ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 26 Januari 2025

 

Peran Keterlibatan Ayah dalam Perkembangan dan Pertumbuhan Anak

Oleh:

Amanda Cellomita Rahma Putri

Program Studi Psikologi, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

 

Pertumbuhan adalah proses perubahan secara kuantitatif, yaitu proses perubahan yang dapat dilihat secara fisik, seperti perubahan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lain-lain. Sedangkan, perkembangan adalah proses perubahan secara kualitatif yang meliputi tahap sosio-emosional, kognitif, sosial, dan sebagainya. Keterlibatan   ayah   dalam   mengasuh   anak sangat perlu dilakukan untuk kebaikan perkembangan  anak. Ketika  anak  berada  dekat dengan ayahnya, seorang anak selalu dalam perasaan  aman,  bahagia,  nyaman,  dan  senang apabila  ayah  memberikan  semua kebutuhan anaknya dengan rasa ikhlas dan tulus (Syafiqoh & Pranoto, 2022: 523).

Casey menyatakan bahwa “fathering sebagai praktik mencintai, melatih, dan menjadi teladan sebagai hal yang mendasar bagi seorang ayah hingga seorang ayah tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran praktik tersebut dalam kehidupan seorang ayah” (Mulyana, 2021). Sebagian besar ayah berpikir bahwa mengurus anak adalah tugas ibu. Jadi, ayah cenderung mengartikan kasih sayang terhadap anak adalah dengan memberikan nafkah atau materi. Padahal peran ayah dalam tumbuh kembang anak sangat penting dalam proses pembentukan emosi. Ayah dan ibu seharusnya saling melengkapi dalam membantu mengurus anak karena mungkin jika hanya ibu yang berperan, terdapat beberapa aspek pertumbuhan dan perkembangan yang terlewat yang sebaiknya dilengkapi oleh ayah. Namun, kebanyakan ditemui bahwa ayah yang pulang bekerja hanya melepaskan lelahnya di rumah tanpa memberikan pengasuhan yang seimbang kepada anak-anaknya.

Pada usia emas anak, ayah harus mengajarkan kepada anak cara untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi yang ada. Emosi dapat berupa bahagia, sedih, marah, takut, jijik, dan banyak lagi. Kebiasaan berinteraksi dengan ayah membuat anak menjadi pribadi yang berani, mampu menyelesaikan masalah, dan memiliki kontrol emosi yang baik. Apabila sejak masa peka atau di usia emas anak tidak mendapatkan pengertian perihal emosi, di masa dewasa, anak akan sulit untuk mengelola emosi yang dirasakan dan berisiko mencari pelampiasan yang maladaptif.

Ayah lebih sering memberikan peran fisik terhadap anak, yaitu dengan mengajaknya bermain dan mengenalkan lingkungan di luar rumah. Peran ayah tidak sekadar menjadi teman bermain, tetapi menstimulus psikis anak untuk disiplin dan bertanggung jawab. Penerapan pola disiplin mampu meningkatkan kemandirian dan cara mengelola waktu sehingga anak mampu memahami aturan dalam beraktivitas secara terarah. Disiplin tidak melulu menjadi pribadi yang keras dan kaku. Oleh karena itu, perlunya memberikan contoh yang baik-baik karena anak di masa golden age akan menirukan hal yang menurut mereka adalah suatu kebenaran.

Kedisiplinan berhubungan dengan kemandirian. Sesuai yang dinyatakan oleh Manurung (2022: 68) bahwa “kemandirian penting bagi anak dalam kaitan dengan kegembiraan anak”. Hal ini bukan hanya tentang rasa puas yang dihasilkan dari sesuatu yang berhasil ia laksanakan dan selesaikan, tetapi juga karena mampu mengekspresikan bahasa cintanya serta mendapatkan umpan balik dari lingkungannya. Kemandirian penting untuk diajarkan kepada anak karena erat kaitannya dengan tanggung jawab. Hasil dari sikap kemandirian adalah timbulnya rasa tanggung jawab sehingga keduanya saling berkorelasi. Anak yang telah diajarkan kemandirian akan memiliki sikap tanggung jawab yang lebih besar, contohnya sifat mampu menaati aturan, sopan dan santun, serta menghargai kepemilikannya. Dari kemandirian itulah kecerdasan sosio-emosional anak akan terasah.

