ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 31 April 2025
Antara Validasi dan Produktivitas:
Bagaimana Media Sosial Membentuk Motivasi Kerja Generasi Z
Oleh:
Sonya Maranatha Sagala
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Saat ini yang mendominasi dunia kerja adalah generasi Z. Menurut data terkini, Generasi Z merupakan mereka yang lahir antara tahun 1997–2012 merupakan kelompok usia dominan di Indonesia saat ini, dengan populasi hampir 75 juta atau sekitar 28% dari populasi (GoodStats, 2024). Generasi ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi lainnya. Menurut Wijoyo, dkk (2020), Generasi Z dikenal dengan kemampuannya dalam mengoperasikan teknologi, interaksi sosial yang intens, serta kecenderungan mengekspresikan diri dengan berbagai cara dan melakukan beberapa aktivitas secara bersamaan.
Generasi Z sering menggunakan platform digital sebagai sumber utama untuk mendapatkan informasi terkini yang sedang tren. Tren bekerja sesuai passion kerap dibicarakan di kalangan Generasi Z yang menganggapnya sebagai faktor penting dalam menentukan pilihan karir mereka (Octavia & Sari, 2024). Bagi generasi Z, media sosial memegang pengaruh besar untuk memperkuat motivasi ekstrinsik mereka. Standar sosial yang tinggi dan kebutuhan akan validasi digital kerap kali membuat mereka bekerja bukan semata-mata karena minat, passion atau kepuasan pribadi, tetapi karena dorongan untuk memperoleh pengakuan, penghargaan atau agar tetap eksis di media sosial. Motivasi Generasi Z terdorong bekerja karena dorongan internal (passion) atau eksternal (likes, komentar dan pengakuan).
Fenomena ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Deci & Ryan (1985) yang menyatakan bahwa motivasi kerja dapat dibagi menjadi dua yaitu Motivasi intrinsik merupakan dorongan yang muncul dari dalam diri seseorang, untuk menghadapi tantangan untuk mengeksplorasi hal baru, dan memperoleh pengetahuan tanpa dipengaruhi oleh tekanan atau imbalan dari luar. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik merujuk pada perilaku yang dilakukan demi mencapai tujuan tertentu di luar aktivitas itu sendiri. Faktor yang mendorong bisa berupa penghargaan, hukuman, tekanan sosial, atau tuntutan eksternal lainnya. Self-Determination Theory (SDT) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal seperti kebutuhan, nilai, dan emosi serta faktor eksternal, termasuk lingkungan, penghargaan, dan hubungan sosial (Deci & Ryan, 1985).
Di era persaingan dunia kerja yang semakin ketat, media sosial telah berkembang menjadi ruang untuk membangun citra profesional dan membuktikan kompetensi yang dimiliki seseorang. Zaman yang serba digital, interaksi seperti likes, komentar, dan share telah menjadi mekanisme penting yang memengaruhi cara Generasi Z mencari pengakuan dan membangun identitas mereka.Namun, disisi lain media sosial juga memiliki dampak positif jika dimanfaatkan dengan benar. Selain alat untuk sebagai validasi, media sosial dapat menjadi sarana untuk belajar, berkembang dan membangun koneksi profesional. Dengan menggunakan platform terutama LinkedIn secara strategis, Generasi Z dapat mengembangkan jaringan yang lebih luas untuk perkembangan karir mereka.
Terlalu mengandalkan validasi dari media sosial dapat menyebabkan efek jangka panjang seperti kelelahan emosional dan burnout, terutama karena tekanan untuk selalu menampilkan sisi terbaik diri di ruang digital. Generasi Z mungkin dapat mengalami kecemasan ketika respon terhadap prestasi mereka tidak seperti yang diharapkan, sehingga mereka lebih fokus pada citra yang mereka bangun daripada pengembangan profesional mereka yang sebenarnya. Selain Itu, mengandalkan validasi sosial dapat mempengaruhi kesejahteraan mental. Perasaan rendah diri atau tidak cukup sukses dapat muncul ketika membandingkan diri dengan rekan yang tampaknya lebih sukses di media sosial. Akibatnya, hal ini dapat mengurangi rasa percaya diri dan kepuasan kerja Generasi Z.
Agar tidak terjebak dalam validasi eksternal, Generasi Z harus mengembangkan motivasi yang datang dari dalam, misalnya dengan mengeksplorasi makna yang lebih dalam dari setiap aktivitas kerja dan menetapkan tujuan pribadi, daripada sekadar mengejar pengakuan dari orang lain. Mereka juga perlu mengatur ekspektasi terhadap media sosial, dengan melihatnya sebagai alat untuk networking dan inspirasi, bukan sebagai satu-satunya tolak ukur kesuksesan mereka. Selain itu, fokus pada pengembangan keterampilan dan pertumbuhan pribadi dapat membantu mereka bekerja sesuai dengan jati dirinya tanpa merasa perlu membuktikan diri kepada orang lain. Dengan keseimbangan ini, Generasi Z dapat menjalankan karir mereka yang lebih sekat, di mana produktivitas tidak lagi bergantung pada validasi eksternal, tetapi pada kepuasan diri dan makna yang mereka temukan dalam pekerjaan.
Referensi:
Goodstats. (2424). Sensus BPS: Saat Ini Indonesia Didominasi Oleh Gen Z. https://data.goodstats.id/statistic/sensus-bps-saat-ini-indonesia-didominasi-oleh-gen-z-n9kqv
Octavia, S., & Sari, W. P. (2024). Persepsi Generasi Z dengan Pernyataan “Kerja Sesuai Passion” dalam Menentukan Profesi. Koneksi, 8(1), 25–33. https://doi.org/10.24912/kn.v8i1.21659
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
Wijoyo, H., dkk (2020). Generasi Z & Revolusi Industri 4.0. Pena Persada. https://www.researchgate.net/publication/343416519_GENERASI_Z_REVOLUSI_INDUSTRI_40