ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 38 Juli 2025
Psikologi (Masih) Milik Barat? Saatnya Majority World Bicara
Oleh:
Stefani Nugroho
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Yuk, kita lakukan eksperimen kecil!
Ambil buku psikologi yang paling dekat dengan Anda sekarang. Buka salah satu babnya dan cari kutipan pertama yang merujuk pada sebuah penelitian. Silakan telusuri lebih lanjut: Siapa penelitinya? Di mana studi itu dilakukan? Siapa respondennya? Kalau dugaan saya benar, besar kemungkinan Anda akan menemukan nama peneliti dari universitas di Amerika atau Eropa, dan partisipannya adalah para mahasiswa di sana. Benarkah?
Ini bukan kebetulan. Meski psikologi mengklaim sebagai ilmu tentang perilaku manusia, khasanah pengetahuannya berasal dari data yang diambil dari populasi yang sangat terbatas. Henrich et al (2010) menjuluki kelompok ini sebagai WEIRD: Western, Educated, Industrialized, Rich, and Democratic. Ini mengacu pada Amerika Utara, Eropa, Australia, dan negara-negara yang biasanya kita kategorikan sebagai “Barat”. Populasi kelompok WEIRD hanyalah 12% dari total populasi dunia. Dengan kata lain, 88% atau yang juga dijuluki “Majority World” oleh aktivis Bangladesh, Shahidul Alam(2008), tidak terwakili dalam ilmu psikologi meskipun pengetahuan yang diperoleh dari 12% tetap diberlakukan kepada mereka.
Ketimpangannya luar biasa. Sebuah kajian menunjukkan bahwa antara tahun 2003 hingga 2017, sebanyak 96% data penelitian psikologi berasal dari populasi WEIRD, atau dengan kata lain, data dari Majority World hanya berjumlah 4%. Satu dekade kemudian, angkanya hanya naik sedikit menjadi 5% (Thalmayer et al., 2021). Seiring dengan itu, jumlah akademisi dari Majority World yang menduduki posisi strategis dalam proses penelitian pun sangat sedikit. Studi Thalmayer juga menunjukkan bahwa mayoritas penulis pertama dalam jurnal-jurnal psikologi ternama berasal dari universitas di negara-negara Barat. Bahkan penelitian-penelitian tentang Majority World pun ternyata tidak melibatkan akademisi lokal dari negara tersebut. Ini terjadi pada 80% dari artikel tentang Majority World yang dimuat di jurnal Psychological Science antara 2020-2022 (Singh, 2022).
Neokolismekah ini?
Dengan kata lain, arah dan isi ilmu psikologi masih didominasi negara Barat. Ini bentuk neokolonialisme dimana dominasi terjadi bukan lewat penjajahan wilayah tapi dalam ranah-ranah yang sifatnya lebih abstrak. Dalam konteks ilmu psikologi, maka dominasi terjadi lewat pengetahuan tentang perilaku manusia, termasuk batasan mana yang “normal” dan “ tidak normal”. Apa dampak dari ketimpangan ini? Setidaknya ada dua. Pertama adalah bahwa hal-hal yang dianggap sebagai fenomena universal, ternyata tidaklah demikian. Fenomena seperti persepsi visual, rasa keadilan dan koperasi atau kognisi spasial (Heinrich et al, 2010) ternyata tidak universal.
Kedua, banyak intervensi psikologi—termasuk bantuan kemanusiaan—disusun berdasarkan asumsi dari masyarakat Barat. Misalnya setelah tsunami 2004 di Sri Lanka, para ahli kesehatan mental dari AS datang dengan ekspektasi bahwa akan terjadi lonjakan PTSD, depresi, dan bunuh diri. Mereka datang siap dengan strategi pemulihan khas Barat seperti terapi kelompok dan konseling individual. Namun, kenyataannya berbeda: tidak ada peningkatan signifikan kasus-kasus tersebut. Banyak korban justru mengandalkan ajaran agama yang menekankan penerimaan dan ketabahan. Pendekatan berdasarkan penelitian masyarakat WEIRD ini malah menjadi bumerang dan menimbulkan masalah karena tidak sensitif terhadap struktur sosial seperti kasta, kelas sosial, dan agama, serta mendorong ekspresi emosi yang tak sesuai budaya setempat (Christopher et al., 2014).
