ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 38 Juli 2025

Gig Economy dan Self-Leadership: Strategi Gen Z Mewujudkan Kesehatan Mental dan Daya Juang

Oleh:

Ade Ubaidah

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana Jakarta

Fiverr pada Febuari 2024, platform freelance global, sebanyak 70% Gen Z di seluruh dunia menyatakan bahwa mereka menganggap freelancing sebagai pilihan karir yang layak seperti pekerjaan kantoran tradisional. Hal ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi karir generasi muda, dengan semakin banyak yang memilih fleksibilitas dan otonomi yang ditawarkan oleh pekerjaan freelance. Hasil survei Populix bertajuk The Future of Work: Freelancing in Indonesia 2023 menyebutkan, sekitar 58 persen Gen Z di Indonesia tertarik menjalani pekerjaan freelance karena dinilai lebih fleksibel dan bisa menentukan ritme kerja sendiri. Dengan perubahan aktivitas digital yang semakin meningkat. Kondisi tersebut menjadi pilihan yang realistis dengan perkembangan situasi ekonomi global yang juga memasuki era ekonomi gig. Gig ekonomi merupakan system kerja yang mengandalkan kontrak jangka pendek, pekerjaan lepas, dan proyek sementara yang biasanya difasilitasi platform digital. Dengan semakin maraknya platform digital seperti, Grab, Gojek, Upwork, Fiverr seseorang dapat menawarkan keterampilan mereka pada audiens yang lebih luas tanpa batasan geografis.  Meskipun fleksibilitas menjadi daya tarik utama, gig worker sering menghadapi kendala seperti ketidakpastian pendapatan, tekanan untuk terus produktif, dan tidak adanya supervisi eksternal  yang dapat berdampak pekerja gig berisiko kehilangan arah, motivasi, serta pengelolaan waktu dan tujuan. Tanpa pengelolaan diri yang baik, kebebasan ini bisa menjadi beban. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya pengembangan kompetensi self-leadership pada generasi Z sebagai pekerja gig, dengan menyoroti bagaimana strategi-strategi self-leadership dapat mendukung keberhasilan dan kesejahteraan kerja mereka dalam lanskap ekonomi digital yang dinamis."

Pentingnya pengembangan Self Leadership Bagi Gen Z sebagai Gig Worker

Salah satu jenis pekerjaan yang tumbuh berkembang di era digitalisasi saat ini adalah yang dikenal gig ekonomi atau pekerjaan digital, pekerjaan online, outsourcing online, crowdwork dan pekerjaan digital di seluruh benua ( Anwar & Graham, 2021). Sedang istilah bagi pekerja digital dikenal dengan istilah gig worker. Gig worker merujuk pada pekerja yang mandiri, pekerja lepas, pekerja sementara, yang mengarah pada status sebagi pekerja mandiri.  McKinsey Global Institut menjelaskan 3 karakteristik utama gig worker yaitu otonomi, hubungan jangka pendek antara pekerja dan Perusahaan, pembayaran berdasarkan tugas. Beberapa hal menarik yang dimiliki gig worker terkait efisiensi dan adaptabilitas, pengurangan biaya tetap, serta inovasi dan kreativitas. Selain efisiensi dan kreativitas, banyak gig worker—terutama generasi Z—memilih jalur ini karena menginginkan fleksibilitas, kebebasan dari struktur organisasi yang kaku, serta kemampuan untuk menyesuaikan pekerjaan dengan gaya hidup mereka (Kässi & Lehdonvirta, 2018).

Namun, fleksibilitas kerja yang tinggi juga dapat menjadi pedang bermata dua. Ketika tidak ada struktur kerja yang mengatur secara eksternal, maka kendali terhadap arah kerja, motivasi, dan manajemen waktu seluruhnya berpindah ke tangan individu itu sendiri. Dalam konteks ini, self-leadership menjadi kompetensi kunci bagi gig worker untuk menjaga keberlanjutan kerja, produktivitas, dan kesejahteraan psikologis.

Self-leadership adalah proses memengaruhi diri sendiri untuk membangun arahan diri dan motivasi diri yang dibutuhkan untuk berkinerja. Self-leadership berfokus pada kemandirian dan pengelolaan diri sendiri, berlawanan dengan pandangan konvensional bahwa produktivitas bergantung pada kontrol dari atasan. Nilai utama self-leadership mencakup otonomi, penetapan tujuan, evaluasi diri, serta penyesuaian perilaku dan sikap (Manz, 2015; Manz & Sims, 1986).Self-leadership juga mencakup penggunaan tiga jenis strategi utama yaitu behavior-focused strategies (strategi fokus perilaku), Natural reward strategies (strategi penghargaan alami), dan Constructive thought pattern strategies (strategi pola pikir konstruktif).