“Ibu berperan besar pada perawatan anak, sedangkan ayah berperan pada aktivitas yang berhubungan dengan pembentukan pribadi anak” (Septiani & Nasution, 2017: 121). Pada kasus kondisi keluarga bercerai dengan ayah sebagai orang tua tunggal, peran ayah tetap diperlukan. Pendekatan ayah sebagai motivator menjadi penting supaya anak tidak merasa sendiri dan malu dengan kondisi keluarga yang tidak utuh. Afeksi yang baik seperti perhatian, memberikan rasa aman, dan membahagiakan juga mampu menjadikan anak lebih percaya diri. Peran ayah juga untuk menanamkan nilai-nilai dan moral. Meskipun anak sudah mendapatkan pendidikan moral dan agama di sekolah, ayah tetap harus mengamati perkembangan anak dengan mendisiplinkan dan menerapkan yang telah diajarkan di sekolah.

Menurut penelitian Goleman, anak yang tidak mendapatkan keberadaan ayah pada masa perkembangannya cenderung mengalami permasalahan fisik dan psikis, seperti depresi, kesulitan bergaul, dan penurunan prestasi akademik. Keberhasilan anak di masa depan ditentukan dengan peranan ayah yang positif selama mendampingi anak. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Flouri (2005), yaitu “secara jangka panjang, anak yang dibesarkan dengan keterlibatan ayah dalam pengasuhan akan memiliki prestasi akademik serta ekonomi yang baik, kesuksesan dalam karir, pencapaian pendidikan terbaik, dan kesejahteraan psikologis” (Hidayati, dkk., 2011: 3).

Anak yang memiliki kedekatan dengan ayah cenderung mampu menjalin kekerabatan dengan orang di sekitarnya dan mudah berkomunikasi. Sebaliknya, anak yang tidak dekat dengan ayah akan lebih sulit bersosialisasi dan berperilaku terarah. “Penyebab utama rusaknya sebuah generasi adalah karena ayah” (Mulyana, 2021). Hal tersebut diperkuat dengan penelitian yang menunjukkan bahwa remaja perempuan yang tidak memiliki kedekatan dengan ayah cenderung lebih cepat mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, masuk ke dalam pergaulan bebas, dan lebih mudah stres. Kenakalan remaja merupakan bentuk keberlanjutan dari perilaku asosial yang dimulai sejak masa kanak-kanak. Perilaku anak di masa remaja ditentukan dengan bagaimana pengasuhan keluarga mengenai moral sejak kecil. Anak yang mendapatkan pendidikan moral yang baik sejak kecil cenderung lebih mudah mematuhi norma yang berlaku di masyarakat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya.

Referensi:

Hidayati, F., Kaloeti, D. V. S., & , K. (2011). Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak. Jurnal Psikologi Undip, 1(9).

Harmaini, Shofiah, V., & Yulianti, A. (2014). Peran Ayah dalam Mendidik Anak. Jurnal Psikologi, 2(10).

Istiyati, S., Nuzuliana, R., & Shalihah, M. (2020). Gambaran Peran Ayah dalam Pengasuhan. PROFESI (Profesional Islam): Media Publikasi Penelitian, 2(17).

Septiani, D., & Nasution, I. N. (2017). Peran Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Bagi Perkembangan Kecerdasan Moral Anak. Jurnal Psikologi, 2(13).

Septiani, D., & Nasution, I. N. (2017). Perkembangan Regulasi Emosi Anak Dilihat Dari Peran Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan. PSYCHOPOLYTAN (Jurnal Psikologi), 1(1).

Lubis, S. (2022). Pandemi dan Era Digital: Peran Ayah terhadap Kebutuhan Pendidikan dan Psikologis Anak. Alhamra: Jurnal Studi Islam, 1(3).

Novela, T. (2019). Dampak Pola Asuh Ayah Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1(3).

Syafiqoh, I., & Pranoto, Y. K. S. (2022). Peran Keterlibatan Ayah Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana, 1(5).

Manurung, K. (2022). Menelisik Peran Ayah dalam Mengajarkan Kemandirian pada Anak. EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership, 1(3).

 

Mulyana, I. (2022). Keistimewaan Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak. CV JEJAK.