ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 46 November 2025
Speech Delay pada anak : Apakah Orang Tua dapat
menjadi Penyebab Utama?
Oleh:
Najwa Arafah Hamzah
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Pembuka
Di zaman yang semakin modern, banyak anak yang mengalami Speech delay, yaitu keterlambatan dalam perkembangan kemampuan bicara. Fenomena ini bisa berdampak pada kemampuan sosial anak. Speech delay atau gangguan keterlambatan bicara adalah hambatan dalam pertumbuhan kemampuan berbahasa dan berbicara. Sekitar 5 sampai 8 persen anak usia prasekolah mengalami gangguan ini, menjadikannya sebagai gangguan yang paling sering ditemui pada anak-anak. Jika gangguan bicara tidak ditangani secara tepat, anak bisa mengalami perubahan perilaku, masalah psikologis, kesulitan dalam membaca, serta penurunan kinerja akademik. Menurut IDEA (Individuals with Disabilities Education Act) tahun 1997, gangguan ini berkaitan dengan kelainan komunikasi yang menghambat kemampuan anak dalam belajar, seperti gagap, gangguan artikulasi, gangguan bahasa, dan gangguan suara.
Pertumbuhan populasi berdampak pada meningkatnya jumlah anak dengan keterlambatan bicara, yaitu kondisi ketika anak belum mampu mengeluarkan suara, mengucapkan kata, atau berbicara sesuai usia perkembangannya. Menurut DSM-V, keterlambatan bicara termasuk gangguan perkembangan spesifik dalam berbicara dan berbahasa, meskipun tidak disertai gangguan pendengaran atau autisme. Anak dengan keterlambatan bicara mengalami kesulitan berkomunikasi sehingga sulit dipahami oleh lingkungan, yang berdampak pada perkembangan sosial, emosional, dan akademisnya. Mereka cenderung merasa rendah diri, sulit bersosialisasi, serta mengalami hambatan dalam proses belajar. Tanda-tanda umum meliputi jarang berbicara, kosakata terbatas, pelafalan kurang jelas, dan kalimat yang tidak runtut. Selain hambatan teknis, anak juga menghadapi tantangan psikologis; mereka memandang bahasa sebagai hal yang kompleks dan sering berhenti berusaha ketika merasa tidak dipahami oleh orang lain.
Gangguan bicara yang terlambat bisa mengganggu kemampuan anak dalam mengembangkan Social skill (keterampilan sosial) dan membangun hubungan dengan orang lain. Keterampilan sosial yang baik sangat dibutuhkan anak agar bisa berkembang, berinteraksi dengan orang lain, dan mendapatkan dukungan dari teman sebaya. Saat ini, keterampilan sosial sangat penting karena mencakup kemampuan dalam membangun pertemanan, beradaptasi dengan lingkungan baru, berkomunikasi, serta menjaga hubungan dengan teman yang sudah ada.
Gangguan bicara perlu diperhatikan sejak awal perkembangan anak karena masa kanak-kanak adalah masa pertumbuhan aspek fisik, motorik, bahasa, dan aspek lainnya. Jika ada masalah pada anak, orang tua, guru, atau orang terdekat harus cepat mengetahui dan menangani masalah tersebut, karena bicara adalah bagian utama dari keterampilan soft skill dalam berkomunikasi dan berinteraksi ketika anak tumbuh menjadi dewasa.
Faktor dan penyebab Speech Delay
Minimnya pemahaman orang tua terhadap perkembangan bahasa anak menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keterlambatan bicara sulit terdeteksi sejak dini. Di era digital, pola asuh cenderung menyesuaikan dengan gaya hidup praktis, termasuk penggunaan gadget sebagai sarana hiburan anak. Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial dan berdampak negatif pada kemampuan komunikasi verbal. Hasil pra-riset melalui observasi dan studi pustaka menunjukkan bahwa banyak orang tua belum mampu membedakan antara keterlambatan bicara yang masih dalam batas wajar dengan gangguan perkembangan yang memerlukan intervensi khusus, sehingga deteksi dini sering terlambat dilakukan.
Pemakaian gadget secara berlebihan pada anak usia dini berhubungan erat dengan masalah komunikasi dan keterlambatan bicara. Anak yang sering menonton konten digital tanpa pendampingan orang tua cenderung mengalami penurunan interaksi verbal karena kurangnya stimulasi timbal balik yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan berbicara. Meskipun sebagian orang tua menganggap penggunaan gadget membantu menenangkan anak, pemanfaatannya tanpa pengawasan dan waktu yang teratur justru berdampak negatif terhadap perkembangan bahasa. Selain faktor lingkungan, aspek psikologis juga berperan penting, di mana anak dengan keterlambatan bicara sering menunjukkan perilaku kurang responsif, jarang melakukan kontak mata, serta lebih tertarik pada permainan dibandingkan percakapan. Kondisi emosional yang tidak stabil serta keterbatasan waktu dan biaya terapi turut menjadi tantangan bagi orang tua. Secara keseluruhan, penggunaan gadget yang tidak terkontrol, faktor psikologis anak, dan dinamika keluarga dapat memperburuk keterlambatan bicara apabila tidak ditangani secara tepat.
