ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 31 April 2025
Tenda:
Aplikasi Untuk Meningkatkan Self-Compassion Individu Pada Masa Emerging Adulthood
Oleh:
Winston Lovevinzy Kakampu*
Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Satya Wacana
*Pemenang PsychoPaper Psychology Village 16 Tingkat Mahasiswa yang diadakan oleh Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
Masa emerging adulthood adalah fase transisi yang menghubungkan antara masa remaja dengan masa dewasa. Pada fase ini, individu mengalami perubahan signifikan dalam aspek kognitif, emosional, fisik, dan sosial melalui tugas perkembangan penting, seperti melepaskan ketergantungan pada keluarga, menemukan identitas profesional, dan membangun hubungan romantis yang sehat (Arnett, 2000). Tugas-tugas ini sejatinya bertujuan untuk mematangkan individu menuju kedewasaan yang lebih baik. Namun terkadang, semua tugas ini justru kurang dapat dihadapi dengan baik oleh individu, yang berpotensi menjadi rintangan yang menghalangi perkembangan dan menggiring individu pada kondisi kebingungan dan ketidakpastian. Kondisi kegamangan ini akhirnya menciptakan berbagai masalah kesehatan mental yang saat ini tengah menjadi salah kajian utama di Indonesia (Kaligis dkk., 2021). Berdasarkan data hasil survei badan kebijakan pembangunan kesehatan (2023), ada sekitar 2% populasi dari individu usia 15-24 tahun yang mengalami depresi. Lebih lanjut lagi, data dari Pusiknas Polri menyatakan bahwa dalam rentang bulan Januari sampai Agustus 2024, sudah ada 852 kasus bunuh diri di Indonesia dengan presentase umur 17-25 tahun sebesar 8,8%. Berdasarkan kondisi ini, dapat dipahami bahwa gambaran kondisi kesehatan mental di masa emerging adulthood sungguh sangat memprihatinkan. Sebenarnya apa dan bagaimana cara mengatasi hal ini?
Dalam menentukan penyebab masalah kesehatan mental, ada begitu banyak faktor yang berperan, mulai dari warisan genetik, biologis, psikologis, sampai sisi sosial (Pratiwi & Rusinani, 2022). Sehingga, perlu analisis yang mendalam untuk dapat menentukan faktor penyebab utamanya. Namun, jika dipahami dengan baik, akan ditemukan suatu kesamaan bahwa semua individu yang mengalami kondisi ini, sering kali terjebak dalam suatu kegelapan yang menutupi “cahaya” harapan, hingga mereka seolah tak lagi memiliki arah hidup (Gallagher dkk, 2020). Dengan demikian, penanganan kondisi ini harus berfokus untuk membantu individu menemukan kembali kunci untuk melihat “cahaya” tersebut, dan salah satu kuncinya adalah dengan mengembangkan self-compassion (Brown dkk., 2018). Self-compassion adalah kemampuan untuk bersikap baik pada diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan menghadapi tantangan tanpa terlalu keras menghakimi diri (Neff, 2003). Bagi individu, peningkatan self-compassion menjadi hal yang sangat penting karena seringnya mereka berkonflik dengan berbagai emosi negatif serta kritik berlebihan terhadap diri sendiri. Dengan berlatih self-compassion, individu bisa mengakui penderitaannya tanpa terjebak pada kritik diri yang merusak, sekaligus mengubah emosi negatif yang muncul menjadi positif (Amaliyah, 2023). Cara ini juga membantu individu menerima kondisinya sekarang dan mempercepat proses penyelesaian masalahnya. Dalam pengembangan self-compassion, sejatinya setiap individu terlebih yang mengalami masalah kesehatan mental perlu untuk mendapatkan bimbingan dan arahan dari profesional. Namun, belum meratanya sebaran psikolog ataupun psikiater di Indonesia menyebabkan hal ini kemungkinan besar masih sulit dilaksanakan. Oleh karena itu, peningkatan self-compassion perlu menggunakan cara lain, salah satunya adalah dengan penggunaan aplikasi mobile. Tujuan pengembangan aplikasi sebagai sarana peningkatan self-compassion didasari oleh analisis bahwa penggunaan smartphone sekarang telah menjadi kebutuhan pokok semua orang, tak terkecuali untuk individu dalam masa emerging adulthood (Putra & Wati, 2021). Sehingga, diharapkan aplikasi ini dapat membantu individu untuk mengembangkan self-compassion secara mandiri.
Aplikasi untuk meningkatkan self-compassion pada individu di masa emerging adulthood diberi nama Tenda (Tentram dan Damai). Pemilihan nama ini disesuaikan dengan kondisi individu dengan self-compassion tinggi yang identik dengan kedamaian dan ketentraman (Philips, 2018). Pembuatan berbagai fitur yang ada pada aplikasi ini juga didasarkan pada 3 dimensi utama dari self-compassion, yaitu self-kindness, common humanity, dan mindfulness (Neff, 2003). Fitur dalam aplikasi ini dirancang untuk membantu pengguna agar dapat memahami diri lebih dalam dengan cara menerima semua kekurangan, serta meningkatkan empati terhadap orang lain dan diri sendiri.