Dampak ketiga adalah terhapusnya pengalaman psikologis berbagai kelompok yang termasuk Majority World. Seiring dengan sedikitnya representasi Majority World dalam penelitian-penelitian psikologi, semakin sedikit pula kita mengetahui fenomena-fenomena psikologis yang terjadi dan dialami di sini. Bukan hanya itu, kita bahkan tidak tahu bahwa kita tidak tahu (unknown unknown), dan tentu sangat sulit untuk meneliti sesuatu yang kita bahkan tidak sadari bahwa kita belum tahu. Ini yang menyebabkan banyak penelitian yang dilakukan di Majority World masih sekadar “copy-pasting” fenomena dari penelitian di WEIRD (Hansen & Heu, 2020) dan bukan berangkat dari fenomena lokal.
Lantas apa yang harus dilakukan?
Untuk mengubah dominasi masyarakat WEIRD butuh strategi tertentu. Satu strategi penting adalah memosisikan diri sebagai perwakilan Majority World dan bekerja sama dengan mitra internasional yang, tak bisa dipungkiri, memiliki sumber daya pendukung penelitian lebih banyak dan kuat dibandingkan kebanyakan peneliti di Majority World.
Sekadar berkolaborasi pun tak cukup. Dalam kolaborasi ini, suara kita perlu terdengar karena kita lah yang tahu tentang budaya, struktur sosial, serta konteks lokal lainnya yang memengaruhi perilaku individu.
Pendekatan emic, dimana peneliti mengambil sudut pandang anggota kelompok yang diteliti, dapat membantu supaya kita tidak sekadar menempelkan konstruk dari masyarakat WEIRD tanpa mempertimbangkan relevansinya dalam konteks lokal. Sebagai perwakilan dari Majority World, kita perlu memastikan bahwa formulasi konstruk serta alat dan proses pengambilan data sensitif terhadap budaya lokal. Jika kita merasa kurang memahami keadaan setempat, tak ada salahnya untuk menengok penelitian-penelitian yang sudah dilakukan di bidang ilmu lain, seperti misalnya antropologi.
Selain itu, saat bekerja sama dengan mitra internasional, kita perlu berperan lebih dari sekadar “pengambil data” dan memastikan bahwa nama kita tercantum sebagai pengarang di artikel yang dipublikasikan. Dalam kolaborasi internasional, penting untuk berdiri setara sejak awal: kepemilikan data dan urusan authorship harus dibicarakan secara transparan.
Selanjutnya, mulailah untuk menjalin kolaborasi antar negara Majority World, atau yang juga dikenal sebagai “South-to-South collaboration”. Kolaborasi dengan sesama negara non-Majority World mengikis praktek neokolonial dalam membangun ilmu psikologi.
Berbagai kesamaan historis dan struktural dapat membuka jalan untuk mulai memformulasikan konsep-konsep psikologis yang bersumber pada penghayatan kehidupan di Majority World yang beragam. Institusi seperti The Busara Lab (badan penelitian ilmu perilaku yang berpusat di Nairobi dan memiliki cabang di India, Kenya, dan Etiopia), Asia Pacific Psychology Alliance, atau proyek-proyek psikologi ulayat di berbagai wilayah, termasuk Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, dapat menjadi alternatif untuk perlahan membangun psikologi yang tidak terpusat pada masyarakat WEIRD.
Referensi:
Alam, S. (2008). Majority World: Challenging the West’s Rhetoric of Democracy. Amerasia Journal, 34(1), 88–98. https://doi.org/10.17953/amer.34.1.l3176027k4q614v5
Christopher, J. C., Wendt, D. C., Marecek, J., & Goodman, D. M. (2014). Critical cultural awareness: Contributions to a globalizing psychology. American Psychologist, 69(7), 645–655. https://doi.org/10.1037/a0036851
Hansen, N., & Heu, L. (2020). All Human, yet Different: An Emic-Etic Approach to Cross-Cultural Replication in Social Psychology. Social Psychology, 51(6), 361–369. https://doi.org/10.1027/1864-9335/a000436
Henrich, J., Heine, S. J., & Norenzayan, A. (2010). The Weirdest People in the World? Working Paper Series. www.germandataforum.de
Singh, L. (2022). Navigating equity and justice in international collaborations. Nature Reviews Psychology, 1(1), 372–373.
Thalmayer, A. G., Toscanelli, C., & Arnett, J. J. (2021). The neglected 95% revisited: Is American psychology becoming less American? American Psychologist, 76(1), 116–129. https://doi.org/10.1037/amp0000622