Keterlambatan bicara pada anak usia dini merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti kondisi biologis, psikologis, dan riwayat medis tertentu berperan bersama faktor eksternal seperti pola pengasuhan, intensitas penggunaan gadget, serta rendahnya literasi keluarga. Anak dengan perkembangan bahasa yang lambat akan semakin berisiko mengalami keterlambatan bicara jika tidak mendapat stimulasi verbal dan respons komunikasi yang memadai dari lingkungan. Dengan demikian, kondisi anak dan lingkungan sosialnya saling memengaruhi dalam meningkatkan risiko keterlambatan bicara.
Dampak Speech Delay pertumbuhan anak
Penurunan Kognitif dan Akademik menjadi salah satu dampak dari speech delay bagi pertumbuhan anak. Hal ini bisa dikaitkan karena bahasa adalah alat utama untuk pembelajaran, memahami instruksi sekolah, serta bersosialisasi maupun berbicara pada guru/teman. Ketika kemampuan bahasa tertunda, maka anak bisa tertinggal secara kognitif dan akademik.
Dampak selanjutnya adalah masalah sosial dan emosional, Anak dengan keterlambatan bicara/language delay cenderung menghadapi kesulitan dalam komunikasi sosial, misalnya sulit mengekspresikan keinginan, sulit memahami percakapan teman sebaya, sehingga bisa merasa terisolasi atau frustrasi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa salah satu dampaknya adalah masalah perilaku dan sosial-emosi pada anak yang mengalami “late talker”.
Hal yang seharusnya dilakukan untuk mencegah Speech Delay
- Sering mengajak anak untuk berbicara dan berinteraksi
- Membacakan buku pada anak serta menstimulasi bahasa
- Memastikan pendengaran dan kesehatan fisik anak baik
- Membawa ke profesional segera ketika mendapatkan tanda akan adanya keterlambatan pada anak
Tindakan jika anak sudah terlanjur mengalami Speech Delay
- Segera lakukan pemeriksaan profesional guna mengevaluasi apa saja yang anak pahami dan lainnya
- Melakukan terapi bicara dan bahasa
- Terus memantau perkembangan anak
- Jangan menunda nunda jika dirasa ada yang salah dari anak
Kesimpulan
Keterlambatan dalam berbicara, atau yang dikenal sebagai speech delay, adalah suatu masalah perkembangan yang mempengaruhi komunikasi, interaksi sosial, emosi, dan akademik anak. Keadaan ini timbul akibat kombinasi dari faktor-faktor internal, termasuk kondisi fisik dan mental, serta faktor-faktor eksternal, seperti cara pengasuhan, kurangnya rangsangan, dan penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan. Konsekuensinya mencakup kesulitan dalam belajar, rasa percaya diri yang rendah, dan tantangan dalam berinteraksi dengan orang lain. Untuk mencegahnya, penting untuk rutin berkomunikasi dan berbincang dengan anak, membacakan cerita, dan membatasi waktu penggunaan gadget. Apabila seorang anak sudah mengalami keterlambatan bicara, sangat penting untuk segera melakukan evaluasi oleh profesional, menjalani terapi bicara, dan memantau perkembangan agar anak dapat tumbuh dengan baik.
Referensi:
Ananda, R., Marsofiyati., & Utari. (2025). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi speech delay pada anak usia dini. SAJAK: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Sastra, Bahasa dan Pendidikan, 4(2), 144–150. https://journal.uir.ac.id/index.php/sajak/article/view/22262/8338
Fitriyani, A., Sumantri, M. S., & Supena, A. (2019). Language development and social emotions in children with speech delay: Case study of 9-year-olds in elementary school. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 7(1), 23–29. https://jurnal.konselingindonesia.com/index.php/jkp/article/view/306/242
Jannah, N., Djoehaeni, H., & Romadona, A. (2024). Upaya orang tua dalam menangani anak usia dini dengan speech delay. Aulad: Journal on Early Childhood, 7(3), 723–733. https://aulad.org/index.php/aulad/article/view/770/420
Mulia, H., Mulyadi, D., & Elan. (2024). Analisis keterlambatan bicara (speech delay) pada anak usia dini. JECIE (Journal of Early Childhood and Inclusive Education), 7(2), 272–279. https://jurnal.unipar.ac.id/index.php/JECIE/article/view/1292/1405
Palipung, A. N., Paramita, P. P., & Ni’matuzahroh. (2023). Influence factors, impact and interventions for speech delay and language delay in early childhood: Systematic review. International Journal of Scientific Research and Management, 12(7), 64–78. https://ijsrm.net/index.php/ijsrm/article/view/5445/3411
Wahyuni, S., & Hamid. (2024). Menangani anak dengan gangguan speech delay dalam berinteraksi sosial di Kelompok Bermain Barokah Sukasari. Edu Happiness: Jurnal Ilmiah Perkembangan Anak Usia Dini, 3(2), 196–211. https://ejournal.alfarabi.ac.id/index.php/jos/article/view/431/211