ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 28 Februari 2025
Schadenfreude dalam Media Sosial: Manifestasi, Dasar Psikologis, dan Implikasinya terhadap Hubungan Sosial
Oleh:
Nurul Adiningtyas
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Schadenfreude, istilah dalam bahasa Jerman yang berarti "kesenangan atas penderitaan orang lain," menggambarkan rasa senang yang muncul akibat kemalangan orang lain. Meskipun emosi ini dapat muncul dalam berbagai situasi, emosi ini menjadi sangat menonjol di era digital, khususnya di platform media sosial. Media sosial memperkuat respons emosional ini karena sifat konten yang dibagikan secara instan dan seringnya kegagalan pribadi atau kolektif terungkap ke publik. Dari sudut pandang psikologis, schadenfreude dapat dipahami sebagai pengalaman emosional individu dan kolektif, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor kognitif, sosial, dan emosional.
Berdasarkan penelitian, schadenfreude dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis utama: Kompensasi, Identifikasi, Aversi, dan Ketidakadilan (Ceron et al., 2020).
- Schadenfreude Kompensasi terjadi ketika seseorang merasa senang atas kemalangan orang yang pernah menyakitinya.
- Schadenfreude Identifikasi muncul ketika seseorang merasa terhubung dengan penderitaan korban, karena mengalami hal serupa.
- Schadenfreude Aversi terjadi ketika kemalangan menimpa individu yang dianggap negatif atau merugikan.
- Schadenfreude Ketidakadilan dipicu ketika seseorang merasa bahwa kemalangan yang dialami orang lain adalah bentuk hukuman yang adil atas tindakan tidak adil yang dilakukan (Ceron et al., 2020).
Media sosial menjadi tempat yang potensial bagi ekspresi emosi ini, karena pengguna sering mengomentari dan membagikan pengalaman yang memunculkan schadenfreude.
Leon Festinger (dalam Powdthavee, 2014) melalui teori perbandingan sosial menyatakan bahwa individu mengevaluasi pendapat, nilai, pencapaian, dan kemampuan mereka sendiri melalui perbandingan masing-masing dengan pendapat, nilai, pencapaian, dan kemampuan orang lain. Media sosial sering kali memicu perbandingan sosial, karena pengguna menampilkan versi diri mereka yang ideal, yang menyebabkan perasaan iri dan rendah diri pada orang lain. Namun, schadenfreude dapat muncul ketika individu menganggap kemalangan orang lain sebagai cara untuk meningkatkan status atau harga diri mereka sendiri. Melihat kegagalan orang lain dapat membuat indiviud merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri. Kehadiran media sosial yang serba ada telah meningkatkan dampak schadenfreude. Kesalahan selebriti, skandal publik, dan kemunduran politik menjadi santapan untuk hiburan dan ejekan yang meluas. Anonimitas yang ditawarkan oleh platform media sosial memungkinkan individu untuk mengekspresikan dan memanjakan diri dalam schadenfreude tanpa menghadapi konsekuensi langsung. Anonimitas ini, dikombinasikan dengan tingkat keviralan konten, berkontribusi pada penyebaran dan konsumsi pengalaman schadenfreude yang cepat, menciptakan siklus validasi dan penghargaan. Platform media sosial berkembang pesat pada kepuasan instan, dan schadenfreude selaras dengan budaya ini (Mezolani, 2024).
Platform media sosial seperti Facebook, X (sebelumnya dikenal sebagai Twitter), dan Instagram memfasilitasi penyebaran informasi dan emosi secara cepat. Pengguna sering terlibat dalam "hate-following," yaitu mengikuti individu atau kelompok tertentu bukan karena menyukai mereka, tetapi karena rasa iri atau kebencian. Hal ini dapat meningkatkan rasa schadenfreude ketika orang atau kelompok tersebut mengalami kesulitan (Yusainy et al., 2023). Perilaku ini menunjukkan adanya dualitas emosi di mana rasa iri dan schadenfreude dapat saling mempengaruhi dan membentuk interaksi pengguna di dunia maya.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap konten negatif dapat meningkatkan respons emosional negatif pada penontonnya, sehingga menciptakan siklus di mana schadenfreude menjadi semakin umum (Kramer et al., 2012). Efek penularan emosi di media sosial memperburuk perasaan ini; ketika pengguna menemui unggahan negatif, respons mereka juga cenderung menjadi negatif, menciptakan lingkungan yang semakin mendukung munculnya schadenfreude. Ekspresi schadenfreude di media sosial dapat memiliki dampak besar pada hubungan antar individu. Meskipun dapat memberikan kepuasan sementara bagi pengamat, hal ini juga dapat memperburuk dinamika sosial yang toxic. Pengamat mungkin merasa emosinya sah jika mereka menganggap kemalangan tersebut pantas, sehingga memperkuat perpecahan dalam kelompok sosial (Ceron et al., 2020).
Kesimpulan
Schadenfreude merupakan emosi yang kompleks dan berkembang dalam interaksi media sosial. Semakin banyaknya konten yang diunggah dan adanya ekspresi emosi emosional di media sosial, sangat penting untuk memahami mekanisme psikologis di balik schadenfreude untuk menciptakan komunitas di dunia maya yang lebih sehat. Penelitian mengenai fenomena ini serta dampaknya terhadap kesehatan mental harus terus dilakukan terutama dengan semakin berkembangnya pemanfaatan dunia digital dalam dinamika sosial
Referensi
Ceron, A., et al. (2020). Schadenfreude: Malicious Joy in Social Media Interactions. Frontiers in Psychology, 11, 558282. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.558282
Kramer, A. D. I., Guillory, J. E., & Hancock, J. (2012). Emotional Contagion through Social Networks. Proceedings of the National Academy of Sciences, 109(26), 10031-10036
Mezolani, A (2024). The Dark Side of Likes: Schadenfreude and the Social Media. Lampoon 30 the Raw Issue. https://lampoonmagazine.com/article/2024/03/02/schadenfreude-social-media-harm-joy/ Diakses pada 24 Januari 2025
Powdthavee, N. (2014). Social Comparison Theory. In: Michalos, A.C. (eds) Encyclopedia of Quality of Life and Well-Being Research. Springer, Dordrecht. https://doi.org/10.1007/978-94-007-0753-5_2740
Yusainy, C., et al. (2023). When I Hate to Follow You: Hate-Following, Envy, and Schadenfreude on Instagram. Jurnal Psikologi, 30(1), 1-15.