Fitur pertama yang dimiliki oleh aplikasi ini adalah mirror affirmation. Fitur ini dijalankan dengan cara meminta pengguna untuk mengucapkan berbagai kalimat yang mengandung afirmasi positif. Hal ini dimaksudkan agar pengguna dapat mengembangkan self-kindness yang merupakan bentuk simpati terhadap diri ketika mengalami kesulitan dan kegagalan, sehingga pengguna bisa memberikan respon ramah pada dirinya, ketimbang marah dan menyalahkan diri habis-habisan (Neff, 2003; Shin & Lim, 2018). Selain itu, pada bagian tengah aplikasi akan otomatis terakses kamera selfie yang akan memunculkan wajah dari pengguna, dengan tujuan untuk memperkuat hubungan antara kalimat yang diucapkan dengan ekspresi wajah yang akan mempengaruhi suasana hati dan emosional.
Fitur kedua yaitu community sharing, yang mengajak pengguna untuk berbagi seputar kondisi diri mereka secara anonim pada komunitas, dan nantinya juga akan mendapatkan respon balik dari anggota komunitas lainnya. Melalui fitur ini, pengguna diajak untuk mengembangkan salah satu dimensi common humanity dengan menyadari bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan, karena orang lain pun mengalami kondisi yang sama (Neff, 2003; Ling dkk., 2021). Hal ini membantu mengurangi perasaan terisolasi dan meningkatkan dukungan sosial yang membuat pengguna merasa lebih diterima dan terhubung dengan sesama dalam komunitas.
Fitur yang ketiga adalah body scan awareness. Sesi fitur ini dimulai dengan latihan pernapasan singkat untuk membantu pengguna menenangkan pikiran dan meningkatkan fokus. Kemudian melalui panduan suara, pengguna diajak untuk mengarahkan perhatian pada setiap bagian tubuhnya tanpa menghakimi sensasi apapun yang muncul, baik itu kenyamanan, ketegangan, maupun kehampaan. Fitur ini berfokus untuk mengembangkan dimensi mindfulness yang membantu individu untuk menerima dan mengakui dirinya serta semua pengalaman baik buruknya seperti apa adanya, dalam artian tidak dilebih-lebihkan atau dikurangi sehingga mampu menghasilkan respon yang obyektif (Neff, 2003).
Penggunaan aplikasi untuk meningkatkan self-compassion memang belum banyak dilakukan sebelumnya. Namun, jika melihat pengembangan aplikasi psikologis lainnya, maka intervensi kesehatan mental berbasis teknologi semakin terbukti efektif dan relevan saat ini. Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Priharsanto dan Ajhari (2024) melalui aplikasi Hugme, serta penelitian Hafidz dkk., (2024) dengan aplikasi Mentalcare. Kedua penelitian ini menunjukkan bahwa fungsionalitas dan kinerja aplikasi mereka berhasil memenuhi target partisipan dan memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis penggunanya. Sehingga, aplikasi Tenda diharapkan akan memberikan dampak positif serupa dengan membantu pengguna mengembangkan self-compassion. Pada akhirnya, pengembangan self-compassion menjadi kunci penting bagi individu dimasa emerging adulthood untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Melalui aplikasi Tenda, diharapkan pengguna dapat mengenali, menerima, dan merangkul diri mereka dengan kasih sayang, karena “luka tak selalu butuh disembuhkan dengan kekuatan. Terkadang, cinta dan penerimaanlah yang membuat kita utuh kembali.”
“Selamat Meneduh."
Daftar Pustaka:
Amaliyah, A. (2023). The effect of self-compassion on depression tendencies with stress as a mediator in patients with type 2 diabetes mellitus. Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin.
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2023). Survei kesehatan indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Brown, L., Huffman, J., & Bryant, C. (2018). Self-compassionate aging: A systematic review.. The Gerontologist, 9, 58-90.
Gallagher, M., Long, L., Richardson, A., D’Souza, J., Boswell, J., Farchione, T., & Barlow, D. (2020). Examining hope as a transdiagnostic mechanism of change across anxiety disorders and cbt treatment protocols. Behavior therapy, 51(1), 190-202.
Hafidz, H., Al Huda, F., & Kharisma, A. P. (2024). Pengembangan aplikasi edukasi kesehatan mental berbasis progressive web app. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer, 8(8).
Kaligis, F., Ismail, R., Wiguna, T., Prasetyo, S., Indriatmi, W., Gunardi, H., Pandia, V., & Magdalena, C. (2021). Mental Health Problems and Needs among Transitional-Age Youth in Indonesia. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18.
Ling, D., Petrakis, M., & Olver, J. (2021). The use of common humanity scenarios to promote compassion in healthcare workers. Australian Social Work, 74, 110 - 121.
Neff, K. D. (2003). The development and validation of a scale to measure self-compassion. Self and identity, 2(3), 223-250.
Phillips, W. J. (2018). Future-outlook mediates the association between self-compassion and well-being. Personality and Individual Differences, 135, 143-148.
Pratiwi, K., & Rusinani, D. (2022). Literatur review: Gangguan mental depresi pada wanita. Jurnal Ilmu Kebidanan, 10(3), 103-110.
Priharsanto, A. S., & Ajhari, A. A. (2024). Pengembangan aplikasi kesehatan mental berbasis kotlin: Studi kasus aplikasi Hugme. Jurnal Kajian Teknik Elektro, 9(2), 102-108.
Putra, M. S., & Rahmawati, Y. (2021). Pengembangan aplikasi psikologi remaja berbasis android. Jurnal Pendidikan, 9(1), 86-98.
Shin, N. Y., & Lim, Y. J. (2019). Contribution of self‐compassion to positive mental health among Korean university students. International Journal of Psychology, 54(6), 800-806.