ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 28 Februari 2025
Lembur Terus, “Iya” Terus, dan Kopi Terus:
Sebuah Tantangan Pasar Kerja Generasi Muda di Indonesia
Oleh:
Chrysan Gomargana & Sandra Handayani Sutanto
Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
“Can you take on this project?” Yes. “Can you lead this new initiative?” Absolutely. “Can you organize the team lunch?” Sure.
Yes. Yes. Yes.
Sebuah percakapan yang mungkin terdengar biasa saja, namun, apakah benar pekerja ini memiliki kapasitas untuk menyelesaikan seluruh tugas tersebut? Mengapa ia menjawab “Ya” untuk semua tugas yang diberikan?
Di negara dengan lapangan kerja yang terbatas dan persaingan yang ketat, banyak pekerja Indonesia terjebak dalam siklus overcommitment. Dengan meningkatnya ekspektasi untuk bekerja terus menerus demi keamanan finansial, status yang lebih baik, atau pengakuan di lingkungan sosial, banyak karyawan yang mendorong diri mereka di luar batas dan mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi mereka.
Menurut American Psychological Association (2023), Overcommitment didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang mengambil terlalu banyak tanggung jawab, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi, sehingga melebihi kapasitasnya untuk menyelesaikannya dengan efektif. Hal ini sering kali menyebabkan stres, kelelahan, berkurangnya kualitas hasil kerja dan hubungan sosial serta “Siege” mentality — ketika Anda merasa selalu berada di bawah tekanan yang menyebabkan peningkatan ketegangan dengan orang lain & ketidakpuasan di tempat kerja. (Schaufeli, Bakker, & Van Rhenen, 2009; Tulgan, 2020; Weigelt et al., 2023).
Apakah karyawan baru terluput dari masalah ini?
Para karyawan yang baru memulai karier juga tidak terluput dari siklus overcommitment. Karyawan baru seringkali terjebak dalam pemikiran keliru: Mengambil lebih banyak tugas daripada yang bisa mereka kelola dengan realistis akan membuat mereka terlihat lebih kompeten dan tak tergantikan (Fallacy yang akhirnya membuat individu terus menerus terjebak dalam siklus ini). Mereka merasakan tekanan yang lebih besar untuk membuktikan bahwa mereka layak diterima bekerja karena tingginya persaingan kerja di Indonesia atau membandingkan pencapaian mereka dengan rekan yang lebih berpengalaman. Didorong oleh narasi sosial yang menghubungkan kesibukan dengan kesuksesan, sehingga bekerja berlebihan dianggap sebagai kebajikan serta budaya tempat kerja yang memberi reward pada kerja berlebihan, profesional pemula bisa terjebak dalam siklus terus-menerus mengatakan "Ya" pada segala hal — dengan mengorbankan kesehatan, kreativitas, dan produktivitas jangka panjang mereka (Nagoski & Nagoski, 2020). Hal tersebut tergambar dengan frase lembur terus sehingga membutuhkan kopi lebih banyak sebagai upaya untuk terus berkonsentrasi guna memenuhi komitmen.
Tanda-tanda Anda mengalami siklus overcommitted
Berikut adalah beberapa tanda bahwa Anda mungkin sedang mengalami overcommitment:
Menyetujui permintaan tanpa mempertimbangkan kapasitas Anda
Menghindari prioritas dan menangani hal-hal yang tampak paling mendesak
Sering bekerja hingga larut malam atau di akhir pekan untuk "Mengejar Ketertinggalan"
Bagaimana caranya keluar dari siklus ini?
Overcommitted bisa diselesaikan dengan beberapa hal ini. Pilih satu atau dua langkah yang feasible untuk dilakukan.
Mulailah melakukan evaluasi beban kerja Anda secara teratur. Setiap minggu, tinjau semua tanggung jawab dan komitmen waktu Anda untuk minggu mendatang. Pertimbangkan peluang-peluang yang akan datang dan lihat mana yang realistis untuk masuk ke jadwal Anda serta sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan Anda. Kalender Anda tidak perlu penuh sesak untuk menunjukkan bahwa Anda sudah mencapai kapasitas penuh. Harus ada ruang kosong untuk hal yang mungkin muncul mendadak.