Ketika strategi-strategi ini diterapkan secara konsisten, self-leadership tidak hanya mendorong produktivitas kerja, tetapi juga memperkuat kesehatan mental melalui peningkatan kontrol diri, perasaan bermakna, dan kemampuan mengelola tekanan kerja. Sebaliknya, rendahnya self-leadership dapat membuat gig worker terjebak dalam siklus prokrastinasi, kelelahan digital, dan stres akibat batas kerja yang kabur.Gig worker yang mampu memimpin dirinya sendiri akan lebih mampu menetapkan ritme kerja yang sehat, menjaga waktu istirahat, serta menyeimbangkan produktivitas dengan pemulihan. Hal ini sangat penting dalam lingkungan kerja tanpa batas dan tekanan performa tinggi khas gig economy (Houghton et al., 2012; Wood et al., 2019). Dengan demikian, dalam menghadapi ekosistem kerja yang menuntut fleksibilitas tinggi dan tanggung jawab individu yang besar, self-leadership berfungsi sebagai fondasi keberhasilan dan pelindung keseimbangan hidup bagi gig worker, khususnya generasi Z yang semakin aktif dalam lanskap digital ini.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Perkembangan gig economy menjadi alternatif karier yang semakin populer di kalangan generasi Z. Fleksibilitas dan kebebasan yang ditawarkan menjadi daya tarik utama, namun sekaligus membawa tantangan baru terkait manajemen diri, keberlanjutan kerja, dan keseimbangan hidup. Dalam ekosistem kerja yang cair dan tanpa struktur tetap, kemampuan untuk memimpin diri sendiri menjadi kebutuhan mendasar.

Self-leadership memainkan peran sentral dalam membantu gig worker menetapkan tujuan, menjaga motivasi intrinsik, dan mengelola tekanan kerja. Strategi-strategi yang terkandung dalam self-leadership seperti pengaturan perilaku, pemberian penghargaan alami, serta pengelolaan pola pikir, dapat menjadi alat bantu penting untuk menjaga produktivitas sekaligus kesejahteraan mental. Tanpa penguatan self-leadership, fleksibilitas gig economy dapat menjadi jebakan yang justru menurunkan performa dan merusak kesehatan psikologis pekerja. Oleh karena itu, kompetensi ini tidak hanya penting secara profesional, tetapi juga secara personal bagi keberlangsungan kerja jangka panjang para gig worker muda. Berikut adalah rekomendasi bagi penguatan self-leadership gen Z  sebagai gig worker muda

  1. Pendidikan tinggi dan pelatihan vokasional sebaiknya mulai menyisipkan modul self-leadership untuk mempersiapkan lulusan menghadapi dunia kerja fleksibel.
  2. Platform digital penyedia kerja gig perlu menyediakan fitur-fitur dukungan yang mendorong refleksi diri dan manajemen waktu.
  3. Gig worker sendiri perlu mengembangkan kesadaran metakognitif, yakni mengenali kekuatan dan kelemahan pribadi, serta merancang sistem kerja yang sesuai dengan ritme dan kapasitas diri.
  4. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi hubungan antara self-leadership dengan dimensi kesehatan mental dan produktivitas dalam berbagai bidang gig economy.

Daftar Pustaka

 

 

Alvitara, R. (2025, April 25). Freelance jadi pilihan favorit Gen Z sekarang. RRI.co.id. https://www.rri.co.id/lain-lain/1473439/freelance-jadi-pilihan-favorit-gen Z sekarang

Anwar, M. A., & Graham, M. (2021). Digital labour at economic margins: African workers and the global gig economy. Springer.

Browning, M. (2018). Self-leadership: Why it matters. International Journal of Business and Social Science, 9(2), 14–18.

Houghton, J. D., Dawley, D., & DiLiello, T. C. (2012). The abbreviated self-leadership questionnaire (ASLQ): A more concise measure of self-leadership. International Journal of Leadership Studies, 7(2), 216–232.

Kässi, O., & Lehdonvirta, V. (2018). Online labour index: Measuring the online gig economy for policy and research. Technological Forecasting and Social Change, 137, 241–248.

Manz, C. C. (2015). Taking the self-leadership high road: Smooth surface or potholes ahead? Academy of Management Perspectives, 29(1), 132–151.

Manz, C. C., & Sims, H. P. (1986). Self-leadership: Toward an expanded theory of self-influence processes in organizations. Academy of Management Review, 11(3), 585–600.

McKinsey Global Institute. (2016). Independent work: Choice, necessity, and the gig economy. McKinsey & Company.

Neck, C. P., & Houghton, J. D. (2006). Two decades of self-leadership theory and research. Journal of Managerial Psychology, 21(4), 270–295.

Pau, A. I. K. (2024, Juni 2). Survei terbaru: Gen Z memilih jadi pekerja lepas. RRI.co.id. https://www.rri.co.id/bisnis/731513/survei-terbaru-gen-z-memilih jadi pekerja-lepas

Populix. (2023). The Future of Work: Freelancing in Indonesia.

Wood, A. J., Graham, M., Lehdonvirta, V., & Hjorth, I. (2019). Good gig, bad gig: Autonomy and algorithmic control in the global gig economy. Work, Employment and Society, 33(1), 56–75.