikan bahwa dalam masyarakat patriarki, seksualitas perempuan seringkali termarginalkan dan dibatasi oleh konstruksi sosial budaya tentang feminitas ideal. Akibatnya, seksualitas perempuan kerap terpinggirkan dan dinegasikan, seolah bukan bagian penting dari identitas feminin mereka. Tubuh dan seksualitas perempuan lantas dianggap tidak memiliki makna bagi diri perempuan sebagai individu, mereka justru selalu dipersepsikan dan dikonstruksi sebagai objek bagi “orang lain”. Perempuan bahkan dipaksa untuk mengabaikan atau meminggirkan hasrat seksualnya sendiri karena seksualitas mereka dibentuk untuk menyenangkan orang lain. Ketika seksualitas perempuan dinegasikan dan dianggap bukan bagian dari esensi diri mereka, hal ini secara langsung mengakibatkan hilangnya kemanusiaan perempuan itu sendiri (Alifa, 2013). Fenomena inilah yang kemudian kita pahami sebagai objektifikasi perempuan. Selain itu, sebuah survei yang dilakukan oleh Kindara, melaporkan bahwa lebih dari separuh partisipan perempuan, tepatnya 53,2 persen, merasa tidak berhubungan seks sesering yang mereka inginkan (Windratie, 2015)

 

Pengalaman seksual yang positif merupakan fondasi penting bagi kesejahteraan perempuan dan hubungan yang sehat. Rosadi dkk. (2021) mendefinisikan kepuasan seksual sebagai respons positif individu, berbentuk rasa puas yang didapatkan dari aktivitas seksual. Ini mencakup tidak hanya kesatuan fisik seperti hubungan intim, tetapi juga kedekatan emosional dan kenyamanan psikis antara dua individu. Lebih lanjut, penelitian ini menekankan bahwa kepuasan seksual juga berpengaruh signifikan pada kesehatan mental perempuan, membuktikan bahwa ia bukan sekadar keinginan tambahan, melainkan salah satu kebutuhan fundamental yang perlu dipenuhi. Vasconcelos dkk (2024) menjelaskan adanya hubungan yang signifikan antara kesehatan seksual perempuan dan kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Selain itu, fungsi seksual perempuan terbukti memiliki korelasi positif dengan berbagai aspek kualitas hidup, termasuk kesejahteraan psikologis, lingkungan tempat tinggal, dan hubungan sosial..

Seringkali, kepuasan seksual diidentikkan dengan masa muda atau usia dewasa. Namun, kepuasan seksual ini tetap memegang peran krusial bagi kesejahteraan perempuan lanjut usia. Abdolahhi (2021) menyatakan bahwa kepuasan seksual pada perempuan lansia memiliki hubungan erat dengan kondisi psikologis, sosial, dan fisik mereka. Penelitian ini dengan jelas menegaskan bahwa kebutuhan akan seksualitas tetap ada seiring bertambahnya usia. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan seksual merupakan salah satu kebutuhan fundamental perempuan yang terus relevan dan diperlukan, bahkan hingga usia senja.

 

Kepuasan seksual juga berkaitan dengan orgasme. Orgasme seringkali menjadi elemen kunci yang dikaitkan dengan kepuasan seksual wanita, dan memiliki peran penting dalam kesejahteraan seksual perempuan. Dienberg dkk. (2023) menjelaskan bahwa orgasme merupakan faktor vital dalam memicu perasaan puas dan kenikmatan seksual perempuan, bahkan dapat mendorong hasrat untuk aktivitas seksual di masa mendatang. Meskipun beberapa perempuan mungkin merasa puas dalam hubungan seksual tanpa mengalami orgasme, penelitian berulang kali menunjukkan bahwa orgasme tetap memainkan peran signifikan dalam kenikmatan dan kepuasan seksual mereka.

 

Kepuasan seksual juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Sebuah studi oleh Ainayya (2024) menemukan bahwa aspek-aspek seperti usia, pendidikan, dan latar belakang demografi memiliki pengaruh signifikan. Lebih dari itu, penelitian tersebut menegaskan bahwa kepuasan seksual perempuan sangat berkaitan dengan komunikasi, kecocokan, kepedulian dalam hubungan, dan kepedulian pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan seksual perempuan tidak hanya bergantung pada aspek biologis dan fisik semata, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dimensi interpersonal—bagaimana perempuan dipahami, seberapa baik komunikasi terjalin, dan sejauh mana kepedulian pasangan dalam hubungan.

 

Berdasarkan pembahasan menyeluruh, jelas bahwa seksualitas perempuan bukanlah aspek remeh atau tabu. Jauh dari itu, seksualitas dan kepuasan seksual merupakan kebutuhan fundamental dan aspek krusial bagi kesejahteraan serta kualitas hidup mereka. Ironisnya, di masyarakat masih banyak perempuan yang diabaikan hak dan kebutuhan seksualnya, bahkan di objektifikasi. Padahal, perempuan berhak sepenuhnya atas kepuasan seksual mereka dan tidak pantas diabaikan atau direduksi menjadi objek. Perempuan berhak mencapai kesejahteraan yang utuh, baik secara fisik, psikologis, maupun seksual.

 

 

Referensi:

 

Abdollahi, E., Shokrgozar, S., Sheerojan, M., Golshahi, M., & Zare, R. (2021). Relationship Between Sexual Satisfaction and Mental Health in Married Older Women. Journal of Guilan University of Medical Sciences, 30(117).

Alifa, N. (2013). Antara perlindungan dan pembatasan: Pengawasan isi siaran bermuatan seksualitas dan perempuan. Komnas Perempuan; Remotivi.

Ainayya, Y., Priyatno, A. D., Gusnita, E., & Ekawati, D. R. (2024). Analisis kepuasan seksual wanita usia subur yang menggunakan metode kontrasepsi suntik kb 3 bulan. Jurnal'Aisyiyah Medika, 9(2).

Biaggio, M., & Hersen, M. (Eds.). (2002). Issues in the psychology of women. Kluwer Academic Publishers.

Dienberg, M. F., Oschatz, T., Piemonte, J. L., & Klein, V. (2023). Women’s orgasm and its relationship with sexual satisfaction and well-being. Current Sexual Health Reports, 15(3), 223-230.

Rosadi, F. H., & Hartono, R. (2021). Pengaruh Sexual Satisfaction Terhadap Tingkat Kesehatan Mental Ibu Rumah Tangga Di Sumbawa. Jurnal Tambora, 5(1), 1-6.

Rosenfeld, J. A. (Ed.). (2001). Handbook of women’s health: An evidence-based approach. Cambridge University Press.

Vasconcelos, P., Carrito, M. L., Quinta-Gomes, A. L., Patrão, A. L., Nóbrega, C. A., Costa, P. A., & Nobre, P. J. (2024). Associations between sexual health and well-being: a systematic review. Bulletin of the World Health Organization, 102(12), 873.

Windratie. (2015, September 19). Survei: Wanita Mendambakan Seks Lebih Sering. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150916161022-255-79178/survei-wanita-mendambakan-seks-lebih-sering