Melakukan pemeriksaan emosi diri secara teratur dapat membantu. Buat refleksi di akhir minggu atau awal minggu lalu tanyakan pada diri sendiri Bagaimana perasaan saya tentang tanggung jawab saya saat ini? (Ini akan menunjukkan apakah Anda merasa bahwa beban kerja Anda seimbang atau merasa kewalahan. Anda juga akan menyoroti bagian dari pekerjaan yang memberi kesenangan bagi Anda, sehingga Anda bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kepuasan di tempat kerja. Bagaimana perasaan saya tentang rekan kerja dan pekerjaan secara umum? (Ini akan membantu mengungkapkan keterikatan emosional Anda dengan pekerjaan. Merasa tidak terhubung atau acuh tak acuh bisa menjadi tanda kurangnya batasa
Komunikasikan kebutuhan Anda, misalnya, Anda bisa mengatakan, “Minggu ini saya fokus untuk menyelesaikan A & B Jika Bapak membutuhkan bantuan untuk proyek lain, saya bisa membantu mulai minggu depan” atau, “Saya sedang mengerjakan A & B selama dua minggu ke depan. Jika Ibu ingin saya melakukannya, apakah Ibu bersedia membantu saya memprioritaskan ulang pekerjaan ini, dan kita bisa mengatur ulang sesuai kebutuhan?”
Terapkan “Decision delay buffer”. Latih diri Anda untuk tidak langsung mengatakan “Ya”. Cobalah frasa seperti "Saya cek jadwal saya sekarang dan saya akan memberi kabar dalam 1 jam" atau "Saya ingin sekali, tapi apakah boleh jika saya memberi tahu Anda besok?" Saat Anda mempertimbangkan permintaan tersebut, ingatlah untuk mengkalkulasikan prioritas dan tenggat waktu Anda saat ini & yang akan datang. Anda mungkin punya waktu minggu ini, tapi bagaimana dengan dua minggu lagi?
Micro-mastery: Kemampuan untuk fokus dalam satu atau dua area kecil tertentu yang memang sesuai dengan peran Anda, daripada mengatakan ya pada semuanya. Tanyakan pada diri Anda ketika Anda ingin mengambil sebuah peluang atau kesempatan pekerjaan baru, Apakah ini membantu membangun keterampilan yang ingin saya kembangkan? Apakah ini memberi hal yang berharga bagi perkembangan saya?
Membebaskan diri dari siklus emosional ini memerlukan perubahan pola pikir: Memahami bahwa kesuksesan yang berkelanjutan bukan datang dari melakukan segalanya, tetapi dari melakukan hal-hal yang tepat dengan baik. Dengan membangun budaya yang lebih menghargai kualitas daripada beban dan komitmen yang berlebihan, baik individu maupun organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih berkelanjutan dan memuaskan.
Choose your battles wisely because if you fight them all, you’ll be too tired to win the really important ones.
Sun-Tzu.
Referensi:
American Psychological Association. (2023). Overcommitment. In APA dictionary of psychology. https://dictionary.apa.org/overcommitment
Nagoski, E., & Nagoski, A. (2020). Burnout: The secret to unlocking the stress cycle. Ballantine Books.
Schaufeli, W. B., Bakker, A. B., & Van Rhenen, W. (2009). How changes in job demands and resources predict burnout, work engagement, and sickness absenteeism. Journal of Organizational Behavior, 30(7), 893–917.
Tulgan, B. (2020, October 10). Overcommitment syndrome leads to siege mentality at work. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/navigating-the-new-workplace/202010/overcommitment-syndrome-leads-to-siege-mentality-at-work
Weigelt, O., Seidel, J. C., Erber, L., Wendsche, J., Varol, Y. Z., Weiher, G. M., Gierer, P., Sciannimanica, C., Janzen, R., & Syrek, C. J. (2023). Too committed to switch off—Capturing and organizing the full range of work-related rumination from detachment to overcommitment. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(4), 3573.